Keraguan
Di Indonesia, Semarang tidak (belum?) bisa dikatakan metropolitan, kota besar dengan segala sub-kultur di dalamnya. Saya lahir dan besar di kota tersebut, dari orang tua yang tidak pernah tinggal di kota metropolitan pula. Mereka berasal dari Solo, kota yang masih sangat kental kultur Jawa halusnya. Terakhir, saya berasal dari keluarga pekerja kelas menengah. Singkat kata, saya berasal dari keluarga Jawa yang sangat biasa saja.
Saya waktu itu masih 16 tahun, pergi merantau untuk kuliah di kota metropolitan (pertama untuk saya), Surabaya. Usia yang muda dan berasal dari terbiasa berada kultur yang lebih ‘soft’ dari Jawa Timur, membuat saya lebih ‘timid’. Saya tidak merasa mendapat banyak hal, selain tentunya pendidikan (ITS is still one damn good campus to go for academic purpose).
Untuk itulah, saya sekolah lagi. MM UGM membuat saya melakukan banyak hal dan membuat saya akhirnya menjadi pribadi yang lebih berani. Berani bermimpi, berani untuk mencapai lebih banyak lagi.
Tapi, ada berbagai keraguan terus terpikir oleh saya seiring dengan tumbuhnya banyak mimpi tersebut.
Saya berasal dari keluarga dan komunitas yang termasuk ketat dalam beragama, yakni Islam. Saya pun mengakui saya cukup ketat dalam mengamalkan agama saya. Selain sholat wajib 5 kali sehari, saya ada kewajiban untuk menghadiri pengajian terjadwal setidaknya 3x dalam satu minggu, dan hal-hal sunah lainnya yang memang sudah saya rutinkan sedari dulu. Ketatnya saya dalam mengamalkan dalam beragama ini bukan karena saya hanya mengikuti perintah orang tua saya, tapi memang saya yang ingin. Saya takut dengan Tuhan saya.
But then, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya mempunyai banyak ambisi. Dan selama saya kuliah master, saya menyadari betapa western-mindednya saya. Saya orang yang sangat terbuka mengungkapkan pikiran saya, saya suka mengetahui banyak pemikiran-pemikiran yang berbeda dari saya, dan saya eager mempelajari atau menantang diri saya melakukan banyak hal baru. Thus, ambisi saya sekarang adalah bekerja di perusahaan multinational, because I think I have the capability.
So, keraguan pertama adalah, apakah prinsip beragama saya bisa berjalan beriringan dengan ambisi saya?
Saya akui selama saya berada dalam international environment, banyak sekali hambatan dalam at least sholat wajib secara tepat waktu dan menghadiri pengajian tepat waktu dan dengan khusuk. Bersosialisasi? It’s quite hard when it’s so uncomfortable for me to stay out late, go inside bars, and of course not drinking any alcohol. One more thing, it’s also uncomfortable for me to have a physical contact with men.
Well, saya pikir saya masih bisa make it works somehow. Ya karena toh saya sudah pernah menjalaninya. Masuk kelas internasional, bergaul dengan banyak mahasiswa asing, lancar. Membuat acara-acara yang melibatkan mereka, lancar. Exchange ke Korea, oke. Internship di Bangkok, oke.
Walau memang, saat sholat dan menghadiri pengajian tidak tepat waktu, rasa bersalah dan keraguan itu akan selalu muncul kembali. But, I just need to be braver to speak up my needs, right?
Lalu, keraguan berikutnya.
See, I am such an anomaly. Saya Jawa, ekonomi menengah, ketat dalam agama, tapi saya juga S2, dan memiliki banyak ambisi, working in international environment. Who is going to marry me?
Kalau meminjam istilahnya instragrammer @eslimah
I mean - to begin with - who could ever be as much of a freako as me? But more importantly, who would have the same views? Who would become your backbone and who would help you on your journey to heaven?
Dalam circle saya, masyarakat ekonomi menengah dengan banyak berkecimpung dalam dunia agama, tidak ada (oke maybe jarang karena saya harus membuka berbagai kesempatan bukan) yang menilai saya sebagai calon istri idaman.
Banyak teman-teman lelaki saya, dari segi agama, menginginkan istri diam di rumah mendidik anak dan melayani suami. Tidak banyak keluar rumah. It’s gonna be so uncomfortable for me.
Juga, tidak dipungkiri, banyak pula laki-laki dalam circle saya, secara akademis, minder dengan pencapaian saya.
Thus, I think I need a much bigger circle. Circle yang menerima perempuan mencapai banyak hal, tapi I also need the men to be as strict as I am. But then, how? Let just the time reveals all God’s secret.
In the end, saya masih akan tetap bersyukur atas apa pun yang Allah berikan pada saya. Dan apalah saya ini? Yang saya bisa hanya lakukan adalah berdoa.











