Menjelang Pernikahan #3: Menghadapi Ketakutan-Keraguan
Pernikahan bagiku adalah hal yang sakral. Menjalani ibadah dengan harapan sekali seumur hidup. Hidup bersama pasangan yang Allah pilihkan hingga akhir hayat. Aku pernah memandang pernikahan sebagai suatu hal yang paling membahagiakan. Bisa hidup bersama orang yang yang bisa mendukung impian-impian kita, saling mencintai dan menyayangi setiap hari. Namun suatu waktu aku tersadar bahwa pernikahan bukan hanya soal bahagia mencintai dan menyayangi. Pandanganku terhadap pernikahan berubah. Layaknya hidup, dalam pernikahan pun ada asam garam pahit getir yang akan dilalui. Ada ujian yang harus dihadapi bersama, semoga ujian yang membuat pribadi masing-masing naik tingkat.
Aku gak pernah menyangka akan menikah dengan laki-laki yang baru ku kenal setahun. Itu pun gak tinggal di kota yang sama. Aku sejak kecil hidup di Jakarta dan dia saat itu hidup di Jogja, dipertemukan di satu tempat kerja, menjadi rekan kerja, kemudian dia resign, lalu aku dan dia menjadi teman, memutuskan untuk mengerjakan project menulis bersama, hingga Allah menggerakkan hatiku dan hatinya untuk proses menuju pernikahan.
Butuh waktu untuk yakin dengan jalan ini. Segala keraguan dan ketakutan dalam proses ini hilang muncul. Ketika keraguan itu datang, aku berdo’a, memasrahkan segala proses ini pada Allah. Jika memang dia laki-laki yang baik untukku, agamaku, kehidupanku, maka mudahkanlah. Jika dia bukan laki-laki yang baik untukku, agamaku, kehidupanku maka palingkanlah aku darinya, palingkan dia dariku, dan berikan aku keridhaan menerima takdir-Mu.
Rasa percayaku akan kekuatan do’a semakin bertambah ketika segala sesuatunya benar-benar berjalan di luar kuasaku. Sepertiga malamku perlahan menjadi nyata, apa yang aku titipkan pada Pemilik Langit didengarkan dengan baik. Bahwa aku ingin diminta dengan cara baik-baik, dengan proses baik-baik, dan bersama orang baik-baik.
Ternyata apa yang aku cari sebenarnya tidak pernah berada di tempat yang jauh, tidak juga disembunyikan di tempat yang tersembunyi. Maka pencarianku berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan hingga sekarang. Namun, katanya banyak orang yang kemudian bisa bertemu dengan pasangan hidupnya, pernah merasakan momentum tersebut.
Momentum di saat keikhlasan dan kerelaan seorang manusia atas kehendak-Nya, atas takdir-Nya. Keberserahan yang membuat mata hati seorang manusia menjadi lebih terbuka, hati yang lebih peka dalam melihat petunjuk-Nya, juga keyakinan yang menyeruak seketika saat bertemu dengan seseorang.
Ketika jalan ini kami tempuh, masing-masing dari kami sudah harus paham bahwa mau tidak mau, menerima satu sama lain juga harus menerima konsekuensi selanjutnya. Menerima dia, bersepakat dengannya, berarti juga harus bersepakat dengan keluarga besarnya, teman-temannya, hobinya, dunianya, pekerjaannya, segala hal tentangnya baik dari dalam maupun luar dirinya.
Proses ini membuatku sadar bahwa memperbanyak do’a salah satu cara yang tepat mengisi penantian panjangnya sebuah penantian, selain tetap berikhtiar.