Mungkin kita beruntung karena hidup di Indonesia, suatu tempat yang sering disebut surga dunia, nusantara, nuswantara, swarna dwipa, dan berbagai istilah lain. Alasan itulah yang mungkin mendasari kita menjadi satu-satunya manusia yang mempelajari banyak bahasa. Secara tidak sadar, semenjak kita dilahirkan ke nusantara ini, kita akan diperkenalkan dengan bahasa ibu. Bahasa ibu itulah yang menjadi dasar kita untuk mengenali orang tua kita, mengenal sekitar kita, bahkan berteman dengan lingkungan sekitar.
Bahasa ibu biasanya mengadopsi dari budaya dan kearifan setempat sehingga sebagian besar menggunakan bahasa daerah. Bahasa itupun kita pergunakan untuk bergaul dengan teman sepermainan hingga percakapan sehari-hari dengan masyarakat sekitar. Cepat atau lambat, kita pun mengenal dunia sekolah yang mengharuskan kita untuk bisa memahami bahasa pengantar pendidikan, yaitu bahasa Indonesia. Dunia pendidikan pun mengenalkan kita pada satu bahasa pada tingkat internasional, yaitu bahasa Inggris. Beruntunglah jika sempat mengenyam dunia madrasah karena kita juga akan mengenal bahasa Arab sebagai pengantar sebagian besar keilmuannya.
Keempat bahasa itulah yang kemudian membentuk dan mempengaruhi kita dalam berkomunikasi dengan masyarakat serta dunia formal. Lalu lahirlah istilah keminggris, kemlanda, kemarab. Ketiga istilah tersebut lahir karena kebiasaan berkomunikasi yang bertentangan dengan kelaziman budaya kita sebagai masyarakat nusantara.
Menurut hemat saya,
keminggris /kəmiŋɡrɪs/, adalah suatu istilah untuk menyebut perilaku pencampuradukkan antara bahasa Jawa dengan bahasa Inggris secara tidak tepat dan berlebihan.
kemlanda /kəmlɔndɔ/, yaitu suatu perilaku yang terlalu memandang Eropa sebagai pusat dari segala sesuatu.
kemarab /kəmɑrɑb/, yaitu suatu perilaku yang terlalu memandang Arab sebagai pusat dari segala sesuatu.
Namun, terdapat satu istilah yang dipopulerkan oleh masyarakat ibukota, yaitu medhok. Apa itu definisi medhok?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
me.dok2 /məɖɔʔ/
a Jk agak pekat dan kental karena banyak bumbunya (tentang kuah, gado-gado)
a Jk kentara sekali aksen daerahnya: ucapannya masih -- sekali
Menurut Educalingo Javanese Dictionary,
mêdhok /məɖɔʔ/
[krama-ngoko] êmpuk padha nglinyam marga diêkum ing banyu;
(~ atine) [pacêlathon] bungah, sênêng.
Apakah kita tidak diperbolehkan medhok? Itu merupakan pertanyaan umum yang dipendam dalam hati bagi sebagian masyarakat daerah (baca: Jawa) yang dianggap medhok dalam berkomunikasi oleh masyarakat ibukota. Jika memang nusantara ini terbentang dari Sabang sampai Merauke, lantas mengapa kita seakan dicemooh jika medhok? Mungkin kita seharusnya malah berbangga sebagai masyarakat yang dicap medhok. Namun, hal itu bisa saja berbanding terbalik dengan kenyataan karena masyarakat ibukota sudah terlanjur menempatkan kata medhok itu sebagai bahan cemooh, hinaan, dan makian.
Mungkin suatu saat, masyarakat ibukota juga harus mengetahui dan memahami bahwa suatu masyarakat akan memiliki ikatan primordialisme dan etnosentrisme yang kuat tanpa harus mencemooh sesama saudara nusantara yang lain. Kebanggaan itu akan mempererat persatuan dan kesatuan kita, juga sebagai kekuatan untuk melawan arus-arus yang membawa nusantara untuk melupakan jati diri sebagai bangsa.
Ada salah satu tulisan yang sangat menginspirasi saya untuk menyipaki fenomena medhok ini:
Salah satu penyebab yang membuat saya ingin segera melihat ibukota Indonesia pindah ke Pulau Kalimantan adalah agar masyarakat ibukota memahami bahwa superioritas budaya mereka akan segera tergantikan oleh budaya yang lain.
Karena jalanya lendet makanya ga bisa take dari depan. Cuma dapet ekornya doang tapi gak papa lah ya :-D hags hags hags... #suara terakhir bikin ngekel.. #medok jowo banget #hags hags hags (di Stasiun Kereta Api Brumbung Semarang)