Dokumentasi Pribadi ketika Silaturahmi SMAN 1 Blitar Tahun 2011
Apakah kita sebagai masyarakat yang tinggal dan dibesarkan di Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Daerah Istimewa Yogyakarta pernah merasa dicap medhok ketika menyebutkan suatu nama daerah? Fenomena umum tersebut terjadi ketika kita sedang berkomunikasi dengan rekan kantor, teman kuliah, ataupun saudara yang tinggal di ibukota. Lalu, pertanyaannya apakah kita harus malu dan mengubah logat penyebutan tempat itu ke dalam logat ibukota?
Begini, kita analogikan dengan belajar bahasa Inggris. Menurut Anda bagaimana cara yang tepat untuk mengucapkan kata Scotland, Washington, California, dan Wales? Ketika Anda mengeja kata tersebut sekehendak logat Jawa kita, pasti rekan Anda yang fasih berbahasa Inggris akan segera mengejek, memarahi dan membenahi cara pengucapan kita tadi. Mungkin jika Anda agak malas untuk membenahi pengucapan, Anda akan mengejek rekan Anda dengan sebutan keminggris.
Hal tersebut juga terjadi pada pronunciation bahasa Jawa. Sebenarnya hal yang terjadi adalah kebanyakan orang tidak memahami budaya Jawa dalam menyebutkan dan mengeja nama tempat dalam bahasa Jawa tentunya. Ke-medhok-an yang ditimpakan kepada kita sebenarnya merupakan suatu kelaziman yang tidak perlu dipermalukan, kalau bisa justru kita bangga kepada orang yang mengejek kita.
Menurut kearifan lokal, kita sebagai masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, serta Daerah Istimewa Yogyakarta terbiasa untuk menambahkan suara semu /n/ atau /m/ pada penyebutan tempat. Namun hal itu tidak berlaku untuk nama tempat yang diawali dengan vokal maupun konsonan sebagai berikut.
(Notasi vokal/konsonan yang ada merupakan notasi berbasis fonetik IPA)
/ʧ/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /r/, /s/, /t/, /w/, /j/
/f/,/v/,/z/ (karena pasti berasal dari bahasa serapan/asing)
/h/ (karena diperlakukan sama dengan huruf vokal)
Nama dalam bahasa Jawa biasanya akan disebutkan sesuai dengan konvensi di atas. Mengapa saya sebut konvensi? Karena peraturan tersebut belum pernah diresmikan sebagai pedoman atau peraturan kebahasaan. Peraturan tersebut timbul akibat adanya kebiasaan kultural dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa.
Contoh:
Désa Gedog, diucapkan /desɔ ŋɡəɖɔɡ/
Désa Banjarsari, diucapkan /desɔ mbɑnʤɑrsɑri/
Kelurahan Jati, diucapkan /kəlurɑhɑn nʤɑti/
Kecamatan Purwakerta, diucapkan tanpa awalan semu /kəcɑmɑtɑn purwɔkərtɔ/
Kutha Semarang, diucapkan tanpa awalan semu /kuʈɔ səmɑrɑŋ/
Kabupatèn Bojanegara, diucapkan /kɑbupɑtɛn mboʤɔnəɡɔrɔ/
Kabupatèn Rembang, diucapkan tanpa awalan semu /kɑbupɑtɛn rəmbɑŋ/
Jadi, marilah berlogat Jawa tanpa takut malu karena itu adalah jati diri kita sebagai bagian dari nusantara. Sekian dan terima kasih.
SURAU.CO – Bahkan Ironisnya Masih Banyak Salah Pelafalan, Meskipun Sudah Bertahun-tahun Belajar Bahasa Inggris – Berikut Penjelasannya;
OVERVIEW
Sudah puluhan tahun bahasa Inggris diajarkan di sekolah, bahkan sebagian orang Indonesia telah mengikuti berbagai kursus, menonton film tanpa subtitle, dan berlatih berbicara setiap hari. Namun, ketika berbicara di forum internasional, logat lokal…
Mungkin kita beruntung karena hidup di Indonesia, suatu tempat yang sering disebut surga dunia, nusantara, nuswantara, swarna dwipa, dan berbagai istilah lain. Alasan itulah yang mungkin mendasari kita menjadi satu-satunya manusia yang mempelajari banyak bahasa. Secara tidak sadar, semenjak kita dilahirkan ke nusantara ini, kita akan diperkenalkan dengan bahasa ibu. Bahasa ibu itulah yang menjadi dasar kita untuk mengenali orang tua kita, mengenal sekitar kita, bahkan berteman dengan lingkungan sekitar.
Bahasa ibu biasanya mengadopsi dari budaya dan kearifan setempat sehingga sebagian besar menggunakan bahasa daerah. Bahasa itupun kita pergunakan untuk bergaul dengan teman sepermainan hingga percakapan sehari-hari dengan masyarakat sekitar. Cepat atau lambat, kita pun mengenal dunia sekolah yang mengharuskan kita untuk bisa memahami bahasa pengantar pendidikan, yaitu bahasa Indonesia. Dunia pendidikan pun mengenalkan kita pada satu bahasa pada tingkat internasional, yaitu bahasa Inggris. Beruntunglah jika sempat mengenyam dunia madrasah karena kita juga akan mengenal bahasa Arab sebagai pengantar sebagian besar keilmuannya.
Keempat bahasa itulah yang kemudian membentuk dan mempengaruhi kita dalam berkomunikasi dengan masyarakat serta dunia formal. Lalu lahirlah istilah keminggris, kemlanda, kemarab. Ketiga istilah tersebut lahir karena kebiasaan berkomunikasi yang bertentangan dengan kelaziman budaya kita sebagai masyarakat nusantara.
Menurut hemat saya,
keminggris /kəmiŋɡrɪs/, adalah suatu istilah untuk menyebut perilaku pencampuradukkan antara bahasa Jawa dengan bahasa Inggris secara tidak tepat dan berlebihan.
kemlanda /kəmlɔndɔ/, yaitu suatu perilaku yang terlalu memandang Eropa sebagai pusat dari segala sesuatu.
kemarab /kəmɑrɑb/, yaitu suatu perilaku yang terlalu memandang Arab sebagai pusat dari segala sesuatu.
Namun, terdapat satu istilah yang dipopulerkan oleh masyarakat ibukota, yaitu medhok. Apa itu definisi medhok?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
me.dok2 /məɖɔʔ/
a Jk agak pekat dan kental karena banyak bumbunya (tentang kuah, gado-gado)
a Jk kentara sekali aksen daerahnya: ucapannya masih -- sekali
Menurut Educalingo Javanese Dictionary,
mêdhok /məɖɔʔ/
[krama-ngoko] êmpuk padha nglinyam marga diêkum ing banyu;
(~ atine) [pacêlathon] bungah, sênêng.
Apakah kita tidak diperbolehkan medhok? Itu merupakan pertanyaan umum yang dipendam dalam hati bagi sebagian masyarakat daerah (baca: Jawa) yang dianggap medhok dalam berkomunikasi oleh masyarakat ibukota. Jika memang nusantara ini terbentang dari Sabang sampai Merauke, lantas mengapa kita seakan dicemooh jika medhok? Mungkin kita seharusnya malah berbangga sebagai masyarakat yang dicap medhok. Namun, hal itu bisa saja berbanding terbalik dengan kenyataan karena masyarakat ibukota sudah terlanjur menempatkan kata medhok itu sebagai bahan cemooh, hinaan, dan makian.
Mungkin suatu saat, masyarakat ibukota juga harus mengetahui dan memahami bahwa suatu masyarakat akan memiliki ikatan primordialisme dan etnosentrisme yang kuat tanpa harus mencemooh sesama saudara nusantara yang lain. Kebanggaan itu akan mempererat persatuan dan kesatuan kita, juga sebagai kekuatan untuk melawan arus-arus yang membawa nusantara untuk melupakan jati diri sebagai bangsa.
Ada salah satu tulisan yang sangat menginspirasi saya untuk menyipaki fenomena medhok ini:
Salah satu penyebab yang membuat saya ingin segera melihat ibukota Indonesia pindah ke Pulau Kalimantan adalah agar masyarakat ibukota memahami bahwa superioritas budaya mereka akan segera tergantikan oleh budaya yang lain.
n kata (dalam arti yang sebenarnya): terjemahan menurut -- (kata demi kata)
n dialek: -- Jakarta
n cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah yang khas: menilik --nya, dapat dipastikan bahwa ia berasal dari Medan
n perbendaharaan kata: kata ini tidak terdapat dalam -- Melayu
n kamus: kitab -- Melayu[1]
di.a.lek /dialɛk/
n Ling variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu)[2]
Menjadi mahasiswa di Surabaya merupakan suatu keunikan tersendiri. Saya merasakan keanehan ketika berbicara menggunakan bahasa Jawa kepada teman-teman kampus. Hal tersebut lumrah terjadi karena saya terbawa dIalek Blitar (Mataraman) dan teman-teman saya menggunakan dialek Surabaya (Arèkan). Tentu jika diingat pasti saya sudah menjadi bahan bully dan ledekan teman-teman seangkatan.
Mungkin di sini terlepas dari kapabilitas saya di bidang linguistik, saya mohon izin untuk memaparkan contoh dialek di Jawa Timur berdasarkan pengalaman empiris pribadi saya.
Contoh:
Bahasa Jawa Formal (Surakarta): “Aku arep njupuk buku sésuk ing omahmu.”
Dialek Mataraman (ngoko): “Sésuk takjupuké bukuné neng omahmu.”
Dialek Arèkan (ngoko) : “Mené bukuné takjupuké ndhuk omahmu.”
Dialek Bojanegaran (ngoko): “Sesuk bukuné takjupuk nok omahem.”
Sebenarnya masih ada lagi logat/dialek lain dan sub-dialek yang ada di Jawa Timur. Untuk dialek lainnya yang ada di Jawa Timur, dibahas selanjutnya jika ada kesempatan.
- one of the main characters is a dick - the other one is an idiot - the already instated elders are excommunicated/british/[insert arbitrary quirk here] - they're all 2 edgy 4 you - the district leader is the only adult - there's at least two fuckboi elders - theres a quirky, naive girl character (or two) - someone says something in the native language that is implied to mean something mundane and normal but is actually sexual and/or meta - the dick one becomes progressively more dickish (especially towards the poor idiot one) - references to the ugandan mission - "we must be the most unsuccessful missionaries E V E R" - the idiot one smacks reality into the dick one - somebody inadvertently makes the obvious sex position joke - more references to the uganda mission - a reference to one of @trick-r-treason's headcanons - Satirical queer baiting - Inexplicable hamilton references??? - dick one has a bout of self-doubt and depression that is probably deserved but admittedly sympathetic - the idiot one was right all along - the idiot one leaves - it's all told from the dick's perspective