Membicarakanmu
Aku terlalu takut untuk memulai, meramu sebaris tanya tentang hati yang suaranya berdering pilu. Katanya, ia mau selalu dekat denganmu. Dalam berbagai momen. pada setiap waktu yang diberikan Tuhan. Tapi aku enggan mengiyakan. Bukankah jika suara hati seperti itu, ia hanyalah sebatas nafsu, dan bukan murni isi nurani. Kamu siapa? Aku siapa? Kita hanya dipertemukan Tuhan di perjalanan. Saling mengenal pun tersebab ada yang memulainya. Aku mengakui, aliran rasa berperan penting pada setiap pembicaraan yang kita rancang sedemikian rupa. Aliran rasa yang warnanya menyerupai senja bertabur pelangi. Dan entah ini kali ke berapa aku ingin melihatmu lebih lama dari biasanya. Andaikata ketidakpedulian menyambangi jiwa, mungkin saja aku nekat membunuh suara hatiku sendiri. Melihatnya lebih lama, setelah itu mengiriminya pesan-pesan bertema sapaan lembut selamat malam mungkin, atau sekadar bertanya kabar, pun menautkan tentang buku-buku kesukaan. Ahh, bukankah semua itu sudah lewat masanya. Kini, aku harus mendengarkan suara hati yang nada positifnya terkesan terkalahkan oleh bisikan sebaliknya dari deru bising nafsu dalam dada. Sekejap aku ingat, bahwa keseriusan itu harus selalu diabadikan. Jika belum siap mendekat, maka lebih baik menjauh sejauhnya, pun menghilang tanpa jejak. Kamu tahu kan, tidak ada keseriusan rasa berbentuk cinta melainkan harus diantarkan lewat pintu rumahnya. Diceritakan bagaimana keyakinan kita mengajukan diri menjadi calon suami sekaligus ayah untuk anak-anaknya kelak. Dan tidak hanya itu, semua harus dilengkapi dengan persetujuan orang tuanya. Lalu, haruskah aku utarakan setiap helai rindu yang berjatuhan pada tulisan-tulisanku. Sepertinya tidak perlu. Lambat laun pasti kamu tahu. Nanti, ketika aku sudah mampu mengalahkan rasa takutku untuk mengenalmu lebih jauh. Sejauh diamnya doaku menembus langit-langit di sepinya malam. Mendoakanmu. Membicarakanmu dengan Tuhan. Jakarta, hari ke 26 bulan April 2015 -- Faris








