Bagaikan jiwa yang terpisah.
Mati enggan hidup pun susah.
Seperti biasa setiap pagi aku terbangun dan menyuguhkanmu kopi yang ku tahu rasanya tetap saja pahit walau kuberi gula berkali-kali. Kubilang kebiasaan hidupmu itu sungguh tak baik, namun kau acuh seakan nasehatku hanya segumpal angin yang melewati lubang telingamu.
Di dalam hatiku ada banyak sekali tanya.
Kenapa harus kamu yang menjadi bagian penting dalam hidupku?
Mengapa hidupku selalu saja di tekan rasa bersalah padahal yang harus merasakannya adalah dirimu?
Seperti aku setiap hari ingin mengakhiri ini semua dengan kematian, tapi ayah.. Aku terlalu takut untuk terpisah dengan dunia. Ada kematian yang berkali-kali kuhampiri, namun berkali-kali jua aku dihidupkan kembali.
Jiwanya tlah lama di renggut waktu.
Katanya "hatiku tlah lama terbelah, bagai cangkang kosong terpisah."
Ragaku ada disini tapi hati ku bersamamu.
Ia hidup dengan selayaknya. Hanya ada, mengambil peran namun bukan sebagai orang tua.
Wajahku nyaris terbias ceria setiap hari, tapi nyatanya hanya ada patahan demi patahan berserakan di dalam sana. Jiwaku di dalam, namun ada bagian yang kosong disana. Ada bagian ganjil yang belum tergenapi dan yang kutahu karena beliau tak ada di dalamnya.
Bagiku jiwanya sudah lama menghilang terbakar bersama kenangan buruk yang telah lama tertinggal. Ia tak benar-benar ada disini bersamaku meskipun raga selalu berada di sekitar.
Tak perduli se-sekarat apa keadaanku.
Tak seberdarah dan sedalam apa lukaku.
Tak perduli dan mungkin akan selamanya begitu.
Ragamu hanya sebatas ada tapi tidak untuk melengkapi kekosongan sosok ayah di hati ini. Kata kedua saudaraku namanya tak lagi layak ada di hati anak-anaknya. Mendengar itu ternyata hatiku tetap saja mampu merasa sakit.
Bagaimana mungkin nama seorang ayah dan sosoknya yang begitu lekat di dalam hatiku dapat kuanggap kasat. Ia adalah sosok yang sangat aku banggakan seburuk apapun hati yang ia miliki, aku tetap saja menyayanginya dengan sangat.
Bukan maaf yang ku minta.
Ada banyak sekali rasa sakit yang ia goreskan pada ingatan dan hati anak-anaknya, tapi bagiku kata maafnya tak lagi penting untuk didengar. Luka itu terlalu dalam untuk dapat di sembuhkan hanya dengan ucapan maaf. Bahkan sekalipun ia harus melukai tubuhnya sendiri, luka itu tak akan dapat dibalas setimpal.
Ada sebidang peluk yang selalu ku rindukan setiap kali aku merasa takut. Ada sebidang peluk yang selalu menjadi obat dalam setiap luka, yang nyatanya sekarang tak lagi ku inginkan.
Ini cerita tentang rumah yang berbeda dan berjarak jauh.
Hanya tersentuh dalam jarak doa.
Dalam diam kan ku bawa mendarah.
Tidak ada lagi rumah bagiku untuk pulang.
Tidak ada lagi rumah yang nyaman dan hangat.
Caraku untuk sembuh adalah dengan pergi jauh meninggalkan rumah. Berjarak sejauh yang kubisa hanya untuk menyembuhkan luka di hatiku. Alasan yang akan selalu kucari hanya untuk pergi jauh dan tak lagi melihat wajah itu.
Ini hatiku yang terlalu rapuh.
Namamu seakan tak pernah muncul ke permukaan ketika aku memilih pergi meninggalkan rumah.
Ini hatiku yang pernah sebegitu dalamnya terluka.
Pergi jauh dan terpisah jarak darimu adalah cara untuk sembuh sementara.
Agar aku tak perlu lagi mendengar namamu di setiap kesempatan.
Agar aku tak perlu mengingat nama yang melukai dengan sangat dalam.
Namamu hanya akan tumbuh sebagai seorang yang pernah ada dalam kisah baik dan burukku.
Tapi tidak untuk ku ceritakan dengan rasa bangga pada siapapun.
Setidaknya ada cerita dimana ada..
Setidaknya ada cerita dimana namamu pernah sangat baik dalam kenangan masa kecilku.
Setidaknya kamu pernah menjadi versi terbaik bagiku.
Kamu pernah menjadi kenangan terbaik saja cukup, namun menghilang juga tak apa bagiku.