we're not kids anymore.
Misplaced Lens Cap

★
Noah Kahan
ojovivo
todays bird
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature
untitled

izzy's playlists!
No title available

@theartofmadeline
Not today Justin
$LAYYYTER
One Nice Bug Per Day
The Bowery Presents

pixel skylines
will byers stan first human second
art blog(derogatory)
seen from India
seen from United States
seen from Bangladesh

seen from Kenya
seen from Philippines

seen from United States
seen from Iraq
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Italy
seen from Gabon

seen from Saudi Arabia

seen from Saudi Arabia
seen from Pakistan

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States
@lyrarch
Kesedihan bisa dibagi, kesabaran tidak.
Ada kutipan yang sempat lewat di linimasa, katanya, "kalau kamu lagi struggle kerja, ceritanya sama yang lagi kerja. Kalau lagi struggle skripsian, ceritanya sama yang lagi skripsian. Kalau udah nikah, ceritanya sama yang udah nikah." Dan seterusnya.
Kupikir itu menarik soalnya kalimat itu (kayaknya) lahir dari kesadaran bahwa orang-orang lebih gampang saling ngerti kalau ada di struggle yang sama atau di jalur kesabaran yang sama. Karena level understanding-nya nggak jauh beda, kemungkinan untuk disepelekan, disalahpahami, atau di-judge itu jadi kecil.
Ungkapan untuk empati sering banget kita denger, kayak, "I'm happy for you," atau "I'm sorry for you" dan semacamnya. Kita bisa marah untuk orang lain. Kita bisa ikut sedih atas nestapa orang lain meski kita nggak mengalaminya. Tapi kita nggak pernah bisa ikut bersabar atas ujian orang lain yang nggak sedang kita hadapi. Kita nggak pernah benar-benar bisa memikul beban ujian orang lain. Dan orang lain pun nggak bisa melakukannya untuk kita.
Karena nggak ada yang bisa melangkah menggantikan kaki orang lain, hal terbaik yang bisa dilakukan mungkin cuma menemani, menguatkan, dan mendoakan. Soalnya tetep aja, yang berdiri di garis depan mah, orang itu sendiri. Yang bernegosiasi dengan rasa pahit setiap malam dan bangun untuk melanjutkan hidupnya, tetap orang itu sendiri.
Kesedihan mencari telinga. Kesabaran menuntut punggung. Dipikir-pikir pahit dan getir. Mungkin karena itulah orang-orang yang sedang diuji terbiasa menengok ke belakang alias melihat orang-orang yang pernah sampai lebih dulu, "oh, ternyata bisa ya dilewati."
Bahkan kadang kalimat "sabar ya," bisa terdengar menyebalkan ketika keluar dari orang yang nggak sedang memikul ujian itu. Terlalu ringan untuk beban yang sedang berat-beratnya. Aku sampai sadar, betapapun seseorang jago akrobat diksi, perasaan getir dan pahitnya mah cuma bisa dijembatani oleh orang yang pernah di titik yang sama.
Yang bikin sabar kerasa makin berat juga karena sebagian besar ujian susah didekati/di-approach secara kognitif. Maksudnya, nggak bisa dijelasin dengan sebab-akibat yang rapi. Terlalu banyak variabel luar yang nggak bisa dikontrol dan dipelajari, belum lagi kalau ada hidden variabel. Terlalu banyak yang bahkan nggak kita tau harus mulai dipikirin dari mana. Logika juga udah cape duluan kali.. karena mentok di tengah jalan. Dalam beberapa momen, pikiran sampai nggak cukup kuat untuk menopang hati.
Terus apa yang bisa kita andelin di titik itu?
Iman emosional (ini mah terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya cenderung afektif juga fluktuatif. Kalau sering denger orang Sunda mah, bilangnya, "muntang ka Allah." Semacam.. kepercayaan karena ingin ditemani Allah aja. Entah kenapa, selalu ada rasa aman saat punya kebergantungan semacam ini, meski nggak paham, lagi di bawa kemana atau mau ditunjukkin apa sama Allah. Di sisi lain, iman rasional (ini juga terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya kognitif bukan berarti nggak guna. Itu juga justru jadi jangkar buat kita tetep waras.
Sebagai orang yang gampang marah/sedih untuk orang lain, aku akhirnya cuma bisa bayangin, "berapa lama ya orang ini udah sabar?" Soalnya si gue mah pasti bebeledagan. Misal hari ini gue day 1 bersabar, besoknya pasti bukan day 2, tapi ngulang lagi day 1 karena gagal sabar di hari pertama wkwk.
Lebih tinggi dari empati, aku ingin sekali menaruh hormat pada orang-orang yang tetap menghormati ketetapan dari Tuhannya, betapapun ujian itu terasa seperti menggenggam bara api. Karena kalau aku yang di posisi itu, belum tentu bisa.
Hormat juga berarti aku sadar batas bahwa perjuangan sebagian orang nggak minta ditafsirkan, apalagi dijadiin pelajaran cepat saji. Selain itu, juga berarti membiarkan seseorang memikul ujiannya dengan caranya sendiri, tanpa aku paksa masuk ke dalam kerangka pikirku.
Sejujurnya dengan ini, jadi ngerti struggle-nya Hajar. Pahit dan getirnya mungkin nggak kerasa heroik atau spektakuler seperti ibadah-ibadah aktif lainnya kayak perang atau dakwah. Tapi bayangin, di gersangnya hari-hari tanpa pengakuan, Allah sendiri yang menghargai kesabaran itu. Kalimat Hajar pun jadi nyata, "sungguh Allah takkan menyia-nyiakan iman kami."
Aku tahu, ke depannya, cepat atau lambat, struggle-ku juga akan semakin berat. Semoga Allah tetap karuniakan rahmat berupa ketenangan dan kesabaran di titik itu, meski akan ada banyak hal yang nggak masuk akal. Soalnya menurutku kesabaran adalah topik yang cukup susah didekati secara kognitif kalau aku belum ngerasain itu. Beda dengan hal-hal lain yang kupikir masih relatif mudah. Dan bahkan mungkin kalau udah ngerasain, aku nggak perlu lagi terlalu ngeteoriin sabar.
Untuk siapapun yang sedang diuji, dengan hormat, Giza ingin bilang, "seperti doa Ismail, mudah-mudahan Tuhan mendapatimu, serta kau mendapati dirimu sendiri, sampai akhir, termasuk orang-orang yang sabar. Dan mudah-mudahan pahala dan kebaikanmu memanjang di dalam waktu, seperti buah kesabaran Hajar."
Kalimat itu, mudah-mudahan berguna juga untukku jika diuji dengan yang lebih berat daripada hari ini.
Mari saling menjaga agar perjuangan orang lain tidak kita perkecil hanya karena kita tidak hidup di tubuhnya. Mari saling menyertai dan menjadi agen tawashou bilhaq wa tawashou bisshabr untuk satu sama lain. Lagi-lagi, dunia sudah kejam dan (selain Allah) kita hanya punya satu sama lain untuk selamat.
— Giza, menghormati perjalanan hidup manusia lain.
Luka Batin yang Ditunggangi Setan
Aku pernah baca quote dari Carl Jung yang bagus banget. Katanya, "masalah-masalah terbesar dalam hidup pada dasarnya tidak dapat dipecahkan dan hanya dapat diatasi melalui tingkat kesadaran yang baru."
Analogi garam dan segelas air bisa mewakili konteks ini, which is kalau kita masukkan segenggam garam ke dalam segelas air, rasanya bakal sangat asin. Tapi kalau garam yang sama dimasukkan ke dalam danau, rasanya hampir nggak kerasa. Artinya emang nggak semua masalah benar-benar diselesaikan (di analogi itu, garamnya nggak berkurang), tapi kita yang bertumbuh melewatinya sehingga kita lebih besar dari masalah itu dan akhirnya masalah itu nggak matter dan mendesak lagi.
Masalahnya, nggak semua orang punya kesediaan, kesiapan, dan daya untuk meluaskan diri atau diluaskan oleh Allah. Sehingga masalahnya terkesan itu lagi itu lagi, nggak kelar-kelar.
Aku nggak sedang mengecilkan luka batin atau masalah yang dialami tiap-tiap manusia ya, karena aku tau setiap orang mengalami takarannya masing-masing yang unik dan khas, sehingga tempo batinnya pun bakalan beda-beda. Nah dalam proses itu, kalau seseorang emang bener-bener gak mau menyerahkan diri dan bergantung ke Allah, setan bisa masuk sebagai oportunis yang memperbesar, memelintir, dan mengarahkan luka.
Kita bisa liat kenyataannya bahwa banyak sekali yang memilih tak bertuhan melalui jalur emosional dan kemudian melogikakan pilihannya/kemungkarannya. Atau memilih jalur-jalur haram seperti:
karena duka fatherless, jadi alasan untuk melampiaskan ke lawan jenis melalui pacaran/zina
karena dendam/iri/dengki, melakukan ritual ilmu hitam untuk menjatuhkan orang lain
karena ujian kemiskinan, jadi bersekutu dengan iblis untuk jadi kaya, atau melakukan kriminalitas
Aku nggak bermaksud menyinggung siapapun. Ini pure hikmah yang aku peroleh dari sebulan lebih menyimak penelusuran di channel youtube Kisah Tanah Jawa. Harus kuakui, pikiranku baru terbuka bahwa manusia bisa sejahat itu demi nafs ammarahnya. Dan gak expect pelakunya sebanyak itu di dunia ini. Dan nggak ada akhir yang baik dari orang yang wafat dalam keadaan menjadi budak nafsunya.
At the end, setan nggak pernah membiarkan kita mendapatkan manfaat dari Al-Qur'an, dari sholat kita, dari silaturahmi kita, dan dari hal-hal baik yang kita lakukan. Makanya kemudian, sebuah kalimat dari Ust. Faizar (praktisi ruqyah) cukup membuatku termenung.
"Milikilah kesadaran uluhiyah. Kesadaran terstruktur bahwa kita cuma hamba dari Allah saja. Kita hanya tunduk pada Allah saja."
—lalu kulanjutkan, "Bukan hamba penyakit, hamba obat, hamba dari masalah, hamba kepribadian, hamba pandangan manusia, hamba trauma, maupun hamba anxiety, dan lainnya."
Di situ posisinya Ust. Faizar sedang menangani kasus perempuan yang sedang dilemahkan setan karena penyakit hati orang lain kepadanya, sekaligus perempuan itu sendiri punya luka batin yang tak terselesaikan yang menjadi kendaraan setan untuk melemahkannya.
Karena emang nggak bisa disangkal, luka batin yang ditunggangi setan bisa bikin manusia learned helplessness (merasa nggak punya kontrol atas dirinya, sampai akhirnya bahkan berhenti mencoba). Mirip dengan siapa ya kalo udah berputus asa dari rahmat Allah? Yes, iblis (balasa).
Dalam hal ini, aku juga jadi mendalamkan makna bahwa ketika orang-orang menyuruh sholat tuh sebenernya outcome-nya bukan auto sembuh. Kalo buatku sendiri akhirnya sholat tuh sebagai pembuktian bahwa aku bukan hamba dari apa-apa yang melemahkanku. Aku hamba dari hanya Allah, dari sumber Haula wa Quwwata. Aku hanya tunduk pada Allah. Aku merdeka. Dan aku nggak mengizinkan masalah atau luka mendistorsi cara pandangku terhadap Allah dan takdir.
Di surat Al-Hajj (22) : 53 juga dijelaskan bahwa :
"Dia (Allah) hendak menjadikan apa yang dilontarkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh (dari kebenaran)."
Rajin-rajinlah beresin hati, bersihin hati, dan luasin hati. Biasakan diri untuk memaafkan dan merelakan sesuatu yang bukan haknya. Jangan kasih bensin bagi hasad dengan gibah, tahassus, dan tajassus. Kadang-kadang penyakit hati emang seimplisit itu, sehalus itu, sesamar yang kata hadis mah, seperti semut hitam, berjalan di atas batu hitam, pada malam hari.
Terakhir, untuk siapapun yang punya pengalaman traumatis, mudah-mudahan Allah berikan daya untuk berikhtiar, agar bersedia memproses dirinya serta bersedia diperjalankan Allah menapaki jalan menuju pulih.
Aku juga mengutip apa yang Mas Amai (KTJ) ucapkan saat meruqyah 'pasiennya', "minta rasa cinta yang banyak sama Allah." Jujur nangis pas dengernya 😭😭😭. Beliau tahu betul problem orang-orang yang mudah dipengaruhi setan tuh salah satunya karena hati yang kosong dari meminta rasa cinta ke Allah. Hati yang ketika merasa tak berdaya, tidak meminta kekuatan dari Sang Sumber. Hati yang ketika dijahati dan dikecewakan dunia, tidak kembali kepada Sang Penyayang. Hati yang nggak mau dipeluk, disayang, dan dirahmati Allah.
Dua tulisan ke belakang emang masih refleksi tentang hal-hal begini, karena jujur sebagai lulusan S1 saintek yang lintas jurusan ke magister psikologi, mekanisme jiwa manusia tuh nggak kayak alam semesta yang konstan mengikuti rumus-rumus fisika. Jadi sisi reflektifnya datang dari case atau pendekatan yang berbeda juga. Mudah-mudahan bisa diambil baiknya. Last of the last, minta pertolongan dengan sabar dan sholat gais. Dunia makin gak baik-baik aja.
— Giza, masih refleksi tentang iman, sholat, dan dirinya
Tadinya kukira komunikasi adalah kunci bagi setiap hubungan.
Tapi ternyata enggak. Kalau masih inget, dulu aku pernah nulis tentang hard convo, nah sekarang mau review hal-hal yang penting selain komunikasi.
Aku suka menganalogikan komunikasi sebagai jembatan yang berfungsi sebagai penghubung antara dua daratan. Kira-kira ada beberapa kunci agar keterhubungan tersebut dapat bekerja dengan baik:
Kedua daratan sama tingginya. Jika tidak sama, jembatannya harus effort lebih dalam pembangunannya (sekufu).
Kesediaan mengambil bagian untuk membangun jembatan dari ujung masing-masing agar bertemu di tengah (willingness).
Tidak membebani tugas "membangun jembatan" dari satu daratan saja (self awareness, respect, empathy)
Paham bahwa membangun jembatan adalah tugas bersama. Tidak merasa si paling lelah/paling berjasa. (pemahaman hak dan kewajiban).
Keselarasan tujuan, hal yang diperlukan, hal yang tidak relevan dengan tujuan tersebut (alignment, sense of urgency and severity).
Akhirnya aku rangkum sebagai alur seperti ini:
Trust → Respect → Willingness → Listening → Understanding → Empathy → Communication → Sense of Urgency and Severity → Alignment of Vision → Implementation and Feedback (Compassion)
*masih mentahan, kayanya akan direvisi seiring waktu, urutannya juga mungkin ada yang kurang tepat, step-nya mungkin ada yang perlu ditambah
Trust akan mudah diperoleh jika "kedua daratan punya tinggi yang sama" dalam arti sekufu (compatible).
Banyak tafsiran tentang kesekufuan tapi aku senang mengartikannya sebagai "sekufu resource-nya dan kemampuan memberdayakannya, serta sekufu framework".
Bahasan tentang framework akan panjang, tapi framework mengandung 3 hal: library, tools, rules. Ketiganya barulah diperoleh dari banyak hal: default sebagai manusia, parenting, pendidikan formal, kondisi finansial, pengalaman hidup, perjalanan spiritual, pertemanan, lingkungan, tontonan/bacaan, dsb.
Kenapa sekufu framework? Karena akan mempengaruhi bagaimana algoritma kehidupan seseorang berjalan. Kemana dia akan merujuk? Apa kerangka referensi/acuan yang akan dia gunakan berulang dalam setiap problem solving dan decision making?
Respect berawal dari pemahaman tentang identitas, nilai, dan posisi diri serta orang lain (self awareness). Dari respect akan melahirkan kesediaan (willingness) untuk memahami perannya dan melakukan job desk-nya. Dia nggak akan menuntut orang lain karena sadar hak dan kewajibannya.
Empati pernah kubahas di sini. Intinya, "feel deeply, think accurately, act wisely." Dari empati, kita akan bisa membaca peta realita tentang "apa yang penting dan apa yang fatal bagi orang lain?" dengan kata lain sense of urgency and severity. Outcome-nya, kita nggak akan menyepelekan hal yang penting, dan kita nggak akan terus menerus melakukan hal fatal.
Komunikasi bukan sekedar menyampaikan melainkan bagaimana pesan dapat tersampaikan dengan baik. Kemudian implementasi merupakan bentuk menghargai semua proses membangun jembatan itu. Perlu compassion untuk melakukan implementasi terhadap "pesan" yang dikomunikasikan.
Tapi kadang, ada orang yang memelihara kemalasan emosional maupun intelektual untuk sekedar memahami apa perannya, apa posisi dirinya dan orang lain, mana yang penting, mana yang fatal, dsb. Makanya kadang-kadang hubungan nggak berjalan mulus. Bahkan sejak tahap willingness, listening, dan understanding aja orang masih banyak yang remed.
Orang juga sering "mengkambinghitamkan" ego karena kurangnya kosakata tentang hubungan antar manusia. Nope, bagi orang yang sudah tuntas hal-hal tadi, ego juga tetap diperlukan untuk menghormati diri mereka sendiri.
Tapi ada orang yang belum numbuhin willingness, belum coba understanding, belum listening comprehensive, eh malah nuntut egonya dikasih makan. Kan ngelunjak ya?
Default manusia adalah makhluk pembelajar. Jadi aneh kalo ada manusia yang enggan menumbuhkan kesediaan untuk "iqra" terhadap diri dan orang lain. Mending jadi congcorang aja. Intinya, komunikasi itu penting, tapi banyak hal penting lainnya yang perlu dipenuhi agar komunikasi berjalan dengan baik.
— Giza, nabung ilmu untuk kehidupan hari ini bersama orang-orang tersayang
Kak bagaimana caranya berdamai dengan perasaan tertinggal?
Setiap aku merasa ketinggalan, aku selalu berpikir ulang bahwa mungkin aku dan yang lain nggak punya resource yang sama, jadi output-outcome sekarangnya juga nggak sama dan itu gapapa. Tiap orang punya struggle dan blooming season-nya masing-masing kok.
Pertumbuhan manusia di usia 20-an mah emang nggak simetris. Ada yang rata kanan di finansial/karier, tapi masih remed di kebijaksanaan. Ada yang rata kanan di pemikiran/akademik, tapi remed di percintaan. Ada yang rata kanan di pertemanan dan komunitas, tapi remed di penalaran. Macem-macem sih, variabel tiap orang juga beda-beda. Kita adalah produk masa lalu kita, jadi mungkin sulit buat kita berubah/bertumbuh di hal-hal yang sama sekali kita nggak ada bentukan soal itu.
Dalam beberapa aspek, aku selalu sadar bahwa aku ini berangkatnya dari minus, so.. mencapai titik nol aja udah jadi sebuah pencapaian besar dalam hidupku. Baik-baiklah sama dirimu sendiri, ini hidup pertamamu. Hidup pertama kita semua. Ini satu-satunya panggung yang kita punya.
Nggak ada yang tau persis gimana cara menjalaninya dengan tepat. Semua orang bikin salah. Semua orang pernah gagal. Pandanglah dirimu sebagai diri yang berhati, berjiwa, dan bermasa depan. Kalau mau nangis, nangislah, sedihlah, sesalilah, abis itu lanjutin hidup sambil tidak memunggungi "cahaya" yang bakal menuntun arah tumbuhmu. Kalo dirasa bisa dikejar, ya kejar aja. Kalo enggak, ya udah kejar aspek lain yang realistis.
Terus kalo mau, yang diukur Δ improvement-nya aja antara diri yang dulu dan sekarang, jangan menakar diri di timbangan orang lain. Jangan overvaluing orang lain sambil undervaluing diri sendiri. Allah juga mintanya "ahsanu amala" kok. Kalo kata Ust. Nouman Ali Khan mah maksudnya better bukan best. Berarti Allah nggak nuntut kesempurnaan, Allah cuma meminta perbaikan (improvement). Maka semua orang berhak untuk menjadi orang yang amalnya lebih baik.
Lagu penyemangat untukmu. Gak usah takut ketinggalan, Allah mah gak akan ninggalin kita. Semoga Allah selalu berkahi langkahmu, langkah kita, sesama pejalan!
— Giza, kalau mau dibandingin sama yang lain mah relatif ketinggalan juga kok
Sacrifice The Queen
Sejak mulai bermain catur, aku punya gaya pandang baru dalam membaca realitas, salah satunya saat meng-capture dinamika Nabi Ibrahim. Untuk pengetahuan umum, di catur tuh ada yang disebut taktik dan strategi.
Strategy is the long-term, high-level plan designed to achieve a specific, overarching goal (the "what" and "why"), while tactics are the concrete, short-term actions and steps taken to execute that plan (the "how"). Strategy focuses on direction and positioning, whereas tactics focus on day-to-day execution and immediate wins.
Dari yang aku berhasil capture, Nabi Ibrahim tampaknya adalah pribadi yang strategis, end-to-end (hulu ke hilir), dan idealism-oriented. Sejalan kan ya, dengan perannya membangun sebuah pondasi dan kerangka peradaban yang terarah.
Untuk perbandingan, Nabi Musa mengalami dinamika yang berbeda. Pendekatan beliau lebih taktikal, task based, dan present-oriented, kelihatan dari cara beliau merespons perintah-perintah Allah secara real-time di situasi yang dinamis dan penuh pressure. Perbedaan ini juga bisa kita lihat kok dari doa-doa mereka.
Disclaimer: Aku menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang "strategis" dan Musa sebagai sosok yang "taktikal" bukan berarti meniadakan dimensi lain dari keduanya ya. Ibrahim tentu aja punya ketajaman taktis dalam bertindak, sebagaimana Musa juga punya kerangka strategi dalam misinya. Klasifikasi ini semata-mata pendekatan analitis untuk menyorot kecenderungan dominan dalam kisah masing-masing, supaya kontrasnya lebih terlihat dan mudah dipahami.
Nah tadinya kupikir ujian terberat seorang strategis adalah jika harus menghadapi worst scenario. Namun aku salah gengs wkwkwk.
Soalnya sebagai orang yang cukup relate secara kognitif dengan Ibrahim, menurutku ketakutan akan worst scenario itu bisa direduksi dengan memperbaiki pertimbangan dan pengambilan keputusan, melakukan persiapan, atau merencanakan alternatif. Mirip-mirip di catur lah, takut melakukan blunder/bad moves atau takut moves-nya lawan ternyata brilliant/good bisa diatasi dengan deep calculation. Dan aku yakin, Ibrahim adalah seorang deep calculator yang bisa handle worst scenario yang datang dari luar.
"Sacrifice the queen!" mungkin itulah perintah Allah pada Ibrahim, dalam metafora catur.
Di catur, queen sacrifice baru bisa disebut brilliant/best/good moves kalau bisa ngasih keuntungan yang lebih besar daripada nilai queen itu sendiri. Biasanya ada 4 kondisi, entah itu menuju skakmat lawan, menang materi, menang posisi, atau seenggaknya itu satu-satunya langkah yang menyelamatkan posisi. Pemain catur profesional manapun nggak akan mau melakukan queen sacrifice tanpa kalkulasi 4 kondisi tadi. Yang ada malah blunder entar.
Ibrahim 2x mengalami ini. Pertama, saat meninggalkan Hajar dan Ismail ke lembah Bakkah (Mekkah sekarang). Kedua, saat diperintah menyembelih Ismail.
Back to Ibrahim as strategist, dengan beliau menikahi Hajar pun artinya Hajar sudah menjadi his most important piece (Sarah dan Luth juga sih btw). Ketambahan lagi dengan lahirnya Ismail, di catur mah ini bisa diibaratin jadi pion promosi. Jadi kebayang yah betapa Ibrahim hampir all-in seluruh grand design-nya ke situ.
Sekarang di peristiwa pertama, Allah suruh Ibrahim sacrifice his queen, and also his promoting pawn. Jujurly, menurutku ini tuh nggak masuk akal dalam kalkulasi Ibrahim.
Bentar tiba-tiba nangis wkwkwk. Kenapa ya mendalami cerita ini tuh selalu menggetarkan akal budi, kek setiap movement-nya tuh obvious. Aku yakin Ibrahim nangis waktu itu, mungkin di momen after ninggalinnya. Ekstrem banget situasinya, baik secara kognitif maupun emosional.
Secara kognitif, "jika Ismail adalah awal penggenapan janji, bagaimana mungkin jalurnya justru diarahkan ke tempat yang tampak tidak menopang kehidupan? Bagaimana aku bisa menilai movement ini relevan ketika bidak-bidak andalanku justru dipisahkan dari pusat permainan?"
Secara emosional, "Ya Allah tempat ini tidak ramah kehidupan. Aku tidak melihat sebab yang cukup untuk menjaga mereka. Bagaimana aku bisa memastikan keselamatan orang yang aku sayangi, ketika aku tahu bahkan variabel-variabel di lembah ini mostly mengarahkan mereka pada kematian?"
Nah aku ingat salah satu komentar coach caturku waktu aku masih awal-awal main. Kata beliau, "aku lihat-lihat game Giza, pelajaran hari ini adalah jangan takut korbanin." Yah namanya juga pemain amatir wkwkwk masih sayang sama semua pionku. Di bayanganku, Ibrahim saat itu, diperjalankan Allah dari fase "gimana caranya mempertahankan semua pionku?" menuju fase, "kalau Sang Pemilik papan meminta pengorbanan ini, berarti ada jalur kemenangan yang belum saya lihat."
Maka beliau percayakan kalkulasi ini kepada Allah. Ditinjau dari doa beliau di QS 2 : 126 dan QS 14 : 35-38 mah sih, beliau masih bisa bayangin, "oh mungkin ada kompensasi posisi" alias masih ada harapan di situ. Walaupun dipikir-pikir secara duniawi lembah itu nggak menguntungkan, Ibrahim masih belum kehilangan orientasi strategisnya.
Masuklah ke ujian kedua.
Di sini posisinya Ismail had already been promoted to a queen. Blueprint peradaban semakin jelas dan lengkap, dari opening, midgame, sampai endgame. Udah kebayang gitu si idealisme tersebut kek apa dan gimana mencapainya.
Dan untuk kedua kalinya, Allah perintahkan lagi, "sacrifice the queen!"
Dua peristiwa itu mirip bentuknya, tapi menurutku beda kedalaman ujiannya.
Masalahnya, di catur, pengorbanan menteri itu hampir pasti dilakukan oleh pemain yang udah kebayang step selanjutnya bakal apa. Atau minimal ada feeling, "ini bakal worth it".
Sedangkan Ibrahim saat itu disuruh korban menteri (lagi), sambil harus tetap punya cita-cita untuk menang, sambil nggak tau gimana merekonstruksi rencana yang variabel utamanya tiba-tiba nggak ada. Gap antara realitas - idealitas yang sebelumnya udah dikalkulasi, malah disuruh dikosongin. Terputus aja gitu. Gimana coba fill the blank-nya? Apa nggak blunder?
Rupanya ujian terberat seorang strategis adalah saat diminta untuk menghapus rencana terbaik yang dia udah invest banyak di situ, tanpa tau alasannya.
Oke lah, di perintah pengorbanan yang pertama, blank-nya belum total kosong. Masih ada harapan/ekspektasi. Masih diam-diam bergantung ke hasil akhirnya.
Sedangkan di perintah pengorbanan yang kedua, Ibrahim literally nggak dikasih akses ke langkah berikutnya. Buat orang yang strategis dan terbiasa kalkulasi langkah, nggak dikasih variabel untuk deep calculating lagi tuh menyebalkan. Lalu dengan apa kita dapat mendebat keputusan itu ketika kita bahkan nggak bisa pretelin proses decision making-nya Allah? Di titik itu, Ibrahim bener-bener dipaksa melepas kebutuhan untuk memahami mekanisme kemenangan tersebut.
Ini penting karena langkah-langkah yang sebelumnya diperintahkan Allah dan dilakukan Ibrahim seolah sedang mengonstruksi masa depan melalui Ismail. Kalau Ismail mati sebelum punya keturunan, apalagi matinya di tangan Ibrahim sendiri, jadinya kontradiktif kan? Soalnya perintah penyembelihan itu sama aja dong kayak membongkar bangunan yang sedang disusun-Nya sendiri. Kalau Ibrahim nggak sopan, mungkin bakal mikir, "Allah mah aneh." Tapi kan enggak gitu ya?
Jadi situasinya, ada 2 identitas Ibrahim yang diuji di sini. Masing-masing identitas diuji melalui logika internalnya sendiri sampai batas ekstrem.
Pertama, identitas sebagai nabi, yang bahkan diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, nabi yang harus menaati perintah Allah ini adalah nabi yang sama yang harus bercita-cita tinggi. Lantas bagaimana ketika ketaatan itu tampak mengancam kesinambungan proyek kenabian yang sedang beliau bangun?
Kedua, identitas sebagai ayah, yang juga diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, ayah yang pengen anaknya selamat dengan menaati perintah Allah, adalah ayah yang sama juga yang pengen sang anak tetap hidup, atau setidaknya nggak mati di tangannya sendiri.
Bayangin pergolakan kognitif-emosional-spiritual Ibrahim di rentang waktu mimpi pertama, kedua, dan ketiga. Like.. peristiwa itu sebagai "mimpi" aja pun rasanya nggak mau deh keulang.
Terus Ibrahim ngapain? Ya udah, tetap laksanakan perintah sambil percaya bahwa janji Allah tetap benar (bahwa akan ada kelanjutan, peradaban, dsb.) dan cara terjadinya janji itu sepenuhnya bukan urusan dia.
Menariknya, nggak ada doa dengan pengharapan spesifik saat melaksanakan perintah menyembelih Ismail.
Kan waktu ninggalin Hajar dan Ismail di Bakkah, kita masih mendengar doa-doa yang spesifik ya, kayak minta keamanan, minta rezeki, minta hati manusia condong kepada mereka, dan minta dijauhkan dari penyembahan berhala. Artinya di sana Ibrahim masih mengartikulasikan harapan supaya Allah menjaga mereka dengan cara ini, ini, dan ini.
Tapi di kisah penyembelihan, Qur’an nggak mencantumkan monolog emosional kayak gitu. Ibrahim nggak lagi meminta skenario alternatif, nggak lagi menyebut outcome yang diharapkan, maupun mencoba merumuskan bentuk penyelamatan. Beliau bahkan nggak tahu lagi harus meminta bagaimana. Zero expectation. Beliau bener-bener berlepas diri dari ketergantungan terhadap makna yang dibangun dari objek itu. Penyerahan total. That's so crazy, man! 🤯
(aduh kenapa yah agak familiar dengan perasaan ini, dengan scalability yang lebih kecil sih wkwk that's why kayaknya aku bisa menulis ini dengan cukup baik.. karena bisa eskalasi konteksku kalo ditarik ke scope konteks Ibrahim yang lebih megah dan luhur)
Dan justru malah Ismail yang berdoa, "mudah-mudahan kau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Ah, betapa indahnya kalimat itu. Bayangin betapa nangis bangganya Ibrahim. Bangga pada Hajar yang telah mendidiknya dengan sangat baik hingga Ismail punya rasa hormat sedalam itu kepada ayahnya dan kepada Allah. Bangga pada Ismail bahwa risalah itu benar-benar sudah hidup di dalam diri anak ini.
TAPI JUGA JADI MAKIN SEDIH DAN NYESEK. Kek.. serius nih Ya Allah.. anak sesholeh ini, anak se-"udah jadi" ini justru harus dieliminasi dari rencana semegah itu, (apalahh aku nangis lagi), dan kalau ngedidik anak baru yang lain pun belum tentu nyampe kualitasnya segini, apalagi usia Ibrahim semakin tua juga (dan ingat ya, belum ada Ishaq juga saat itu).
To sum up..
Qur'an merangkum dinamika ini melalui dua pernyataan Ibrahim yang sangat mirip. Di surat Al-An'am : 78 (إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ) dan di surat Az-Zukhruf : 26 (إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ). Tapi kedua ayat itu pakai mufrodat yang berbeda untuk frasa "berlepas diri".
Ust. Nouman Ali Khan bilang, barii’ (بَرِىٓء) adalah kata sifat. Seseorang yang 'tidak terkait' disebut barii’ (بَرِىٓء). Sedangkan kata yang digunakan dalam Surat Az-Zukhruf adalah baraa' (بَرَآء). Dan baraa' (بَرَآء) dalam bahasa Arab bukan 'seseorang yang tidak terkait', tetapi gagasan 'ketidakterkaitan' itu sendiri. Levelnya udah berbeda. Mudahnya, di film Cars, alih-alih mengatakan, "I am really fast," Lightning McQueen justru mengatakan, "I am the speed itself."
Dalam satu kasus, Ibrahim berkata, "aku tidak terkait dengan itu". Di kesempatan lain, dia berkata, "aku adalah konsep 'ketidakterkaitan'/detachment/disassosiation itu sendiri." Nah kalau lihat timeline, barii' vs baraa' ini adalah before vs after beliau menjadi nabi.
Jadi setelah kenabian, seakan dirinya menjadi manifestasi dari "berlepas diri" itu sendiri. Maka, sejak itulah hidup Ibrahim sendiri dibentuk menjadi proses pelepasan terus-menerus. Cocok ya, dengan benang merah kisah beliau dalam Qur’an, mulai dari syirik (udah jelas lah ya harus berlepas diri dari itu mah), ayahnya, kaumnya, negerinya, istrinya, anaknya, kontrol atas rencananya, bahkan logika dan perasaannya sendiri. Setiap ujiannya adalah pendalaman makna baraa’ itu sendiri.
Di kemudian hari kita mengenal istilah al-wala wal-bara. Pada Ibrahim, dua-duanya berjalan beriringan. Semakin dalam bara'-nya, semakin total pula wala'-nya. Artinya kita nggak akan bisa berserah total untuk sesuatu, kalau kita belum bisa berlepas total dari sesuatu yang lain. Pantesan aja beliau disebut khalilullah karena hatinya telah dikosongkan dari tandingan-tandingan loyalitas itu.
Grandmaster Ginger di chess(dot)com mengatakan,
"A queen sacrifice means we have to bravely give up our most important piece in order to create some magic on the board."
Queen sacrifice sebagai brilliant move memang sangat sulit ditemukan. Wajar aja kalau di momen penyembelihan, Ibrahim pun nggak nemu kalkulasi sejauh itu dengan variabel-variabel yang juga masih se-hidden itu.
Namun magic on the board itu datang kemudian. Ismail diganti dengan sembelihan lain, Ishaq lahir, Ka'bah pun dibangun. Dan rangkaian al-wala' wal-bara' satu keluarga itu akhirnya diabadikan dalam satu rukun Islam yakni ibadah haji.
Siapa sangka, ribuan tahun kemudian, jutaan manusia masih berlari kecil mengikuti jejak Hajar, masih menyembelih hewan kurban untuk mengenang kepatuhan Ibrahim dan Ismail, dan masih menghadap Ka'bah yang berdiri di lembah yang dulunya tak bisa ditaruh ekspektasi apa-apa. Satu keluarga ini pun selalu disebut oleh milyaran manusia dalam sholat.
Masih sangat banyak yang bisa diperas dari cerita ini. Belum kubahas bagaimana perspektif Hajar dan Ismail sebagai subjek sekaligus objek ujian. Belum pula kubahas Ismail dan Ishaq sebagai dua operator dengan spesifikasi berbeda yang menjalani misi spesifik berbeda pula. Tapi ini dulu aja. Kekeliruan datangnya dari Giza, kesempurnaan dan kemegahan datangnya dari Allah.
— Giza, overwhelmed banget sama kemegahan kisah-kisah ini, gokil juga udah lama nggak processing sesuatu sekenceng ini. Thanks to seseorang yang menginspirasinya bermain catur. Also thanks to Hikaru Nakamura, streamer catur yang menyenangkan untuk ditonton.
"Menurutmu, pengalaman apa yang seharusnya dialami setiap manusia?"
"Patah hati."
Sekonyol dan sesarkas apapun kedengarannya, beberapa pelajaran hanya bisa diajarkan oleh patah hati. Sulit untuk sepenuhnya memahami bagaimana rasanya, hingga kamu mengalaminya sendiri.
Orang-orang yang memilih ketenangan pikirannya daripada stres dalam relasi, bukannya tidak menghargai cinta. Justru lebih sering, karena apa yang telah mereka alami dan pelajaran yang mereka pelajari dari patah hati.
Kalau kamu sedang mengalami patah hati saat ini, pertama, akui rasa sakitnya.
Kedua, hargai fakta bahwa kamu telah melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda dan pengalaman itu membentuk pertumbuhanmu.
Ketiga, ambillah pelajaran penting bahwa ketika cinta menemukanmu lagi, jangan pernah kehilangan dirimu di dalamnya. Cintailah dengan dalam, tapi selalu pertahankan cukup rasa hormat diri dan kemandirian untuk pergi dari apa yang tak lagi bermanfaat bagimu.
Feel deeply, think accurately, act wisely. Character development comes with it.
Siapapun kamu, jika kamu harus selalu menjelaskan bagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik dan seharusnya, itu berarti kamu berada ditangan orang yang salah..
Sebab orang yang benar-benar perduli tak memerlukan buku panduan
Kali ini aku akan berusaha yang semampu dan sebisaku untuk kembali kepada Allah dan jalan ketaatan menuju-Nya. Walau sulit aku percaya Allah tidak akan pernah membiarkan langkahku berjalan sendirian. 🤍
Pada akhirnya Allah akan membawaku pada doa-doa baik yang selama ini aku semogakan dan menjauhkanku dari banyak hal yang Ia tahu berpotensi besar melukaiku jika tetap kulanjutkan.
Wa'alaikumsalam
Satu kata sederhana, yang diam-diam memuat segalanya.
Untuk keselamatanmu, di tempat yang sunyi maupun ramai, di saat terang maupun ketika gelap menutup segalanya. Bila badai datang tanpa isyarat, semoga dirimu berada di tempat yang kokoh dan hangat.
Semoga kamu terhindar dari luka yang tak bisa dijelaskan, dari beban yang tak sanggup dibagi, dari hal-hal yang membuatmu kecil di mata sendiri, atau hal-hal yang membuatmu besar dengan mengecilkan yang lain.
Semoga hatimu tak perlu lelah menghadapi hal yang seharusnya mudah. Dan damai yang kamu bangun tak runtuh sebelum berdiri, oleh tangan yang tak kamu undang. Semoga kamu bebas dari urusan yang bukan tanggung jawabmu, dan dari orang-orang yang tak tahu cara memikul miliknya sendiri.
Semoga yang sedang kau jemput tidak lari sebelum sempat mendekat. Semoga arah yang sedang kau tempuh tidak memutar terlalu jauh hanya untuk mengajarkan bahwa yang kau cari sedang mengarah kepadamu juga. Semoga benih yang kau jaga tahu caranya hidup walau langit kadang pelit cahaya.
Semoga rezekimu mencukupi, sebelum kebutuhan mengetuk dengan suara gelegar, agar satu-satunya tempat tanganmu menjulur adalah Yang Maha Besar bukan pada mereka yang sama-sama gemetar.
Semoga malam-malammu dilalui tanpa perlu menghitung apa yang harus dilunasi esok hari. Semoga tak perlu ada tanya yang kau jawab dengan janji tertunda.
Biarlah hidupmu cukup tertutup bagi yang ingin tahu bukan untuk peduli. Dan kebahagiaanmu tak dibangun di atas kesedihan orang lain.
Semoga gemerlap tak menutupi cahaya yang sejati. Semoga indahnya dunia tak memalingkanmu dari yang memberi keindahan itu sendiri. Semoga tak ada kesenangan yang membuatmu lupa untuk menjadi cukup.
Semoga lingkar yang paling dekat denganmu tak pernah menjadi hal yang paling ingin kau jauhi. Semoga engkau tak perlu berpura-pura baik-baik saja di tempat yang seharusnya paling tahu kapan hatimu sedang tidak baik. Semoga kamu tak lagi harus menjelaskan mengapa rumah bisa terasa seperti tempat asing. Semoga cinta tak jadi barang langka di tempat yang seharusnya mengajarkan cara mengucapkannya.
Semoga perasaanmu tak harus menunggu di luar pintu yang tak pernah dibuka. Semoga aspirasimu tak tinggal selamanya di ruang yang tak boleh disebut. Semoga kasihmu menemukan jalan yang halal untuk tumbuh. Semoga kamu tak berbagi atap dengan jiwa yang enggan mengenalmu. Semoga namamu disebut dengan hangat, bukan sekadar dalam daftar tanggung jawab.
Semoga dijauhkan kamu, dari cinta tanpa pernikahan, pernikahan tanpa cinta.
Semoga keselamatan atasmu, dan semoga, semoga yang sama juga kembali padaku, dengan cara yang paling lembut dan penuh rahmat.
— Giza, mendalami arti nama belakangnya. Ditemani lagu-lagu Panji Sakti.
Beberapa hari yang lalu ada seorang teman bertanya kepadaku, “tanda-tanda dia jodoh kita tuh apa?” Sebagai perempuan yang belum menikah, justru aku juga mempertanyakan hal yang serupa. Kalau boleh jawab sotoy, mungkin salah satu tandanya berupa kecocokan. Namun, jawaban itu mengundang pertanyaan lainnya; cocok itu yang bagaimana?
Lalu aku teringat kisah cinta Najmuddin Ayyub. Seorang pemimpin Tikrit yang belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yaitu Asadudin Syirkuh pun bertanya, “wahai saudaraku, mengapa kamu belum menikah?” Najmuddin menjawab, “aku belum menemukan seseorang yang cocok.”
Asadudin Syirkuh kemudian menawarkan bantuan melamarkan perempuan untuk Najmuddin. Perempuan yang ditawarkan Asadudin pun merupakan anak seorang sultan dan putri menteri agung dari para menteri agung zaman Abbasiyah. Namun Najmuddin berkata, “mereka tidak cocok untukku.”
Asadudin Syirkuh yang bingung mendengar jawaban tersebut lalu bertanya, “lantas, siapa yang cocok bagimu?” Dengan lantang Najmuddin menjawab, “aku menginginkan istri yang salihah. Seseorang yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ia tarbiyah dengan baik hingga menjadi ksatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Asadudin tidak heran dengan pernyataan saudaranya tersebut, tapi ia bertanya-tanya, “di mana kamu bisa mendapatkan orang seperti itu?” Dan jawaban Najmuddin adalah, “barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”
Suatu hari, Najmuddin berbincang dengan seorang Syaikh di masjid Tikrit. Kemudian datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan ia berbicara pada gadis itu. Tanpa sengaja Najmuddin mendengar perkataan Syaikh kepada gadis tersebut, “kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk melamarmu?”
Sang gadis menjawab, “wahai Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang mempunyai ketampanan dan kedudukan. Tetapi ia tidak cocok untukku.” Syaikh kemudian bertanya, “siapa pemuda yang kau inginkan?”
Gadis tersebut pun menjawab pertanyaan Syaikh dengan lantang, “aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak darinya yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Bagai tersambar petir Najmuddin mendengar jawaban gadis itu. Bagaimana mungkin gadis itu menjawab dengan jawaban yang persis sama dengan apa yang pernah Najmuddin ungkapkan kepada saudaranya. Sungguh semuanya tidak mungkin terjadi bila tanpa campur tangan Allah.
Seketika Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “aku ingin menikah dengan gadis ini. Aku ingin istri seperti dia. Seseorang yang salihah. Seseorang yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ia didik dan kelak menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”
Karena kesamaan visi tersebut, menikahlah mereka. Dan dari pernikahan tersebut, lahirlah Salahuddin Al-Ayyubi, seorang pemuda yang mampu menaklukkan banyak peperangan.
Cerita tersebut membuatku semakin mengimani, al-arwahu junudun mujannadah. Sebuah sabda dari Nabi Muhammad SAW. Jiwa-jiwa manusia itu seperti sepasukan. Berada dalam satu barisan dan komando yang sama. Setiap jiwa akan selalu mengajak untuk berkumpul dengan jiwa lainnya yang memiliki kecenderungan yang sama. Baik prinsip, ideologi ataupun keyakinan yang sama.
Sama seperti jiwa Najmuddin dan sang gadis yang sama-sama memiliki impian dan visi yang sama. Maka Allah pertemukan dan satukan mereka dalam pernikahan. Menerbitkan dan menenggelamkan matahari saja Tuhan mampu, apalagi perkara menggerakkan hati dan kaki manusia.
Ada berjuta-juta manusia di muka bumi ini. Dan setiap harinya ada beribu-ribu kesempatan dan juga kemungkinan kita bertemu satu atau dua dari jutaan manusia tersebut. Pertanyaannya, dari jutaan manusia tersebut, bagaimana caranya kita menemukan seseorang yang cocok?
Mungkin jawabannya adalah dengan menemukan diri sendiri. Mengetahui apa yang jiwa kita inginkan, apa yang sebenarnya dibutuhkan. Berpegang teguh dan berperilaku selayaknya kebutuhan atau mimpi tersebut.
Dan meyakini bahwa Tuhan akan membimbing kita dalam pertemuan dan penemuan. Bahkan tanpa kita mencari berlari kesana-kemari.
Sebaik-baiknya cara mencari adalah dengan menjadi. Karena ruh-ruh yang sama akan mengenali satu sama lain….
-Lampung, November 17th 2023
Tuhan Tidak Tendensius
Ada saat di hidup kita, ketika satu kejadian pahit terasa cukup buat bikin kita yakin bahwa Allah sedang melawan kita dan memihak orang lain. Misalnya, doa yang tak kunjung dikabulkan, orang terdekat yang tiba-tiba pergi, takdir menyenangkan orang lain yang keliatan lebih effortless, atau kegagalan yang meruntuhkan semua harapan dan rencana. Tampaknya, semua hal dibuat sulit hanya untuk kita dan orang lain tidak. Jelas geer murahan yang tidak reliabel, yang kita klaim sebagai fakta, padahal itu bias dari sampel tunggal bernama hidup kita.
Agak ngeri juga ya, nantangin by one sama Tuhan Semesta Alam :v
Kita pernah jadi peneliti tolol yang semena-mena bikin kesimpulan besar dari sampel tunggal (yakni pengalaman pribadi). Dalam penelitian, kalau cuma punya sample size = 1, hasilnya nyaris tidak bisa dipakai buat generalisasi, sebab pengalaman pribadi hanyalah satu data point dari "big data" ciptaan Allah. Sedangkan Allah punya akses ke seluruh populasi baik itu masa lalu, masa kini, masa depan, yang kelihatan, maupun yang tersembunyi. Jadi keputusan Allah selalu berdasarkan n = ∞.
Kalau n (jumlah sampel) kecil, maka akurasi rendah, hasilnya bias, dan margin of error besar. Sebaliknya, kalau n besar maka akan mendekati populasi, hasil makin akurat dan representatif, kesimpulan makin bisa dipercaya.
Sekarang, kita punya dua kasus.
Pertama: "kalau kita terluka, maka Allah jahat". Ada banyak bias di pernyataan ini. Negativity bias (satu sakit bisa "menghapus" seribu nikmat sehat sebelumnya), availability bias (pikiran cepat banget mengakses pengalaman yang paling segar/menyakitkan karena data itu yang paling gampang muncul di memori), egocentric bias (semua hal ditafsirkan dengan diri sendiri sebagai pusat), ditambah jumping to a conclusion. Kurang bodoh apa?
Kedua: "kalau kita bahagia, maka Allah sedang berpihak pada kita." Lebih enak sih kedengarannya, tapi tetap pakai cara pikir yang sama dangkalnya. Ada banyak bias juga di pernyataan itu. Confirmation bias (kita suka "menemukan bukti" sesuai keinginan hati), self-serving bias (klaim seolah-olah semesta revolve around me), egocentric bias, lagi, (tolok ukur "Allah baik" diambil dari kenyamanan pribadi, pusatnya ego lagi), dan overgeneralization.
Sama-sama geer, cuma kali ini geernya dibungkus syukur palsu, soalnya lagi-lagi penilaiannya subjektif, bergantung pada mood dan pengalaman sesaat. Plus, dua-duanya pakai ukuran diri sendiri sebagai standar mutlak. Dua-duanya pakai sampel tunggal untuk menilai "populasi" sebesar Allah. Cara pikir kaya gitu memang aneh/keliru, karena pakai logika manusia bias untuk menilai Zat yang tidak terbatas.
Jadi, apa bukti Allah itu baik?
Kalau pakai logika sampel tunggal (n = 1), kita bakal jatuh ke jawaban sepotong, "karena aku pernah senang, karena doa aku pernah dikabulkan, karena aku sehat hari ini." Jawaban itu rapuh karena besok kalau sakit lagi, logika yang sama bisa dipakai untuk bilang "Allah jahat".
Kalau pakai logika populasi (n = ∞), maka Allah punya seluruh data, dan kebaikan-Nya mencakup seluruh aspek. Jadi bukti "Allah baik" tidak berdiri pada 1 pengalaman, tapi pada keseluruhan realitas.
Allah dan Kerangka Empirisme
Jadi, bukti Allah baik bukan cuma soal empiris. Dan sebenarnya Allah tidak bisa didekati secara empiris. Kenapa? Karena Allah bukan objek sains.
Objek sains itu:
Terdefinisi (ada kesepakatan jelas tentang apa itu)
Bisa diukur (kalau bisa diukur, berarti ada batasnya)
Ada di ruang dan waktu (bisa kita jangkau untuk diuji)
Sejak awal, Allah sudah mendefinisikan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha. "Maha" artinya tak terbatas, dan yang tak terbatas itu tidak bisa diukur.
Sekarang bayangkan, logika macam apa yang ingin coba mengukur sesuatu yang Maha? Penggaris macam apa yang ingin kita pakai? Manusia jelas tidak punya instrumen yang valid untuk menakar sifat atau keputusan Allah. Pada kerangka apa kita ingin menguji Tuhan? Perkara bodoh dan dangkal, kan?
"The absence of proof is not proof of absence."
Ketika kamu merasa tidak punya pengalaman pribadi yang bisa dipakai sebagai evidence kebaikan Allah, jangan berhenti di situ. Ketiadaan bukti bahwa "Allah baik" di hidupmu, bukanlah bukti Allah tidak baik.
Bisa jadi datanya ada, tapi kita belum sadar atau belum punya syukur di hati. Atau bukti itu baru akan muncul nanti, atau Allah sengaja sembunyikan demi hikmah yang lebih besar.
Terus gimana kalau belum nemu bukti itu?
Sadar posisi bahwa kita terbatas. Kita hidup dengan "sample size = 1" yang artinya data yang kita pegang itu sangat sedikit dibanding "populasi" realitas yang Allah pegang. Selanjutnya, latih cara dan gaya pandang. Carilah tanda yang mendekatkan diri untuk mengenal-Nya.
Itu sebabnya, saat Allah memerintahkan Iqra' (bacalah), Dia tidak bilang "iqra' rabbaka" (bacalah Tuhanmu) Tapi "iqra' bismi rabbik" (bacalah atas nama Tuhanmu)
Artinya, Allah nyuruh kita membaca ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, ayat-ayat di alam (kauniyah) dan dalam wahyu (qauliyah), untuk mengenal Allah, bukan untuk "mengukur" Allah dengan keterbatasan alat sensori dan persepsi kita.
Maka itulah pentingnya kenalan sama Allah sebelum menerobos realitas. Supaya dalam kedukaan dan keterlukaan pun, kita tetap memiliki rasa hormat kepada Allah, bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap pengambilan keputusan-Nya. Supaya sabar lebih dapat didahulukan daripada marah, menuntut, dan protes. Supaya tidak jadi orang sotoy dan menggurui Allah.
Dan dalam kebahagiaan pun sama. Supaya kita tidak buru-buru merasa semua nikmat adalah hasil usaha sendiri, atau geer bahwa Allah lebih sayang pada kita dibanding orang lain. Supaya syukur lebih didahulukan daripada sombong, bangga diri, atau meremehkan cara hidup yang lain.
Allah al-Wakil bertindak atas dasar populasi total, yang mempertimbangkan semua variabel, semua waktu, semua konsekuensi. Keputusan-Nya mencakup keseluruhan realitas, bukan cuma fragmen hidup seseorang saja. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan Allah tidak baik hanya karena hidupmu belum terasa "dibuktikan" oleh-Nya.
Kalau pengen dipihak oleh Allah, gimana? Banyak caranya di Qur'an, salah satunya bersabar. Kalimatnya jelas, "inna Allaha ma'a shabirin".
Sabar adalah jenis sikap yang sangat bergantung pada kerangka waktu. Artinya, kita tidak menyerah terhadap Allah. Kita tidak buru-buru mundur saat mengenal Allah meski belum paham. Kita tidak mengedepankan logika, nafsu, ego, dan apapun yang sifatnya menambah kesombongan, meski belum dapat hasil. Lagian, makin sombong kita, makin tidak dikenali kita sebagai hamba. Makin susah mengenal diri as human being. Dan makin susah pula berteman dengan sesama human.
Banyak orang cepat kecewa lalu mundur dari iman hanya karena satu episode pahit. Sabar juga berarti tidak kabur hanya karena logika sesaat belum nyambung, dan menahan diri dari dorongan instan yang biasanya bikin kita nge-judge Allah. Banyak tafsiran lainnya lagi soal sabar, baca-baca aja di mana-mana.
Akhir kata, mari kita benahi pemahaman tentang qadha dan qadar, serta konsep diri sebagai manusia yang punya akal dan kemampuan memilih. Supaya ngerti betapa objektif dan tidak memihaknya Allah dalam penyusunan algoritma qadha dan qadar dan penempatan manusia di dalamnya.
Kedua pemahaman ini, jika dikombinasikan, bisa melahirkan sikap haunan, seperti Nabi Adam dalam doanya, rabbana dzalamna anfusana dst.
Life’s path is no fixed line; it is shaped by co-contributors who navigate its branching roads.
(Artinya, bukan Tuhan yang jahat, elu aja yang dzalim ke diri sendiri. Output lu itu bergantung input dan decision making yang lu pilih sendiri. Jangan salahin Tuhan kalo hasilnya malapetaka dan bencana. Stop ngerasa jadi korban di masalah yang lu buat sendiri.)
— Giza, tulisan ini isinya kayak marah-marah tapi jujur emang berangkat dari rasa kesel sama orang-orang masa kini yang asbun soal Allah padahal ga kenal Allah. Iqra lagi sono, jangan cinta-cintaan mulu. Giliran terluka nyalahinnya Allah.
Akutuh apa ga pantes diperjuangin yah?
September, 2025
Kali ini aku akan berusaha yang semampu dan sebisaku untuk kembali kepada Allah dan jalan ketaatan menuju-Nya. Walau sulit aku percaya Allah tidak akan pernah membiarkan langkahku berjalan sendirian. 🤍
Ngelunjak
Aku nggak jadi tidur di kereta karena nemu kalimat yang menarik dari seorang ulama yang juga cicit Rasulullah, Syekh Ali Zainal Abidin. Ini nyambung dengan tulisanku sebelumnya tentang rasa fatal dan sense of severity.
Beliau bilang, "ahwa un-nadhirin," kita meremehkan-Nya.
Bayangkan ada seekor kucing yang melihat kita dan kita melakukan hal yang haram, apakah kita akan peduli?
Beginilah cara kita memperlakukan Allah.
Ketika kamu mengingat dosa-dosamu, ingatlah bagaimana kamu telah meremehkan Allah. Tanyakan pada dirimu, "mengapa saya begitu meremehkan Allah?"
Bersambunglah ke kutipan yang sangat indah yang sering dibaca di malam-malam Ramadhan. Kutipannya berasal dari doa Abu Hamzah Ats-Tsumali, sebuah doa panjang yang diriwayatkan dari Syekh Ali Zainal Abidin.
وَ يُحَمِّلُنِي وَ يُجَرِّئُنِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ حِلْمُكَ عَنِّي
Wa yuhammiluni wa yujarri’uni ‘ala ma’siyatika hilmuka ‘anni
"Dan (aku takut) kelembutan-Mu terhadapku membuatku terbiasa (berani) bermaksiat kepada-Mu."
Syekh berkata, "tahukah kamu mengapa kita tidak peduli kepada Allah? Mengapa kita tidak malu?"
Karena Allah itu toleran, kita berdosa dengan keyakinan yang begitu berani seolah-olah Allah tidak ada, karena kita tahu Allah itu Maha Penyayang. Kita tahu kesabaran-Nya dalam tidak langsung menghukum. Kita tahu Allah akan memberi kesempatan kedua dan ketiga dan sejuta kesempatan. Kita tahu Allah itu pemaaf dan kita memanfaatkan rahmat-Nya.
Kita memanfaatkan Allah. (damn..)
Bayangkan seseorang bersikap baik kepadamu. Setiap kali kamu tidak menghormatinya, dia tidak mengatakan apa pun, seolah-olah ketidakhormatanmu tak cukup berarti untuk mengusiknya. Awalnya, mungkin kau merasa seperti seorang penguasa yang bisa berbuat sesuka hati tanpa konsekuensi. Namun, semakin lama, kebaikan Allah yang tak tergoyahkan itu berubah menjadi cermin yang memantulkan seluruh keburukanmu.
Di situ aku pengen menyanggah bahwa aku nggak pernah menyengaja meremehkan-Nya. Aku nggak pernah bilang bahwa Allah itu nggak penting. Tapi kalau dipikir-pikir, inkonsisten juga ya, dengan tindakanku. Berarti itu udah cukup menjadi pernyataan.
Ternyata jadi shalihin itu susah banget. Lurusnya mulai dari niat, motif, ucapan, pemikiran, sampai tindakan. Hulu ke hilir harus konsisten. Pantesan termasuk "sebaik-baiknya teman" di jajaran setelah nabiyin, shadiqin, dan syuhada. Astaghfirullahal adziim.
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعفو عنى
— Giza, jadi sampai kapan cenah bakal terus ngelunjak?
Hanya melalui pertentangan terhadap gagasan-gagasan kita dapat belajar bersikap kritis terhadap diri sendiri, berupaya mencapai kerendahhatian intelektual.
— Tariq Ramadhan
Di usia ini aku baru sadar, sepinter apapun orang, dia nggak bisa pinter sendirian. Setiap orang butuh yang namanya teman sparing mental - emosional - intelektual.
(*mau itu teman, mentor, ortu, saudara, bisa siapa aja)
Yang harus sama-sama cukup tough untuk menangani hard convo (konflik), harus cukup punya energi untuk menyelami deep convo, dan harus cukup punya ketahanan belajar untuk dapat mengikuti heavy convo.
Tentang hard convo bisa rujuk ke sini
Tentang jenis-jenis convo (hard, heavy, deep) bisa rujuk ke sini
Tentang teman sparing (teman melukai ego) bisa rujuk ke sini
Keuntungan punya teman sparing adalah jadi punya "mata lain" yang bisa nge-address blindspots kita di mana. Punya "otak lain" yang kadang-kadang pemrosesan informasinya mungkin aja beda dengan kita. Dengannya kita dapat melihat kehidupan lebih dari satu sudut pandang. Dan konsekuensinya adalah harus siap mendapati diri kita mungkin salah dalam memandang sesuatu. Skill belajar nerima kita bisa salah tuh susah banget karena kecenderungan setiap manusia pengen dianggap bener.
Kalo aku pribadi mah, sebagai bentuk mensyukuri teman, suka bilang, "pengen minjem otak" ke dia pas lagi butuh brainstorm wkwk.
Jadi jangan gampang kesenggol bacok. Namanya juga sparing. Titik-titik sensitif mah mungkin aja kena, baik disengaja ataupun tidak. Yang terpenting adalah harus saling membangun trust bahwa teman sparing kita itu kapabel dan nggak punya motif apapun ke kita selain sama-sama pengen bertumbuh dan pengen selamat. Jadi sekalipun ada konflik, penyelesaiannya juga cepat beres tanpa residu prasangka atau residu feeling too much.
Soalnya dalam hal bersparing, justru butuh orang yang nggak too much di mata kita, dan kitanya nggak too much di mata dia. Harus jadi diri sendiri seapa adanya kita (otentik). Supaya bisa ke-address nih titik-titik mana aja yang harus diimprove.
Apa sih yang teman sparing ini sebenarnya saling lakukan?
Kata Cania, sebenernya sesuatu yang so fvcking obvious sih: FEEDBACK. Tapi ternyata, gak semua orang bisa spot celah improvement dengan tepat, sehingga feedback-nya jadi sia-sia (gak relevan dengan potensi partnernya yang lagi digarap).
Sejak lima tahun lalu, aku kayak menjalani heavy training bersama teman sparingku ini untuk all-in personal development. Intinya optimalize semua potensi yang udah sama-sama kita punya, baik yang belum tergarap sama sekali atau sudah tergarap setengah atau seperempat jalan. Identifikasi bareng-bareng, bentuk mentah atau bentuk paling kekanakan dari satu bakat itu apa. Bentuk paling sehatnya bakal kayak gimana, itu yang dijadiin goals.
Nah, aku banyak banget dibenerin bahkan di bagian fundamental; kayak logika, cognitive empathy, stabilitas dalam merespon (me-non-otomatisasi tombol senggol bacokku), memisahkan kata dari emosiku (pemilihan diksinya bebas nilai), belajar unlearn sesuatu, dsb.
Jadi level kami udah bukan lagi kedekatan emosional. Kayaknya kalau itunya kelebihan, nggak terlalu berguna juga ya ketika mau bertumbuh di mental dan intelektual. Justru secara emosional mah harusnya emang jangan terlalu deket, sebab nanti sensitivitasnya malah tinggi pas sparing, jadi jatuhnya malah sungkan dan tanggung. Maka ada jarak-jarak emosional yang perlu disetting supaya kedekatan mental dan intelektual juga bisa dicapai.
Ini mungkin rada tabu dan pick me ya. Kebanyakan pertemanan di kalangan ukhti tuh masih di level emosional dan kaya akan word of affirmation (fake appreciation, pansos, rentan prasangka, senang dipuji dan menikmati egonya dikasih makan pujian). Nah level ini akan mudah lepas kalau stage emosi masing-masingnya berjalan ke arah yang berbeda/tumbuh dengan kecepatan yang berbeda. Ganti vibes dikit, langsung turn off dan ganti temen :v
Emotional excitement yang berlebihan tanpa diiringi pertumbuhan intelektual juga bakal rentan terkungkung di subjective reality-nya sendiri. Ngerasa deket tapi ya menurut pov dia aja sendiri wkwk kasian.
Kenapa aku coba ngangkat kasus itu, selain pengalaman pribadi ya juga karena ada concern pribadi bahwa menurutku para ukhti juga perlu bertumbuh secara framework, secara mental, dan secara intelektual. Kenapa perlu? Karena hasad tuh bisa diatasi dengan pertumbuhan-pertumbuhan itu.
Kupikir bersyukur soal seseorang tuh nggak melulu tentang berterima kasih ke Allah dan larut menghayati keterharuan emosional. Aku lebih suka mengartikannya memberdayakan diri melalui teman dan sebaliknya, memberdayakan teman melalui diri. Inilah yang dimaksud pertemanan yang tulus. Ga cuma nyentuh emosi, tapi silaturahmi akal juga, adu kuat-kuatan mental tanpa ngotorin emosional juga.
Kita Bukan Anantara
Seperti menanam benih, ada alasan mengapa kita diberi ruang yang cukup. Tidak berimpitan, agar ada tempat untuk kita berkembang; berperan di hadapan dunia, bermakna di hadapan Tuhan. Dan tidak berjauhan, agar ada sempat untuk kita berbincang; bermakna bagi satu sama lain. Dekat tak sikut-sikutan, jauh tetap kedengaran.
Semoga desak tak menghambat gerak. Semoga jarak tak membuat kita saling berteriak.
Akhir kata, semoga setiap orang dapat menemukan tempat di mana dia diterima apa adanya lalu kemudian bisa bertumbuh jadi versi dirinya yang paling otentik. Bagi yang udah punya, semoga dimampukan untuk memberdayakannya (khususnya untuk diri sendiri sih inimah).
Bagi yang udah nikah, mungkin orang itu suami/istrinya yach wkwk. Tapi sebenarnya lebih seru kalau punya temen sparing kayak gini dari sebelum nikah. Karena sehat mental, emosional, dan intelektual (nggak aadatan) tuh emang harus diusahakan dari sebelum nikah. Jadi pas nikah tuh udah clear peer-peer dalam dirinya. Udah dalam versi terbaik dirinya. Udah jadi manusia yang enakeun.
— Giza, pengen jadi manusia yang ngenaheun agar batur tidak sangeunahna