Hai, apa kabar?
Dari sekian pertanyaan yang ada di benakku. Aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Meski pertanyaan itu hanya akan menjadi pertanyaan yang tak akan pernah tersampaikan padamu.
Aku rindu.
Kalimat kedua yang ingin aku sampaikan agar kamu tahu. Namun, hanya menjadi kerinduanku semata. Kamu tahu? Menjadi asing denganmu adalah hal yang tak pernah aku mau. Namun, aku membuatnya seperti itu. Ada beberapa tempat yang sering aku lewati tapi tak pernah bisa aku kunjungi. Aku ingin mengunjunginya bersamamu.
Aku menyangkal setiap perasaan yang hadir. Di sini aku ingin mengakuinya secara terang-terangan. Secara blak-blakan. Aku merindukanmu. Rindu kamu yang merengek karena aku yang cuek. Rindu mendengarkan setiap cerita keseharianmu. Rindu suaramu.
Orang bilang rinduku hanya pada momennya saja yang pernah kita lalui bukan orangnya. Namun, kenapa setiap malam sosokmu hadir dalam ingatan? Orang bilang aku hanya belum menemukan seseorang yang bisa menghapusmu sepenuhnya di dalam benakku. Namun, aku tak ingin melibatkan siapa pun untuk prosesku mengikhlaskanmu.
Ternyata berat ya. Komunikasi kita sudah terputus sepenuhnya. Aku tak akan tahu kabarmu. Barangkali kamu sedang tertawa ceria dengan pasanganmu. Atau sedang merencanakan hal besar di tahun ini secara targetmu menikah di tahun ini bukan. Aku tidak bisa membayangkan sebenarnya bagaimana perasaanku jika ada undangan hadir kepadaku atas namamu. Apakah aku bisa hadir dengan senyuman mengikhlaskanmu atau barangkali dengan air mata tertahan? Ah atau mungkin kau tak berniat mengundangku.
Ada rasa sakit, berat, dan lega ketika aku melihat storymu dengan pasanganmu. Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana perasaan itu. Namun, yang pasti kenapa ada rasa lega. Karena kamu tidak terpuruk begitu lama karena aku. Sudah aku bilang kan kamu dalam proses mengungguku akan menemukan yang terbaik dari pada aku. Terima kasih untuk tidak menunggu dan memutuskan untuk mengejar ia.
Perasaanku hancur sebenarnya. Aku ingin diperjuangkan juga. Namun, kebahagianmu yang utama. Bersamaku kau hanya akan menemukan luka-luka baru. Sedang dengannya kau akan merayakan banyak bahagia.
Hal yang paling tak bisa kuterima adalah keasingan kita. Kamu menutup komunikasi di antara kita. Namun, aku harus memahami kan bahwa itu keputusan yang terbaik bagimu. Menghargai kamu dan pasanganmu.
Sebenarnya aku ingin menghubungimu menanyakan banyak hal. Aku urungkan untuk tidak masuk dalam hidupmu lagi. Untuk tidak mengganggu perasaanmu lagi.
Kita benar-benar harus seasing ini, ya? Bisa tidak kita berteman saja? Aku tahu batasanku kok. Keasingan ini menyiksaku.
Kamu ... baik-baik saja kan?
Kamu ... bahagia kan?
Hei, aku rindu.












