ternyata, semuanya tetap baik-baik saja meski kamu pergi. karena sungguh Tuhanku maha baik kepadaku,. setelah ini asinglah untuk selamanya..
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Mexico
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
ternyata, semuanya tetap baik-baik saja meski kamu pergi. karena sungguh Tuhanku maha baik kepadaku,. setelah ini asinglah untuk selamanya..
Asing itu...
Ketika kamu merasa dunia terus bergerak dengan ritmenya yang begitu cepat. Sementara kamu masih saja mematung di tengah, bertanya-tanya ke mana seharusnya kakimu melangkah.
Jarak dalam Kedekatan;
Lampu kafe ini tak terlalu benderang, tapi cukup terang untuk memperlihatkan kepulan uap dari cup kopi yang baru saja diletakkan seorang pelayan di hadapanku. Ia tersenyum tulus, menyadari mataku yang sembab, lalu berbisik pelan, "Kopinya saya tambahkan sedikit karamel, semoga harimu membaik."
Aku tertegun. Seorang asing yang bahkan tak tahu nama tengahku bisa merasakan ada yang retak di dalam sana. Sementara kamu? Kamu yang tahu bagaimana aku menyukai kopi hitam tanpa gula, yang tahu jam berapa aku bangun, dan yang menyimpan ribuan memori bersamaku, justru duduk di seberang meja dengan pandangan terkunci pada layar ponsel.
Kita berada dalam satu lingkaran yang sama, namun rasanya seperti terpisah galaksi.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan hari ini:
"Terkadang, perhatian justru datang dari orang-orang yang tak mengenalku sebaik kamu."
Karena bagi mereka, aku adalah manusia yang butuh dianggap ada, sedangkan bagimu, aku hanyalah sebuah kebiasaan yang mulai membosankan.
"Sangat melelahkan saat harus menjelaskan rasa sepi kepada seseorang yang seharusnya menjadi tempatmu pulang."
396
Memilih Berpisah
Perpisahan ini adalah pilihan yang tepat, ia menyudahi setiap harap yang tak mungkin tergarap. Pundak juga hati kita setidaknya akan terasa lebih ringan dari beban-beban rapuh soal masa depan. Memang kita harus menerima bahwa kita tak ditakdirkan. Bila kita saling ditakdirkan maka paling tidak ada tenang dalam setiap riuh cobaan, bukan?
Setelah sejauh ini saling mengenal, mustahil menjadi teman adalah alternatif pengakhiran. Tidak bisa. Aku tidak sekuat itu. Maka, kita harus sudahi segalanya demi kebaikan kita bersama.
Mari menjadi asing, sepasang yang melupakan bahwa pernah saling.
Kita pernah menjadi yang paling riuh kala itu, dulu kita tak pernah berharap asing ini datang lebih cepat di antara kita. Lalu di suatu hari kita tak lagi menemukan pesan selamat pagi yang merekah kan senyum kita di pagi itu.
Aku tidak hanya kehilangan notif favorit ku, tapi juga kehilangan kamu sekaligus, gengsi membuat asing semakin menertawakan kita. Apa tak ada yang dapat menyelamatkan kita dari jebakan rindu, yang menyesakan dada?
Di balik asing yang kian membentangkan jarak, dan kamu yang terasa semakin tak bisa ku rengkuh, aku selalu menemuimu berkali-kali dalam kenangan.
@ceritajihan
Luwuk Banggai 8 Februari 2025
(Bukan) Mereka yang Pergi
Kadang kita ngerasa sepi di tengah keramaian. Orang-orang yang dulu akrab mulai terasa asing. Grup chat sepi, kabar jarang datang, dan tiba-tiba aja semuanya kayak menjauh tanpa alasan. Aku juga pernah ngerasa gitu—kayak ditinggalkan, padahal nggak tahu salah di mana. Rasanya nyesek, kayak berdiri sendirian di stasiun sementara kereta udah pergi.
Tapi setelah lama diam dan belajar memahami, aku mulai sadar: mungkin bukan mereka yang pergi. Mungkin justru aku yang pelan-pelan mundur tanpa sadar. Dalam psikologi, ada istilah withdrawal—saat seseorang menarik diri perlahan dari hubungan yang dulu terasa hangat. Kadang bukan karena marah, cuma capek menjaga ritme yang udah nggak sama.
Aku inget kutipan dari Totto-chan, “Setiap anak punya pintu masuknya sendiri untuk memahami dunia.” Dan kayaknya setiap orang juga punya pintu keluarnya sendiri dari sebuah hubungan. Dulu kita bisa jalan bareng, tapi waktu dan cara berpikir yang tumbuh beda bikin langkah itu mulai nggak seirama lagi.
Sekarang aku nggak buru-buru nyalahin siapa pun. Kadang yang menjauh nggak butuh dipanggil balik—cukup dihargai jaraknya. Dan di titik ini, aku malah ngerasa tenang.
Nggak semua kehilangan butuh dikejar, right?Ada yang cukup disenyumin aja sambil bilang dalam hati, “Makasih ya, udah pernah bareng sejauh ini.” :)
Aku pernah menahtakan cintaku padamu dan berujung pada melarung lautan senyap.
Aku pernah mencintai mu sejerih payahku dan berujung pada ketidakberpihakan tuhan.
Aku pernah melihat mu bersanding dan aku patah oleh seisi dunia tentang mu.
Aku mencintai mu sejauh mungkin, pada akhirnya aku tak punya keharusan memiliki mu.
Aku pernah dan semua usai.
Sentosa, 27 Mei 2020