Queen of Diamonds (Menkes, 1991)

seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from Australia

seen from United States

seen from United States
seen from Russia
seen from Macao SAR China
seen from United States
seen from United States
seen from Portugal

seen from United States
seen from China
seen from Russia
Queen of Diamonds (Menkes, 1991)
BEBERAPA waktu lalu Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin memposting soal kecap di akun Instagram-nya terkait dengan kecap. Dalam postin
BEBERAPA waktu lalu Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin memposting soal kecap di akun Instagram-nya terkait dengan kecap. Dalam postingan itu, Menkes menyatakan keterkejutannya dengan tingginya kadar natrium di dalam kecap yakni pada kisaran 350–500 miligram natrium dalam satu sendok makan.
Dengan kisaran itu, berarti dalam empat sendok makan saja, sudah melampaui batas aman konsumsi natrium sebagaimana menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 2.000 miligram per hari.
Budi Gunadi Sadikin, kemudian mengimbau masyarakat untuk memperhatikan konsumsi kecap dalam makanannya khususnya pada makanan manis seperti gudeg dan bacem yang secara perlahan akan meningkatkan tekanan darah.
Menyimak hal itu, Ahli Gizi FKKMK (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawata (UGM) UGM Dr. Toto Sudargo, M. Kes, mengapresiasi materi edukasi yang disampaikan Menkes terkait tingginya kadar natrium pada kecap yang tidak banyak orang sadari.
Pak Menkes Diadukan ke Polisi oleh Dokter Gara-Gara Ga Pake Gelar Doktorandus
Jakarta, EDITOR.ID,- Ada-ada saja di Indonesia ini. Gara-gara tak mencantumkan gelar Doktorandus, Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, dilaporkan lima orang dokter ke polisi. Budi Gunadi adalah lulusan Fisika Nuklir, Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia senang mencantumkan gelar Insinyur ketimbang Doktorandus. Tapi apa kerugiannya kok sampai dipolisikan. Kelima dokter itu menuding…
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak pemerintah China bekerja sama di bidang kesehatan, khususnya dalam mencegah penyakit tuberkul
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak pemerintah China bekerja sama di bidang kesehatan, khususnya pencegahan penyakit tuberkulosis (TB).
"China dan Indonesia memiliki banyak kesamaan prioritas di bidang kesehatan, khususnya dalam layanan kesehatan. Jadi kita saling belajar dan bekerja sama," kata Menkes Budi Gunadi dalam keterangan tertulisnya.
"Indonesia dapat banyak belajar dari keberhasilan China dalam menurunkan status prevalensi TB dari tingkat sedang ke rendah," imbuhnya.
Menurut Menkes dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Komisi Kesehatan Nasional China Lei Haichao pada Jumat (27/3) di Beijing, pihaknya berharap bisa belajar dalam memperkuat transformasi digital sistem kesehatan dan memanfaatkan keunggulan China di bidang AI dan teknologi
Fellowship dokter Indonesia
Menkes juga mengapresiasi dukungan China atas pelaksanaan program fellowship bagi para dokter Indonesia dalam setahun terakhir. Terdapat 113 dokter spesialis asal Indonesia yang mengikuti program tersebut.
Dalam kesempatan itu Menkes mengundang Menteri Lei untuk menghadiri "joint committee meeting antar kementerian kesehatan RI dan China di Indonesia.
Kunjungan Menkes ke Beijing sendiri untuk memenuhi undangan Universitas Tsinghua dan Chinese Academy of Engineering sebagai pembicara kunci dalam The 2026 Zhongguancun Forum - World Digital Health Forum. (*/N-01)
Menkes Pastikan RSUD TBSI Kubu Raya Siap Layani Penyakit Katastropik
KALBAR SATU ID – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meninjau Rumah Sakit Umum Daerah Tuan Besar Syarif Idrus (RSUD TBSI) Kubu Raya di Kecamatan Rasau Jaya, Jumat (6/2/2026). Menkes hendak memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan di RSUD yang telah ditingkatkan menjadi rumah sakit Tipe C melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Kementerian Kesehatan. PHTC merupakan salah satu program…
MENTERI Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pembukaan jalur pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit merupakan kebijak
MENTERI Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pembukaan jalur pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit merupakan kebijakan afirmatif untuk memperluas akses putra-putri daerah terhadap pendidikan spesialis, sekaligus mendorong pemerataan layanan kesehatan secara nasional.
Melalui penetapan Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan jumlah dokter spesialis yang berasal dari daerah dan kembali mengabdi di wilayah asalnya setelah menyelesaikan pendidikan.
Kebijakan ini merupakan bagian dari transformasi sistem pendidikan kedokteran nasional, dengan target peningkatan jumlah lulusan dokter spesialis dari sekitar 2.700 menjadi 10.000 orang per tahun. Menurut Budi, langkah tersebut diperlukan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara maju dalam rasio dokter spesialis terhadap jumlah penduduk.
“Kalau kita hanya memproduksi 2.700 dokter spesialis dengan populasi 280 juta jiwa, sementara Inggris bisa menghasilkan 12.000, berarti ada yang harus diperbaiki. Produksi dokter spesialis kita harus naik minimal empat kali lipat,” ujar Budi, Rabu (22/1).
MENTERI Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang yang terukur, berbasis data, dan
MENTERI Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya perencanaan tenaga kesehatan jangka panjang yang terukur, berbasis data, dan sesuai perubahan epidemiologi serta demografi Indonesia. Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional rangkaian HUT ke-25 Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) di Jakarta, Kamis (27/11).
Budi menjelaskan bahwa perubahan struktur penduduk, terutama meningkatnya proporsi lansia, akan menggeser pola penyakit dan memengaruhi kebutuhan tenaga kesehatan. “Di DKI Jakarta, jumlah lansia sudah lebih banyak daripada balita. Pergeseran ini otomatis mengubah kebutuhan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Seiring meningkatnya penyakit degeneratif seperti jantung, stroke, kanker, dan gangguan ginjal, Indonesia membutuhkan lebih banyak dokter spesialis serta tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus. Namun produksi tenaga medis masih jauh dari mencukupi.
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) memastikan akan melakukan perbaikan menyeluruh terhadap sistem kegawatdaruratan dan tata kelola layanan kes
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) memastikan akan melakukan perbaikan menyeluruh terhadap sistem kegawatdaruratan dan tata kelola layanan kesehatan menyusul kasus meninggalnya Irene Sokoy di Papua.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa persoalan serupa tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga di banyak daerah lain.
“Masalah ini tidak hanya di Papua. Kebetulan yang masuk pemberitaan saja, tetapi daerah lain juga mengalami hal serupa,” ujar Budi dalam konferensi pers hasil investigasi penolakan pasien di Papua, Kamis (27/11) di Jakarta.
Budi mengungkapkan bahwa salah satu akar masalah adalah kekurangan dokter spesialis, terutama obstetri-ginekologi (obgyn) dan anestesi, yang secara masif terjadi di luar Pulau Jawa.
Kondisi ini menyebabkan pelayanan gawat darurat terganggu karena tidak tersedia dokter pengganti saat dokter bertugas mengikuti pendidikan atau pelatihan.