A Talk About Marriage
Kamis, 18 Agustus 2016. 18.23. Masih di kantor, mau pulang tapi tiba-tiba kepengen nulis.
EDIT. Baru paragraf pertama langsung di-save draft karena tiba2 si bos dateng ngajak meeting sampe jam 8. Keburu gak mood nulisnya. Dilanjutin hari Senin, 22 Agustus 2016. 10.43.
Sebenernya udah lama pengen nulis tentang “pernikahan”. Dimulai dari sosial media saya yang isinya mulai dipenuh wajah bayi, balita, juga post menghadiri undangan atau yang mengundang. Pun dari pengalaman saya beberapa tahun ke belakang yang selalu mendengar pertanyaan “kapan nikah” tiap ada pertemuan keluarga. Yaa, memang umur saya sudah berada di kategori umur nikahable sih.. #MENOLAKDEWASA
Saya sudah gemas mengeluarkan apa yang ada di pikiran saya ketika kalimat tanya sakral “kapan nikah” itu dilontarkan, tapi baru hari ini saya tulis. Mainly, karena tadi pagi saya baca artikel yang mengulas “kisah inspiratif” anak Ustadz Arifin Ilham yang menikah di umur sangat muda, yang bahkan sebenarnya belum legal di Indonesia, 17 tahun. Setahu saya laki-laki minimal 19 tahun untuk menikah. Anyway, dari yang saya lihat jadi semakin banyak orang yang kebelet untuk nikah muda. Alasannya untuk menghindari zina dan berjihad.
Memangnya menikah adalah alasan untuk melakukan seks secara legal? Apakah nafsu tidak bisa ditahan, sampai rela mengorbankan masa muda untuk melakukan seks secara legal? Ya kalau memang tujuannya adalah untuk melakukan seks secara legal, silakan.. Tapi ingat, resiko ditanggung sendiri. Nafsu tidak bertahan lama lho.. Yang sudah matang saja banyak yang gagal, bagaimana yang masih labil?
Menurut saya, menikah bukan urusan main-main. Masih banyak hal yang harus disiapkan untuk menikah, mulai dari orang yang ‘tepat’, mental, materi, planning ke depan, status sosial, dan sebagainya. Kalau saya belum berrencana menikah, ya berarti saya belum siap. Bukan berarti harus menunggu siap, tapi sedang mempersiapkan, namun belum matang. Saya pribadi, mungkin materi sih, yang paling saya sedang usahakan. Saya masih mau meraih yang saya inginkan, jadi, stop menanyakan kapan nikah.
Oh iya, saya juga follow akun ide pernikahan di Instagram, karena saya sedang mencari ide untuk dress bridesmaid. Saya perhatikan, kenapa isinya selalu pernikahan super mewah luar biasa ya? Tidak ada tips menekan budget? Ah saya rasa saya salah follow hehehe.. Saya tidak tertarik dengan pernikahan mewah seperti itu. Bukannya pelit, tapi saya rasa pernikahan akan berarti lebih jika dirayakan oleh orang-orang terdekat saja, dengan cara yang kita pribadi inginkan. Gengsi itu tidak penting.
Begitu juga dengan konsep pre-wedding yang sering saya temui. Saya tidak mau ada foto pre-wedding yang seperti orang kebanyakan. Menurut saya, momennya palsu karena sengaja dibuat dengan senyum yang dibuat, ditutupi make up tebal. Saya rasa itu juga salah satu alasan untuk si perempuan merasakan menjadi model sehari hahaha. Selama pacaran kan pasti banyak momen istimewa, kenapa tidak dipakai untuk jadi pre-wed?
Rencananya, saya tidak akan buat pernikahan mewah, tidak mau undang banyak orang, saya tidak akan buat foto prewedding. Saya juga punya konsep pernikahan impian yang tidak terlalu tradisional. PASTI ada saja yang ngomongin di belakang,
“ah gak modal banget gak foto prewedding, fotonya gak niat gitu”,
“kok nikahan bajunya hitam?”,
“kok gak undang-undang? Hamil di luar nikah?”.
You know what, this is MY wedding, why don’t you plan your own and you need to shut the eff up.
Lagian, budgetnya lebih baik dialokasikan ke planning masa depan, kan? Bisa untuk cicil rumah, mobil, tabungan anak, tabungan masa tua, daripada habis di satu malam untuk menyenangkan orang lain yang bahkan kamu tidak kenal. Demi gengsi.
Untuk orang di luar sana yang gerah ditanya kapan nikah, take it easy, jangan sampai kebawa peer-pressure dan malah ambil rushed decision. You will marry at the right time, with the right person. Or not, if you don’t intend to marry at all.










