Pada saat menstruasi, perempuan sering mengalami perubahan perasaan (mood swing), mulai dari mudah marah, mudah nangis, dan sebagainya. Kita sering mendengar bahwa sebutannya adalah PMS, tapi sebenarnya PMS itu apa sih?
Disini saya ingin sharing tentang apa yang saya ketahui tentang PMS, mulai dari pengertiannya, gejala, penyebab, sampai terapinya, so get ready!
Menurut Rose (2009), Pre-menstrual syndrome (PMS) adalah suatu kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku yang terjadi pada fase luteal pada siklus menstruasi, dan bisa berkurang atau hilang samasekali pada beberapa hari pertama mestruasi. Gejalanya bersifat ringan hingga sedang, dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ada hal yang perlu kamu tahu lho, bahwa ternyata PMS dan nyeri haid itu beda! PMS lebih ditekankan pada perubahan gejala emosional, sedangkan nyeri haid (atau istilah medisnya Dismenore) lebih ditekankan pada nyeri rahim saat menstruasi.
Gejala PMS sebagian besar bersifat merugikan: mulai dari gejala emosional seperti iritabilitas (lebih sensitif), mood labil, sulit konsentrasi, dan dapat memperparah penyakit mental seperti depresi dan anxietas; gejala fisik yang terjadi adalah rasa letih, perut kembung, payudara membengkak, sakit kepala, dan nyeri perut; sedangan gejala perilakunya adalah perubahan nafsu makan.
Namun, ada pula gejala PMS yang besifat menguntungkan bagi beberapa orang lho! Misalnya seperti meningkatnya energi, kontrol diri, dan meningkatkan libido.
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun banyak teori yang menyebutkan bahwa perubahan hormon saat menstruasi mungkin mempengaruhi sensitivitas neurotransmitter (senyawa kimiawi yang membawa sinyal pada syaraf), sehingga menyebabkan rasa iritabilitas. Salah satu contoh neurotransmitter tersebut adalah serotonin. Kadar serotonin yang baik akan membuat suasana hati menjadi baik. Pada PMS, hormon estrogen dan progresteron akan sedikit mengganggu keseimbangan serotonin, sehingga mood menjadi lebih buruk dari biasanya.
Gejala PMS merupakan kumpulan perubahan mood, sehingga pilihan treatment-nya juga bermacam-macam. Tujuan terapi adalah untuk meningkatkan mood sehingga hati menjadi senang dan tenang, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Non-farmakologi (tanpa obat-obatan)
Terapi non-farmakologi untuk PMS bisa bermacam-macam, seperti menghindari pemicu stres, istirahat yang cukup, melakukan senam aerobik, relaksasi dengan yoga, atau memodifikasi pola makan. Beribadah juga merupakan pilihan terapi yang bagus, karena dapat membuat hati menjadi tenang.
Vitamin B6, vitamin E, dan vitamin D bisa jadi pilihan untuk mengurangi lelah badan dan pembengkakan payudara. Suplemen kalsium bisa memperbaiki mood swing, mengurangi nafsu makan yang terlalu tinggi, dan mengurangi pembengkakan payudara. Obat golongan NSAID seperti Ibuprofen juga dapat menurunkan sakit kepala dan letih badan.
Untuk orang-orang yang menderita PMS berat sampai mengalami depresi dan/atau anxietas, disarankan untuk meminum obat-obatan yang dapat meningkatkan neurotransmitter seperti obat golongan SRI (Serotonine-Reuptake Inhibitor), contohnya adalah Clomipramin dan Citalopram. Namun, penggunaan obat ini harus dengan pengawasan ketat oleh psikiater yang kamu percaya.
Perhatikan, penggunaan obat-obatan ini sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau apoteker agar kamu bisa mendapat arahan jelas tentang dosis dan aturan pakainya.
Minuman yang mengandung kunyit dan kecur bisa mengurangi gejala PMS karena adanya kandungan senyawa curcumin yang dapat mengurangi pusing dan nyeri perut.
Pernah ngidam coklat waktu PMS kan? Nah, ternyata coklat mengandung senyawa metilxantin, dimana senyawa ini dapat memperbaiki kesetimbangan neurotransmitter di dalam otak, sehingga mood kita menjadi lebih baik.
Kesimpulannya, ada banyak pilihan treatment yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi PMS ini. Kamu bisa pilih senyaman yang kalian inginkan, berdasarkan tingkat keparahan yang kamu alami. Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker kalau kamu ingin menerapkan terapi farmakologi.
Demikian ilmu yang bisa saya share untuk hari ini! Semoga ilmu yang saya berikan bisa bermanfaat untuk kalian semua.
Thank you for reading this far, and stay happy!
Penulis: Aida Nurmalita/172210101095
Tanggal Penulisan: 7 April 2020
Branham, A. dan S. M. Caiola. 2009. Book Review: Handbook of Nonprescription Drugs: An Interactive Approach to Self-Care, 16th Edition. Annals of Pharmacotherapy. 2009.
Bruinsma, K. dan D. L. Taren. 1999. Chocolate: Food or Drug? Journal of the American Dietetic Association. 1999.
Cowen P. J., & Browning, M. (2015). What has serotonin to do with depression? World Psychiatry. 2015 Jun;14(2):158-60.
Khayat, S., H. Fanaei, M. Kheirkhah, Z. B. Moghadam, A. Kasaeian, dan M. Javadimehr. 2015. Curcumin attenuates severity of premenstrual syndrome symptoms: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Complementary Therapies in Medicine. 23(3):318–324.
Yonkers, K. A., P. M. S. O’Brien, dan E. Eriksson. 2008. Premenstrual syndrome seminer lancet 05_04p1200_1210g.indd. Lancet. 371:1200–10.