PULANG
Ah sungguh! Novel karya Tere Liye biasa menggugah siapa saja yang membacanya. Aku pikir sih begitu. Karena aku baru saja rampung menyelesaikan novel yang tebalnya 400 halaman itu dalam 2 hari! Yap, awal membacanya itu berat, tapi aku paksakan karena tidak terlalu banyak aktifitas, tak ada alasan aku untuk tidak lagi membaca.
Bisa dibilang sudah lamaaa sekaliii aku tidak baca buku. Yap! semenjak disibukan dengan rutinitas pekerjaan yang, hmm never ending job, kerjaan itu semakin dikejar dan dikelarin, malah gak kelar-kelar loh. Artinya, setiap satu kerjaan beres, akan menambah kerjaan lainnya, Ya itu sih hukum alam, dimana kita telah selesai dengan sesuatu maka akan ada urusan lain yang perlu dihadapi, that’s it gaes!
Balik lagi ke judul, tentang pulang. Sedikit meresume secara sederhana novel berjudul pulang ini. Buku yang awalnya berat dibaca, setelah mencobanya jadi ketagihan gak mau berhenti. “Pulang” di novel ini mengisahkan perjalanan panjang tiap orang untuk kembali kepada sesuatu yang baik. Seburuk apapun masa lalunya, sekelam apapun yang dialami, tidak menutup kemungkinan ia untuk berubah mencari jalan terang, asalkan dia tau kemana harus pulang.
------------------------------------------------
Seorang anak yang tinggal di suatu kampung, diajak ke kota dengan dalih menjadikan hidupnya lebih baik, dan salah satu bentuk hutang budi atas jasa ayahnya yang sudah menyelamatkan suatu keluarga sebab telah terjadi pertarungan besar di masa silam. Ayah sang anak adalah seorang tukang pukul paling mahsyur turunan ayanya. Karena cintalah yang menyebabkan berhenti dari pekerjaan itu, cinta dalam arti sebenarnya: mencintai seseorang. Dia memilih tinggal di kampung, mengurusi ladang bersama istrinya yang sudah dia cintai puluhan tahun, tanpa restu.
Sang anak yang dikenal dengan nama “Si Babi Hutan” tumbuh dewasa dengan perbekalan ilmu pengetahuan sampai ke Negeri seberang, untuk menjalankan kehidupannya sebagai tangan kanan keluarga yang sudah membawanya pergi ke Ibu Kota. Menjadi garda depan dalam melaksanakan roda bisnis yang terbilang cukup ilegal, dia yang tidak pernah mengenal rasa takut berlayar kemanapun dia punya tujuan demi menggerakan bisnis keluarga yang dikenal dengan nama “Keluarga Tong”.
Musuh pasti berdatangan kala di puncak kejayaan, sudah hukum alam akan ada yang pro dan kontra pada kesuksesan seseorang. Keluiarga itu berhasil menguasai asia pasifik, dan perebutan kekuasaan mulai terjadi antar keluarga. Dengan segala macam dinamika, peperangan yang melibatkan nyawa berangsur-angsur terjadi.
Hingga pada titik dimana semuanya sudah usai, bukan karena lelah merebutkan, menang atau kalah. Tapi pemeran utama, alias “Si Babi Hutan” menemukan makna kehidupan yang tidak pernah ia cari. Dalam perjalanannya mengemban ilmu, baik ilmu yang menjadi kekuatannya berpikir dan ilmu ketangguhan fisiknya, setiap gurunya memberikan arahan dan pesan yang saat ia belajar tidak pernah tahu maksudnya, sampai ia mengerti ketika menghadapi situasi pelik dan hanya dirinya yang mampu memecahkannya.
Berkat bantuan saudaranya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, padahal saudaranya sudah jauh memantaunya. Ia kembali menemukan jalan “pulang”, tidak pernah ia merencanakan sebelumnya. Kepulangannya bukan hanya pada tempat/rumah dimana ia dibawa pergi ke Ibu Kota, bukan pada seseorang saja (sebab kedua orangtuanya sudah meninggal saat dia kembali pulang), tapi juga pulang kepada ajaran masa kecilnya.
Ajaran yang mengantarkannya untuk kembali menerima panggilan Allah, yang semula telinganya pengang saat toa masjid mengumandangkan Adzan, baginya suara itu memekakan dan mengundang kesedihan masa lalu. Disini, masa lalu, hari ini, dan masa yang akan datang itu berkelindan erat. Yang menjadi tindakan pada hari ini akibat apa yang pernah dirasakan di masa lalu, dan menjadi tujuannya di masa depan.
-------------------------------------------------------
Membaca langsung novelnya akan membawa kamu mengerti apa maksudnya. Aku tidak pandai menceritakan ulang dengan membubuhkan dialog mana yang cukup tersirat, lupa begitu saja :-D
Ini sebagai pengingat, dimana ketika aku sibuk sembilan jam perhari bahkan lebih, ribuan sunrise dilalui dengan peluh, aku harus ingat pulang. Bisa saja yang aku lakukan dalam kegiatan yang memakan waktu, tidak ada elemen yang memautkan hati aku kepada-Nya.
Aku coba rangkum dalam beberapa hal pesan yang telah sampai padaku setalah aku selesai membacanya, pesan yang dirasakan tentu berbeda bagi setiap orang karena masing-masing punya kacamata yang berbeda. Selama itu baik, berbeda pesan pun tidak masalah. Dan ini pesan versi aku pribadi:
Selama apapun kita berkelana, tetaplah harus pulang. Bukan hanya pada tempat, seseorang, tapi juga ilmu baik yang pernah diajarkan, kembali menggenggam prinsip, sebab ini dasar dan pegangan utama untuk berjalan di bumi Allah
Serumit apapun masa lalu, bukan tidak ada hak untuk memiliki jalan yang lurus di masa depan. Walau waktu saling berkelindan, bukan berarti nasib akan tetap sama. Perubahan ke arah lebih baik itu keniscayaan.
Kebencian akan menjadi penyakit hati yang bersarang di relung dada manusia. Memeliharanya akan menggelisahkan dan mungkin saja berpilin menjadi tindakan kriminal. Ini tidak menyelesaikan masalah. Memaafkan adalah jalan terbaik. Semoga kita bisa menjadi manusia yang mudah memaafkan.
Penyesalan akan disadari diujung. Walau tidak terlalu dekat, tidak saling terpaut hati, ketika seseorang sudah tiada, rasa rindu itu terasa, bahkan bisa memuncak setiap harinya. Aku harus belajar bagaimana menicntai seseorang, bukan dimaksudkan untuk lawan jenis, tapi orang-orang dekat yang hadir dikehidupan kita.
Ketakutan dan keberanian bisa terjadi dalam satu waktu, ini pilihan. Apakah kita akan menggunungkan rasa takut dan menghilangkan kesempatan. Atau memupuk keberanian untuk menghadirkan kemenangan.
Apapun pesan yang tersirat semoga baik. Mengantarkan kita pada jalan “pulang”. Membahas tentang pulang, ngeri juga, kita memang sebenarnya di dunia ini sedang melakukan perjalanan untuk pulang. Merajut bagaimana cara dan dalam keadaan apa kita pulang nanti.
Semoga kelak jika kita pulang yang sesungguhnya, pulang ke Allah. Allah fasilitasi dengan kendaraan terbaik untuk diam dirumah masa depan, yaitu Surga yang Allah jamin keindahan dan tidak ada rumitnya keadaan yang pernah terjadi di dunia ini.
Selamat menemukan makna “pulang”. Pulanglah dengan tujuan, bukan hanya karena sempat.









