Sejak kemarin saya heran kenapa orang-orang pada upload foto yang menunjukkan diri mereka di tahun 2009 dan 2019. Awalnya gak ngerti karena saya yang malas ngelihatin tagar kalau orang upload di IG, jadilah diabaikan saja. Lalu hari ini makin banyak yang upload foto yang sama, bahkan jadi heboh sekali sepertinya. Akhirnya mulai muncul uploadan lagi yang mengomentari tagar 10yearschallenge yang ternyata sudah viral dan saya baru ngeh.
Saya tak berniat ikutan, selain karena memang saya dan diri saya 10 tahun lalu hanya bertambah usia dan tidak banyak yang berubah, saya juga merasa apalah artinya perubahan fisik kalau perilaku tidak jadi lebih baik (asiqueee). Saya tidak bilang ini salah yah, saya tidak mempermasalahkan ini sama sekali, hanya saya saja yang kurang berminat. Saya toh kurang percaya diri memperlihatkan perubahan fisik saya, jangankan 10 tahun yang lalu, sekarang saja rasanya sudah mulai malu kebanyakan upload foto pribadi, kecuali fotonya rame-rame atau foto sama keluarga dan sahabat.
Kalau membayangkan diri saya 10 tahun lalu, yang pakai hijabnya cuma pas ke sekolah sama ke acara keluarga saja, sekarang suka miris sendiri kalau liatin foto-foto itu (masih disimpan sebagai dokumen pribadi, plus dilihatin ke suami nanti bahwa sekucel inilah istrinya di masa lalu). Sekarang mah malu ke diri sendiri kalau nyimpan foto yang gak berhijab. Tapi lagi-lagi tiap orang beda yah. Semoga setiap tahunnya kita berproses dan tumbuh jadi lebih baik.
10 tahun lalu saya adalah remaja yang banyak sekali bersenang-senang (tidak dalam konteks negatif), sedikitpun tidak pernah membicarakan dan membayangkan 10 tahun kedepan akan jadi seperti apa. Kerjaan saya yah belajar, nongkrong sama teman-teman di warnet (tahun itu pertama kali saya kenal facebook), ngumpul di rumah saya yang memang dekat dari sekolah sekedar makan gorengan atau rujak, yang penting mah rame-rame. Sekarang tempat nongkrongnya sudah naik kelas, entah di kafe, warkop atau restoran cepat saji, hhehe. Ngumpulnya juga hanya bersama beberapa orang sahabat saja. Bukan mengurangi pertemanan, tapi rasanya jadi sedikit lebih intens dalam berkawan, lebih nyaman sama yang sefrekuensi, dan karena memang ceritanya jadi lebih dalam maka yang dicari adalah yang bisa diajak ngobrol lebih dalam dan bersedia mendengarkan meski kesannya membosankan.
Yang selalu saya syukuri adalah urusan pendidikan, yang walaupun jalannya gak gampang, tapi alhamdulillah sudah sampai ke titik yang tidak pernah saya bayangkan 10 tahun lalu. Meski pendidikannya tidak se-bergengsi orang-orang yang bisa kuliah di luar negeri, saya selalu bersyukur bahwa banyak orang yang bahkan kurang beruntung bisa sampai di titik tersebut. Saya selalu bersyukur lahir dari kedua orangtua yang selalu mendukung apapun keputusan kami soal hidup, meski seringkali saya lebih banyak mengikuti saran mereka. Semoga mereka selalu disehatkan dan kita terus dimampukan agar bisa membuat mereka bahagia.
Jadi kalau membandingkan hidup kita 10 tahun yang lalu dan sekarang, tentu akan banyak sekali perbedaan, bukan tentang fisik saja, tapi umur yang bertambah, pemikiran yang semakin dewasa, tanggung jawab yang semakin besar, juga orang-orang yang berdatangan silih berganti dan menciptakan cerita berbeda.
Dan utamanya jangan sampai kita berubah hanya untuk urusan dunia, tapi perbaikan diri untuk bekal akhirat kita lupakan. Yang dulunya sekolah di pesantren sekarang ibadah wajib pun jarang, yang dulunya hafal 30 juz Al Qur’an sekarang kehilangan hafalan karena kebanyakan mencintai dunia, yang dulunya berhijab sekarang jadi lupa hijabnya ditaruh dimana, yang dulunya apapun diurusin orangtua sekarang telpon mereka cuma sekali sebulan, yang dulunya masih minta sama orangtua terus traktir teman sekarang sudah punya penghasilan bahkan sedekahpun tidak ditunaikan.
Hayuklah kita yang 10 tahun lalu itu bukan apa-apa, tantang diri kita untuk menjadi lebih baik saat ini, gak cuma urusan dunia dan fisik semata, tapi juga bekal untuk akhirat. Bertambahnya tahun juga menandakan jatah usia kita semakin berkurang. Jadi mari sama-sama menjadi baik.