Berakhir, bukan berarti yang terakhir.
Satu per satu hari yang katamu penuh dengan sesak itu, kini, telah sampai pada masanya di penghujung. Berlalu. Dan kamu, bersyukurlah yang banyak pada Allâh Ta'ala,
Karena atas kekuatan-Nya, kamu dapat bangkit dari jalan yang penuh dengan kerikil dan batu-batu besar, yang menjadikanmu tersandung, hingga tersungkur,
Karena atas kasih sayang-Nya, kamu dapat bersabar dari segala rintihan yang penuh dengan isak dan pilu,
Dan atas kuasa-Nya, kamu sudah berada di titik ini, berbahagia, penuh dengan haru.
Sungguh, betapa baiknya Allâh, yang telah mengizinkanmu tuk melewati hari demi hari yang penuh dengan sesak itu. Walau tidaklah banyak kebaikan yang tersampaikan, tapi setidaknya, kamu sudah berusaha menjadi baik dan berupaya yang terbaik.
Karena di depan sana, akan ada persimpangan-persimpangan yang kembali menyapa, dan harus dilewati.
Tidak perlu merasa patah dan menyerah, atas segala resah yang dirasa.
Teruslah melangkah, dan jangan berbalik arah.
Teruslah bersabar dan jangan pernah lelah melakukan kebaikan.
Karena Dia, Allâh Ta'ala, tidak akan menyia-nyiakan seorang hamba yang bersabar dan berbuat baik, seperti dalam firman-Nya:
وَاصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allâh tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”
Semoga kebaikan hatimu selalu bersinar terang, tidak pernah padam, hingga berpulang.
Seperti halnya mentari yang tidak pernah berhenti menyapa @menyapamentari.
Sampai bertemu di persimpangan selanjutnya…
Tentang sebuah perjalanan yang berakhir, tetapi bukan yang terakhir.
Jatinangor, 10 Rabi'ul Tsani 1439 H