Broken Inner Child
Ada luka yang tidak lahir kemarin.
Ada rasa takut, rasa kosong, dan rasa tidak berharga yang ternyata tumbuh sejak lama. Sejak kecil, banyak orang belajar memendam perasaan, menahan tangis, dan berpura-pura kuat hanya agar diterima. Mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar diajarkan bagaimana rasanya merasa aman menjadi diri sendiri. Dan tanpa sadar, luka itu ikut bertumbuh hingga dewasa.
Inner child yang terluka tidak selalu terlihat sedih. Kadang justru terlihat paling ceria, paling dewasa, atau paling kuat. Padahal di dalam dirinya masih ada anak kecil yang terus bertanya, “Apa aku memang tidak cukup untuk dicintai?” That’s why beberapa orang tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan, takut mengecewakan orang lain, atau terlalu keras pada dirinya sendiri. Bukan karena mereka berlebihan, tapi karena ada bagian dalam dirinya yang belum pernah benar-benar sembuh.
Yang paling menyedihkan, banyak orang dewasa sebenarnya hanyalah anak kecil yang dipaksa bertahan terlalu cepat. Mereka belajar menyembunyikan luka di balik senyum, humor, dan kalimat “aku gapapa.” Padahal jauh di dalam dirinya, masih ada versi kecil yang diam-diam menunggu dipeluk, didengarkan, dan diterima apa adanya. Maybe healing begins ketika kita berhenti menyalahkan diri sendiri atas luka yang dulu bahkan bukan salah kita.
Written by Aftansa










