Saya Suka Kebersihan, Tapi Malas Menyapu
Dulu saya sering dimarahi Ibu karena tidak mau bantu bersih-bersih rumah, terutama menyapu, yang merupakan pekerjaan paling ringan. Entah mengapa kegiatan menyapu bagi saya tidak terlalu menarik.
Saya tidak mendapatkan pengalaman melegakan dengan menyapu. Berbeda dengan mencuci atau menyetrika yang benar-benar prosesnya sangat saya nikmati. Rasanya sungguh puas melihat pakaian kotor yang bernoda jadi hilang nodanya, lalu kerutan-kerutan bekas tali jemuran jadi mulus kembali ketika di setrika.
Makin ke sini, saya makin memahami. Bukan aktivitas menyapunya yang saya benci tetapi teknologi yang digunakan. Teknologi bernama sapu, biasanya terbuat dari ijuk atau plastik. Saya merasa kedua alat tersebut tidak efektif membersihkan kotoran yang ada di lantai. Sapu ijuk makin lama akan makin rontok, sapu plastik ujungnya akan keriting-keriting dan akan banyak rambut rontok yang terperangkap di keduanya. Seringnya rambut ini justru malah ketinggalan saat sapu disapukan ke lantai. Saya suka frustrasi melihat lagi-lagi masih ada rambut di lantai.
Ada teknologi bernama vacuum cleaner tapi untuk mengoperasikan alat tersebut dibutuhkan daya listrik yang tinggi. Belum lagi betapa repotnya karena harus butuh kabel tambahan supaya alatnya bisa menjangkau bagian yang jauh dari power outlet. Alat ini tentu saja tidak anak kos friendly, apalagi kos saya buat nyalain hairdryer aja suka njeglek listriknya.
Kalau ingat di film Passengers (2016) yang dibintangi Mbak J Law dan Mas Chris Pratt, ada adegan ketika mereka sedang makan sereal dan serealnya tumpah ke lantai. Langsung tiba-tiba muncul robot yang menyedot sereal yang jatuh ke lantai dan membersihkannya. Teknologi seperti ini yang kira-kira saya butuhkan.
Dua tahun setelah film itu dirilis, perusahan-perusahaan Tiongkok banyak memasarkan robot vacuum cleaner dengan harga yang lebih terjangkau dan bisa didapatkan di Indonesia. Februari 2018 setelah gajian saya memutuskan untuk beli satu dengan dicicil 12x. Iya, untuk barang elektronik memang saya lebih suka membeli dengan mencicil karena lebih nyaman untuk pengaturan kas. Ingat, kartu kredit itu alat pembayaran, bukan alat berhutang ya!
Seri yang saya beli adalah keluaran dari iLife yakni Chuwi V5. Fiturnya sangat basic cuma bisa buat menyapu dan mengelap lantai. Untuk merek lain mereka bisa memiliki fitur yang lebih maju seperti mengepel lantai, bisa memetakan ruangan sehingga bisa diprogram untuk membersihkan ruangan tertentu, bisa dikendalikan lewat apps, bahkan bisa diprogram untuk tidak lewat ruang tertentu misal tempat yang basah.
Dua tahun Dustin menjadi asisten saya membersihkan kamar kos. Saya kasih nama Dustin, dust in, got it? Sejauh ini saya puas dengan kinerjanya. Dustin bisa saya program untuk bersih-bersih kamar kos sebelum saya pulang, jadi pulang kantor kos sudah dalam keadaan bersih. Ataupun kalau lagi pengen rebahan tapi lantai sudah kotor kembali saya tinggal tekan remote dan Dustin akan membersihkan kekacauannya.
Dustin mendapatkan daya untuk bersih-bersih berasal dari baterai yang ditanamkan ditubuhnya. Baterainya bisa diisi ulang jadi hemat listrik. Kalaupun lagi semangat-semangatnya kerja Dustin kehabisan baterai, dia bisa mandiri balik ke charging dock-nya sendiri. Menyenangkan bukan?
Debu, rambut, remah-remah biskuit yang disedot Dustin akan masuk ke tanki yang ada dalam main body-nya dan tanki tersebut bisa dibersihkan dengan mudah. Tinggal buang isinya ke tempat sampah kayak kenangan masa lalu yang menyakitkan.











