Akui Saja, Literasi Memang Bukan Budaya Masyarakat Indonesia
Dalam Islam wahyu pertama yang diturunkan adalah kata iqro yang artinya bacalah. Dengan persentase 87,2% penduduk memeluk agama Islam menurut hasil sensus penduduk tahun 2010, budaya literasi harusnya sudah menjadi jiwa masyarakat. Namun, hasil studi UNESCO tahun 2016 yang dipublikasikan dalam The World’s Most Literate Nations, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang ada dalam daftar tersebut.
Dulu, indikator keberhasilan pendidikan salah satunya adalah mengurangi jumlah buta huruf. Berdasarkan data dari UNESCO yang diambil dari countryeconomy.com bisa dilihat tingkat orang bisa membaca di Indonesia naik setiap dekadenya:
Namun, indikator keberhasilan pendidikan ini seharusnya di-upgrade lagi. Misinya tidak semata-mata hanya membuat orang bisa membaca. Tetapi, harus naik level misalnya mampu memahami maksud tulisan, mampu membedakan fakta, opini, dan asumsi dalam tulisan, mampu mengidentifikasi informasi yang tidak valid dan menyesatkan, mampu mengidentifikasi tipe tulisan yang serius, satire, atau gurauan. Level selanjutnya tentu saja diharapkan siswa didik mampu membuat tulisan yang terstruktur, sistematis, dan masif, mampu menulis dengan memperhatikan kaidah ilmiah, jurnalistik, akademik, atau yang sesuai dengan bidangnya, dsb.
Kalau mentok indikator pencapaiannya cuma bisa membaca. Mau sampai kapan pun hoaks akan terus beredar karena kecepatan jari tangan negara +62 lebih cepat dibandingkan koneksi sinapsis di otaknya.
Pengalaman pribadi saya, pendidikan bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi backbone untuk peningkatan budaya literasi dalam pengajarannya tak ubahnya seperti belajar matematika, hanya mementingkan benar dan salah. Ia tidak banyak berbicara mengenai relevansi, konten, emosi, dan rasa tetapi lebih banyak tentang benar salah berdasarkan kaidah dan struktur. Ia tidak memberi banyak ruang untuk berekspresi, berkreasi, maupun berefleksi.
Saya tidak ingin membahas mengapa masyarakat Indonesia tingkat literasinya rendah. Hanya saja, saya rasa masyarakat Indonesia itu tidak memproses informasi dengan cara visual melainkan auditory. Contoh sederhana, ketika di rumah sakit, alih-alih membaca denah lokasi, kebanyakan dari masyarakat kita lebih suka bertanya kepada security, resepionis, atau cleaning service arah tempat yang mereka ingin tuju. Ini juga berlaku juga pada barang-barang yang dilengkapi manual. Alih-alih membaca petunjuk penggunaan, masyarakat kita lebih suka bertanya. Pun sudah ada tutorial visual di YouTube, orang tak mau repot untuk googling atau menontonnya. Ngomong-ngomong, kemampuan googling yang efektif dan efisien untuk mencari informasi yang memang relevan dan dibutuhkan itu adalah satu kemampuan literasi juga.
Sebagaimana gosip dengan viralnya menyebar dari mulut ke mulut, hoaks juga demikian beredar lewat jari-jari tangan. Kalau pembacanya mampu mengidentifikasi informasi tersebut tidak valid, maka ia pasti akan urung meneruskan informasinya ke orang lain. Nyatanya, setelah membaca tulisan tersebut, jarinya gatal untuk memencet tombol forward lalu dilengkapi dengan justifikasi “share dari grup sebelah”.
Sebagai tulisan pungkasan di 31 Hari Menulis, saya pribadi ingin mengucapkan terima kasih kepada Bang Wiro sudah memberi ruang bagi sebagian kecil rakyat Indonesia untuk mempraktekkan budaya literasi. Membaca tulisan-tulisan dari sesama peserta memberikan berbagai referensi warna-warni kehidupan dan pengetahuan. Memproduksi tulisan sendiri setiap hari melatih saya untuk berekspresi dan berefleksi. Semoga tulisan saya selama program 31 Hari Menulis bisa dianggap angker oleh Bang Wiro.













