Ben & Sarah #1 : Kehidupan Masing-Masing
Sarah :
Salemba, Jakarta Pusat, 2016
08.00 WIB
Jakarta pagi ini agak mendung. Air hujan mengguyur dengan intensitasnya yang tidak terlalu sering, namun jika terkena air hujan pagi ini terlalu lama, kau akan merasa pusing juga.
Sarah menatap jendela kelas dengan tatapan kosong. Dia lebih memilih untuk menatap jendela yang menghubungkan pandangannya dengan rintik hujan di luar sana. Entah apa yang dibicarakan Pak Sarwono di depan kelas. Baru kali itu Sarah merasa tak bersemangat mengikuti kelas pagi. Biasanya Sarah yang selalu datang tepat waktu atau 15 menit sebelum jam perkuliahan dimulai. Pikirannya pun melayang menuju mimpi kemarin malam. Di dalam mimpinya, Ia bertemu dengan lelaki itu. Lagi-lagi, Sarah merasa begitu rindu kepada sosoknya.
Ia rindu dengan sentuhan lembutnya saat tangan lelaki itu menyentuh rambutnya.
Ia rindu saat lelaki itu tertawa. Yang Sarah dengar dari tawanya adalah tawa yang renyah bak kulit martabak kesukaan Sarah.
Matanya terasa panas ketika mengingat semuanya, seakan-akan dirinya tak percaya pada takdir yang telah terjadi. Sudah tidak ada lagi yang tersisa dari lelaki itu kecuali kenangan yang begitu manis — namun pahit apabila diingat.
Setelah puas menyelami kenangan dengan sosok lelaki itu, Sarah memutuskan lamunannya dan kembali mendengarkan Pak Sarwono yang sedang menjelaskan tentang syaraf manusia.
—
“Sar, lo kenapa sih?” Tanya Reksa, teman sekelas Sarah, sambil membereskan buku-buku yang tebalnya 300 halaman lebih dan memasukkan dengan paksa ke dalam tasnya. Akhirnya, kelas pagi bersama Pak Sarwono telah usai. Sarah hanya menggeleng lemah dengan membawa buku yang sama dengan milik Reksa di tangannya.
“Belom sarapan?” Tanyanya lagi sambil meneliti wajah Sarah yang berdiri di depannya. Belum sempat Sarah menjawab pertanyaan Reksa, ponsel milik Sarah bergetar. Ada telepon masuk dari dosennya, Pak Andra. Sesegera mungkin Sarah menerima panggilan itu.
“Selamat pagi, Pak Andra.. Iya, pak. Ini saya sudah selesai kelas, Pak.” Sarah berbincang dengan suara diseberang dengan bersemangat. Sementara Reksa hanya bergeming menatap Sarah yang tingginya hanya sampai dagunya. “Baik, pak. Saya segera ke ruangan bapak sekarang.” Setelah sambungan telepon terputus, Sarah melihat ke arah Reksa.
“Iya, aku emang belum sarapan. Nanti saja sekalian makan siang. Hehe.” Kata Sarah sambil bergegas berjalan ke arah pintu. Ternyata tinggal 2 orang tersisa di kelas, yaitu Sarah dan Reksa.
“Eh, lo mau kemana?” Reksa segera mengejar Sarah. Tanpa sadar, Reksa menarik tangan Sarah, dan kemudian Sarah menghentikan langkahnya. Ia melihat tangan Reksa yang menggenggam tangannya.
“Mm.. maaf, Sar. Aku reflek tadi.” Kata Reksa canggung melepaskan tangan Sarah.
“ Reksa , maaf aku harus ke ruangan Pak Andra sekarang. Kita sarapan bareng besok aja, ya. Bye, Sa.” Kata Sarah sambil berjalan pelan meninggalkan Reksa yang kehabisan kata-kata.
—
Ben :
Bulaksumur, Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016
08.00 WIB
Ben menarik selimutnya yang semakin lama hanya menutupi kakinya. Untung hari ini kelas kuliahnya dimulai ba’da dhuhur nanti, jadi masih ada kesempatan untuk bermalas-malasan di kasur. Yogya pagi ini cukup dingin. Bahkan sisa udara hujan semalam belum hilang juga.
Setelah bermalas-malasan di kasur cukup lama, Ben memutuskan untuk membuka korden kamarnya. Seketika cahaya matahari dengan lembut menyinari tubuhnya yang kedinginan semalaman. Melihat sang mentari yang sudah mulai berani memancarkan sinarnya, membuat pikiran Ben melayang pada seorang perempuan yang dicintainya. Perempuan itu sangat menyukai pagi. Perempuan itu hanya sibuk mencintai pagi tanpa pernah tahu tentang perasaan Ben padanya. Ben menghela napasnya yang penuh kekecewaan untuk mengakhiri lamunannya. Ah sudahlah, saatnya sarapan soto ayam kesukaan Ben pagi ini.
—
“Bu! soto ayam satu, ya!” Kata Ben agak lantang kepada Bu Laksmi, penjual soto kesukaan Ben. Warung soto itu sederhana, tak terlalu besar, tapi cita rasa soto ayam nya yang khas itu lah yang membuat Ben selalu kembali ke warung itu saat dia kelaparan di pagi hari. Sepertinya warung Bu Laksmi tak pernah sepi, bahkan saat Ben kesana, ramainya minta ampun.
“Ayamnya mau di suwir atau utuh, Le?” Jawab Bu Laksmi dengan suara cemprengnya yang tak kalah lantang dengan suara Ben.
“Suwir deh, Bu. Aku lagi males makan ayam utuhan.”
“Yowes, Minumnya opo?”
“Teh anget. Eh, Bu, aku duduk sana ya.” Timpal Ben sambil menunjuk satu-satunya meja yang kosong. Segera saja Ben menuju meja itu. Jemarinya lincah memainkan layar ponsel, hanya itu yang dapat dilakukan Ben saat menunggu pesanan sotonya datang.
Tak lama setelah ia menaik-turunkan timeline instagramnya, Nurin, anak bu Laksmi tiba dengan segelas teh hangat di ditangannya. “Mas Ben, iki tehmu, soto ne jek otw.” Katanya sambil tersenyum hangat.
“Iyo, rapopo. Suwun, Rin.”
“Kok Mas Ben sendirian? Mas Prabu mana?”
“Haha, kok nanyain Prabu kenapa? Kowe seneng karo Prabu?” Tanya Ben tanpa basa-basi.
“Iiihh, ora kok, Mas! Ngarang!” Gerutunya sambil berlalu. Mendengar Nurin yang menggerutu begitu, Ben terkekeh geli. Bisa-bisanya Nurin tanya begitu.
—
Mungkin ini tempe ketiga yang dilahap Ben bersama soto yang masih mengepul hangat. Begitu nikmat. Rasanya seperti makan soto dirumah. Seperti masakan Ibunya Ben. Tak terasa soto yang rasanya mirip dengan soto dirumah itu hampir habis, tinggal sisa-sisa kuah yang sepertinya mau disendok saja sudah tidak bisa. Saat Ben sedang mengunyah tempe mendoan ketiganya, Ponsel Ben berbunyi, ada telepon masuk. Ben tertegun melihat nama penelpon itu, cepat-cepat ia menelan kunyahan tempenya.
“Ha..Halo? Juni?”
Telepon itu adalah telepon dari perempuan pecinta pagi, sekaligus perempuan yang dicintai Ben– Juni Astari.
—
B E R S A M B U N G














