Tentang Penggunaan Bahasa Inggris
Hari ini aku diminta seorang teman untuk membantunya menyunting tulisannya yang akan dimuat dalam koran kampus.
Tak tanggung-tanggung, aku merombak banyak sekali kalimat-kalimat yang telah ia susun. Utamanya, suntingan tersebut kubuat dengan memperhatikan tata bahasa dan diksi. Aku tidak terlalu memperhatikan substansi ataupun esensi tulisannya, sebab 1) jika aku melakukannya, kemungkinan aku akan mengubah maksud dari temanku yang menulis tersebut, 2) aku tidak memiliki cukup wawasan terkait topik tersebut untuk mengubah isinya.
Terdapat gaya bahasa dalam tulisannya yang menurut hematku, terlalu subjektif untuk digunakan dalam tulisan jurnalistik. Akupun mengutarakan pendapatku, menyarankan ia untuk mengganti diksi kalimat tersebut. Hanya saja, aku kesulitan untuk menyampaikan maksudku tersebut dalam Bahasa Indonesia.
Akupun menyampaikannya dalam Bahasa Inggris -- sesuatu yang sebenarnya sering aku lakukan ketika berbicara dengan orang-orang terdekatku, ataupun dengan diriku sendiri.
Otakku berputar keras untuk mencari kata, ungkapan dan merangkai kalimat dalam Bahasa Indonesia yang semakna dengan gagasanku yang telah kuungkapkan dalam Bahasa Inggris sebelumnya.
Di saat itulah, temanku menggumamkan sesuatu.
Pada saat aku mendengarnya, aku langsung tertegun dan secara defensif menjelaskan bahwa gagasanku tersebut memang sulit diungkapkan dalam Bahasa Indonesia.
Penyuntingan tersebut terus berlanjut sampai pada akhirnya aku harus pergi meninggalkan teman tersebut karena aku punya urusan lain. Namun, otakku terus-terusan memikirkan gumaman teman tersebut.
Apakah itu yang orang-orang pikirkan ketika aku berbahasa Inggris?
Ketika aku berbahasa Inggris, tak terbesit sekalipun di kepalaku untuk meninggikan diriku di antara orang lain. Aku tidak ingin terlihat pintar hanya karena aku menyuarakan pemikiranku dengan Bahasa Inggris.
Aku hanya merasa, terdapat beberapa ungkapan yang maknanya lebih utuh apabila disampaikan dalam Bahasa Inggris. Namun, tak menutup kemungkinan pula bahwa gagasan lain tersampaikan dengan lebih baik dalam Bahasa Indonesia (hey, meme-meme bernuansa politik terasa lebih lucu dalam Bahasa Indonesia, ‘kan?).
Butuh waktu agak lama untuk menyadari kekecewaanku. Aku kecewa karena kukira sebagai seorang teman, yang meski tidak berbicara atau melihatku setiap hari, ia sudah memahami bahwa penggunaan Bahasa Inggrisku tidaklah bertujuan untuk meninggikan diri.
Dan terakhir, aku lebih kecewa lagi pada diriku sendiri karena telah membiarkan penilaian orang lain terhadap diriku dapat mengecewakanku.