“Hm ini gimana ya? Programnya selesai akhir Maret sedangkan dikampus saya tanggal 5 Februari udah mulai kuliah.”
_________________________
“Assalamualaikum ibu..nani nani nani…” aku ketik kalimat penjelasan tentang kondisiku saat ini, bahwa aku ingin ikut exchange program tapi semester di IPB dengan semester di Mie university timelinenya berbeda. Setelah beberapa menit, sudah ada tanda ceklist dua+biru di kolom chat wa komdik IE. Huah ibunya baru read ajaa lagi, belum balas2. Akhirnya aku langsung datang ke ruang sekretariat IE dan Alhamdulillah ibunya ada.
“Oo kamu ya yang chat saya. Jadi gini…”
“Iyaa bu benar.” Sambil menarik kursi untuk duduk.
“Silahkan tanyakan ke DIT AP tentang hal ini, karna ini berhubungan dengan KRS kamu nak, biar informasinya lebih clear. Kamu mau exchange kemana?” Kata ibu
“Ke Jepang bu. Oo gitu ya bu, kalau gitu saya akan ke DIT AP. Menanyakan hal ini. Terima kasih banyak ya bu.”
Setelah dari ruangan itu aku langsung bergegas ke rektorat. Jaraknya lumayan dekat, kalau jalan butuh 5-6 menit. Kalau di rektorat DIT AP itu pintunya di loket tempat biasanya kakak2 ambil baju wisuda atau ngurus wisuda aja. Sampai di kantor DIT AP,
“Assalamualaikum ibu, jadi gini naninaninani..” aku coba jelaskan apa yang disampaikan komdik IE barusan.
“Oo gitu, jadi nanti silahkan tanyakan langsung ke ibu itu (sambil menunjuk ruangan beliau). Tapi beliau lagi rapat, kalau mau tunggu ya silahkan aja.” Kata ibu
Akhirnya aku menunggu kedatangan ibu(maaf lupa nama beliau). Setelah 30 menit berlalu, akhirnya ibu datang juga. Langsung aku menyergap ibu untuk bertanya hal ini.
“Tok..tok..tok..Assalamualaikum ibu.” Sahutku
“Iyaa silahkan masuk.” Balas ibu.
Lalu aku jelaskan masalah terkait timeline akademik.
“Jadi nak, kalau kamu cuti 1 semester itu tanggung banget. Karena mau ikut KRS B pun gak bisa. Dan kamu bakalan ketinggalan banyak jam mata kuliah. Belum lagi yang praktikum yang wajib hadir 100%. Dan bulan maret itu udah masuk UTS. Emang tanggung banget, Jadi kamu cuti 1 tahun aja. Emang iya kamu bakalan bareng adik kelas, karna mayor wajib diambil. Mungkin mata kuliah yang kamu ambil disana cuma bisa jadi SC, kalau misalnya bisa nyambung ke Mayor mungkin bisa di transfer. Tapi, kamu bakalan dapat pengalaman yang teman2 kamu gak dapatkan, menambah softskill, jadi itu baik juga.” Kata Ibu
“Hm iya bu. (Hm cuti satu tahun ya)” balasku
“Dan kamu harus tetap bayar UKT 25% per semesternya.” Lanjut Ibu
Setelah itu aku izin pamit, dan langsung menjelaskan hasil perbincangan dengan ibu DIT AP ke orangtua. Dan Alhamdulillah kata orangtua oke. Jadilah aku cuti 1 tahun dengan bayar UKT 25% per semesternya. Itu pilihanku.
Konsekuensinya? Aku akan ikut kelas dengan adik kelas. Lulusnya kemungkinan lebih lama dari teman seangkatan. Dan matkul yang di Mie univ kemungkinan hanya bisa jadi SC. Apalagi2?
Emang gak semudah itu untuk memutuskan tapi ini butuh keputusan yang cepat dan kamu akan dihadapkan dengan banyak pilihan untuk buat kamu mundur.
Setelah ke DIT AP aku langsung ke sekretariat IE untuk mengurus surat cuti. Sebelumnya aku menjelaskan summary perbincangan aku dengan ibu DIT AP ke mba sekret IE.
“Jadi kamu udah yakin ni cuti 1 tahun Farida?” Tanya mba yang bekerja di sekretariat IE.
“Kamu udah izin ke dosen PA? Udah izin ke departemen belum?.”
“Dosen PA bilang gak papa mba, bukan jadi msalah. Ke departemen belum mba.”
“Kalau gitu ayuk ke sebelah, sampaikan ke departemen, izin untuk cuti.”
Akhirnya aku pergi ke departemen IE dan meminta izin untuk cuti, gak pake surat hanya seperti anak pamit kepada orangtuanya.
“Jadi kamu udah pikirin semuanya? Kamu bakalan cuti berapa lama? Biaya hidupnya gimana?”
“Sudah bu. 1 tahun bu. Saya ada coba beasiswa tapi belum pengumuman, pengumumannya pas saya udah sampai sana InsyaAllah.”
“Kalau gak dapat beasiswa gimana?”
“InsyaAllah orangtua saya menyanggupi bu (dalam hati ya Allah bantu Farida, padahal kita juga keluarga sederhana.)”
Setelah itu ibunya kasih beberapa nasehat dan dukungan.
“Gimana farida? Oke?” Kata mba IE.
“Kalau gitu mba buatin surat izin cutinya ya. Kamu buat surat permohonan cuti akademik yg di ttd oleh orangtua.”
“Iyaa mba, makasih ya mba.”
Sebelum daftar program ini, aku coba untuk shalat istikharah. Dan pas ngejalanin ini semua dipermudah sama Allah dan ada rasa yakin, ini jalanku. Dan ini hasilnya sekarang.
Saat berusaha mengejar mimpi akan banyak rintangan, akan ada banyak pilihan2 yang buat kamu bisa2 mundur. Berpikir lama dan mengkhawatirkan banyak hal, dan akhirnya “mundur”. Jangan! Worryless aja dan minta petunjuk Allah. Dan gak usah mikirin apa kata orang sih. Misalnya aja aku yang cuti 1 tahun untuk program ini dan gak dapat beasiswa pulak. Mau banget far? Mendingan cari program lain. No..No kapan lagi, ini ada kesempatan didepan mata. Kenapa harus ditolak? Khawatir karna gak ada beasiswa? Allah lu kemanain? Allah bisa kasih lebih dari sekedar beasiswa kali. I proved it.
Coba nekad sedikit agar kita tau bagaimana rasanya dapat kejutan bertubi2 dari Allah. Allah di Indonesia dan di Jepang sama kan? Yang kasih makan di Indo siapa? Allah jadi yang kasih makan di Jepang siapa? Allah. Jadi apa lagi yang kamu khawatirkan. (Termotivasi dari cerita ust. Hanan)