Tentu saja kau mengenal kata-kata ini.
"Diantara sekat-sekat yang memisahkan kita....."
Kemudian tentang tidak menyerah.
Aku menuliskan ini saat banyak sekali yang membatasi kita, banyak kotak-kotak disana-sini, banyak yang mencoba menjangkau pikiran-pikiran kita bahkan setelah kita dibatasi seperti itu. Dan ini terjadi saat aku belum menyadari hal yang begitu akan aku sesalkan.
Kemudian, saat kita keluar dari sana, keadaan tidak membaik, aku malah tidak dapat merindukanmu lagi.
Ini seperti kulit bawang, berlapis-lapis, dan disetiap lapis semakin tidak membebaskan kita, semakin membuat rumit.
Lalu bukankah tidak salah bila aku memilih untuk mengakhiri ini? Mengeluarkan kita dari hal-hal rumit dan menyesakkan, berusaha membuat kita sama-sama bebas.
Tapi, akhirnya? Kita tetap tidak kemana-mana.
Terutama aku, aku masih terperangkap, terkurung dalam rasa sesak yang aku ciptakan sendiri, dalam kerinduan yang semakin luas, dalam rasa kehilangan yang pekat, aku merindukanmu. Bahkan saat aku menuliskan ini. Aku merindukanmu.
Disaat seperti ini aku hanya berharap untuk dapat melupakanmu, berharap dengan aku lupa, ini akan membebaskan aku dengan sebenar-benar bebas. Tapi apa benar ini akan berjalan seperti yang ada dalam pikiran-pikiranku?
Aku akan lupa padamu, pada semua hal baik dan buruk yang kita bagi, pada semua hal yang kau ajarkan dengan atau tanpa kau sadari. Lalu apa yang akan tersisa dari aku selain hanya kekosongan, dan rasa hampa?
Lalu bagaimana? Bagaimana aku bisa bebas? Agar aku tidak lagi merasa sesak?
Dalam keputus asaan, suara dalam kepalaku menggema, sedikit banyak ini melegakan aku.
Ia seperti berkata bahwa aku telah melakukan hal yang besar. Hal yang tidak semua orang bisa lakukan.
"Kau melepaskannya, dan saat itulah kau bebas, bebas dari ego dan kebahagiaan dangkalmu sendiri"
Dan tentang melupakan, aku rasa aku tidak akan pernah bisa benar-benar melupakanmu, dengan atau tanpa rasa cinta kepadamu.