Our Dream
“Kamu mau nggak kalo nanti kerja di rumah sakit di daerah? Di daerah kita sendiri dulu deh”.
“…”
“Pasti enggak mau, ya. Karena kita mau keliling Indonesia, sekolah S2 ke Luar Negri, terus balik ke Indonesia buat jadi perawat professional. Kalo jadi kepala Rumah sakit daerah gimana?”
“Hahaha. Jelas mau lah.”
“Kalo gitu 7 tahun dari sekarang kita janji, siapa yang bakal duluan jadi Kepala Rumah Sakit Daerah,”
“Hahaha. Oke, aku setuju.”
“Oke. Kalo aku yang duluan jadi kepala Rumah Sakit kamu harus kasih aku hadiah jalan-jalan keliling Indonesia. Tapi dengan catatan kita harus smaa-sama sukses.”
“Deal.”
Kami sama-sama diam. Duduk dikursi panjang didepan IGD, menatap lampu jalan.
“Aku belum ada uang nih buat ganti uang kamu”
“Apaan sih. Namanya juga kita di daerah orang, kamu kaya baru kenal aku kemaren deh.”
“Iya, tapi…”
“Anggap aja ini hutang kamu yang bakal kamu bayar kalo kita udah sukses nanti. Tapi bayarnya jalan-jalan keliling Indonesia ya. Hahahha”
“Hahaha. Keliling Indonesia mulu…”
“Iya soalnya aku belum pernah ke Irian, Maluku. Kamu tau enggak aku masih pengen jadi relawan?”
“Iya. Tapi kelurga kamu ngijinin nggak?”
“Itu masalahnya…”
“Makanya kamu juga pikirin orang tua dong…”
“Tapi aku… Enggak tau deh Den, rasanya pengen menebus kesalahan masa lalu…”
“Kan enggak harus dengan jadi relawan,kan? Jadi orang yang berguna aja itu udah cukup kok”
“Iya, ya… aku pengen jadi orang sukses. Jadi kepala rumah sakit.”
“hahhaha. Iya, iya dan keliling Indonesia.”
“hahhaha.”
Kita ketawa sampe capek.
“Kamu inget nggak pertama kali kita ketemu?”
“Hahaha. Pas tes kesehatan Unand kan?”
“Sebelum itu, pas kita SMA kelas kita gabung.”
“Pas kelas tiga kan kita waktu itu…?”
“Nggak ah, pas kita kelas satu tau, udah lupa aja.”
“Masak? Kita kelas tiga, belajar metematika pas mau UN. Abis itu kita semua kena marah gara-gara ribut.”
“Haahah. Iya, iya. Kamu masih pake softlens dan aku tanya pake mines apa enggak”
“Hahahha. Iya. Nggak tau kenapa kita jadi ngomongin softlens ya.”
“Abis itu baru kita ketemu, pas tes kesehatan.”
“Waktu itu aku enggak kenal siapa-siapa disana. Ketemu kamu itu rasanya kayak pas musim kemarau terus tiba-tiba ada hujan…”
“Hahahahha. Ah masak iya? Tapi aku yang waktu itu merasa bisa apa-apanya sendiri biasa aja tuh ketemu kamu.”
“Huuu. Iya deh. Iya”
“Abis itu kita ngurus berkas-berkas bareng-bareng.”
“Kamu inget pas kita ngurus password portal ke IT pusat….”
Kita cerita flashback dari SMA sampe kluiah sekarang.
Sampai ada pasien datang dan kami buru-buru mengambil brangkar, mengecek ABC, dan dinas shift malam semakin panjang,
“Impian kita berawal dari dua mahasisawa preklinik yang bercita-cita menjadi kepala Rumah Sakit”
“Mahasiswa preklinik dinas malam.”
“Yang masih unyu-unyu. hahhaa”
“Hahahhah”
Lagi-lagi kami tertawa sampai ketiduran diruang prasat. Kemudian terbangun mendengar pintu IGD didorong.
Lalu buru-buru bangun, memaksa mata agar tidak mengantuk, dan mulai menganamnesa.
“apa yang dirasakan saat ini, pak?”
Beberapa hari kemudian, cita-cita sebagai perawat yang menjadi kepala rumah sakit masih jadi trending topic diantara kami.
Mudahkanlah ya Allah. Dan berikan yang terbaik untuk kami. Amiin.
Sebuah catatan dari masa lalu yang entah kenapa terasa jauh sekali. :)














