“Kamu tahu kenapa aku masih saja suka melakukan perjalanan?”
Sebuah pertanyaan terlontar dari bibirmu ketika kita sedang berjalan kaki menyusuri salah satu tempat wisata di daerahku. Aku memandangmu lekat sambil menggeleng lemah.
“Jika dulu aku beralasan sedang melakukan pencarian, maka kali ini setiap perjalananku bukan lagi untuk itu.”
“Lalu?” tanyaku sambil berhenti melangkah dan mengajakmu duduk untuk sekadar meluruskan kaki yang sedari tadi berjalan tanpa kenal lelah.
“Perjalananku kali ini hanya untuk membuatku selalu ingat bahwa aku telah memiliki rumah untuk pulang. Dan di setiap perjalananku, aku tahu bahwa seseorang telah menungguku untuk kembali,” jawabmu sambil merekahkan sebuah senyuman.
Aku menoleh ke arahmu sambil menyunggingkan sebuah senyuman juga, “Jika kamu sudah memiliki rumah, kenapa masih saja betah untuk berlama-lama melakukan perjalanan? Bukankah rumah seharusnya membuatmu tenang dan tak ingin lama-lama berada di luar?” aku kembali mengajukan sebuah pertanyaan.
Kini pandanganmu menatap lurus ke depan, memandang orang-orang yang berlalu lalang dan menikmati hiruk pikuk yang terjadi di sekitar. “Jika rumah hanya membuat kita tak bergerak ke mana-mana, Mungkin ada yang salah dengan definisi rumah itu. Sebab yang aku tahu, rumah adalah tempat di mana kamu merebahkan lelah. Tempat di mana kamu menyusun segala cita-cita dan harapan. Tempat di mana kamu tahu bahwa segala hal tak bisa tercapai bila hanya diam, tak bergerak apalagi melangkah. Rumah adalah awal untuk kita melakukan perjalanan, serta akhir untuk kemudian kita jadikan tempat menuai segala pelajaran.”
Aku mendengarkan penuturanmu dengan saksama seraya menikmati langit yang sedang cerah dengan warna biru mudanya. Seluruh pikiranku melayang, aku hampir saja melamun namun kamu sudah lebih dulu mencegahnya dengan sebuah kalimat yang mampu membuatku tersipu. “Terima kasih telah menjadi rumah untukku setelah lelah melakukan perjalanan. Terima kasih karena bersedia menjadi awal segala mimpiku lahir, terima kasih karena masih bersedia membersamai. Dan terima kasih, karena telah menjadikanku rumah untukmu mengawali seluruh harapan tentang kita.”