Pesawat yang mengantarkanku menuju tempat baru, barangkali masih terparkir manis di apron. Jadwal penerbanganku yang tertera dalam surat elektronik menunjukkan pukul 11 pagi, masih dua jam sebelum check in dan tiga jam sebelum keberangkatan. Aku sudah duduk manis di sebuah kedai kopi, di ujung kanan terminal keberangkatan luar negeri. Memesan americano, menyesapnya pelan-pelan. Menghirup aroma kota, aroma negeri ini yang sebentar lagi akan kutinggalkan, entah berapa lama.
Perjalanan ini, kepergian ini, memberi makna baru dalam hidupku. Aku mendefinisikan ulang kata ‘pulang’ dan ‘singgah’. Mengganti kata pulang dalam kamus hidupku dengan kata singgah. Aku tak lagi membutuhkan kata pulang, aku hanya membutuhkan kata singgah. Jika nanti aku kembali ke negeri ini, entah terpaksa karena urusan pekerjaan atau sekadar ingin, kata yang tepat untuk kugunakan adalah singgah, bukan pulang.
Aku tak lagi memilki tujuan pulang. Tak ada rumah untuk berteduh, tak ada yang menunggu kepulanganku.
Kusesap habis kopiku. Sudah waktunya check in. Mengucap salam perpisahan dalam hati, pada keluarga, teman, dan perempuan yang amat sangat kucintai. Sebuah teriakan membuat langkahku terhenti. Suara perempuan yang begitu kukenal. Perempuan yang menjadi salah satu alasan terbesarku menghapus kata ‘pulang’ dalam kamus hidupku.
Ketika membalikkan badan, kudapati wajah penuh peluh. Perempuan di hadapanku langsung memelukku. Membuatku sekujur tubuhku kaku. Membuatku bingung bagaimana bereaksi. Butuh beberapa detik hingga aku menyadari bahwa perempuan di hadapanku ini nyata, pelukan ini nyata. Melepaskan trevel bag dari genggamanku, memeluknya. Merekuhnya. Membiarkan perempuan itu membenamkan wajahnya di bahuku, membasahi kausku.
Pelukan itu perlahan mengendur, perempuan itu menarik jarak dengan lembut, sangat lembut.
“Ini,” katanya seraya menyerahkan kaus yang dibungkus plastik transparan. Kaus buluk yang sering digunakannya untuk tidur. Kaus buluk yang sering kupinjam jika menginap di rumahnya.
Di ruang tunggu, kubuka plastik pemberiannya, mengeluarkan kaus, memeluknya. Kepalaku mulai mempertanyakan, masih pentingkah kata ‘pulang’ dalam hidupku. Masihkah dia menjadi tempat pulangku nanti setelah kegagalan dan kekecewaan yang kuberikan kepadanya. Aku, lelaki kalah. Yang tak menepati janji untuk menikahinya. Yang tak berani menentang penolakan orangtuaku tentang rencana pernikahanku dengannya.
Aku harus menambahkan satu kata dalam kepergianku kali ini. Lari. Aku pelari yang tangguh, lari dari kenyataan pahit.
*pict source: @karenapuisiituindah