Baiknya Begini Saja
Saya: Kalau kita ketemu beberapa tahun lalu, mungkin kondisinya akan lebih mudah buat kita
Kamu: Mungkin sebaliknya. Kamu belum siap nerima aku pun begitu sebaliknya. Hubungan kita mungkin nggak menarik. Yah, meskipun, ujung-ujungnya kita nggak sama-sama juga
Saya: Perpisahan memang melahirkan banyak jika
Kamu: Waktu tahu aku menikah, tanpa kabarin kamu, kamu pasti marah sama aku
Saya: Awalnya iya. Aku merasa bego banget, nggak tahu kapan kamu ketemu dia, apakah waktu masih sama aku atau setelahnya. Aku nggak tahu pasti
Kamu: Sampai sekarang masih marah?
Saya: Nggak. Aku akhirnya mikir gini, kalaupun kamu ketemu dia waktu masih jalan sama aku, hubungan kita kan emang nggak bisa melangkah lebih jauh lagi, kalau ada orang yang bisa bikin hidupmu lebih baik, syukur-syukur bahagia, pada akhirnya, aku nerima juga. Soal pertanyaan-pertanyaan itu, yah, aku mikirnya ke diri sendiri. Aku nggak bisa ngatur perasaanmu, tapi aku yakin, aku sesayang itu ke kamu. Bisa menyayangi kamu dengan sangat itu buatku lega
Kamu: Sekarang kita udah punya pasangan masing-masing, hidup masing-masing. Ini jadi pertemuan pertama (yang nggak disengaja) setelah kita pisah dan jadi yang terakhir
Aku: Iya, baiknya gitu aja. Masing-masing aja











