Come on support people with HIV/AIDS to get the better future without stigma and discrimination #cilacapbercahaya #banyumas #supportforthefuture #instapurwokerto #hiv #aids #mran2015
seen from United States
seen from Georgia
seen from Tunisia
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Chile
seen from Philippines
seen from United States
seen from Italy

seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from Pakistan
seen from Argentina

seen from Malaysia
seen from France

seen from Russia
Come on support people with HIV/AIDS to get the better future without stigma and discrimination #cilacapbercahaya #banyumas #supportforthefuture #instapurwokerto #hiv #aids #mran2015
#NowPlaying Black Flag - Forever Time
“Saya enggak tahu dia sudah nggak ada. Kenapa nggak ada yang kasih tahu?” lirih seorang ibu dokter berbicara di tengah Taman Musik Centrum, Bandung pada Sabtu (23/5/2015).
Saat itu, Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2015 sedang berlangsung. Ibu dokter tersebut adalah satu dari beberapa orang yang mengutarakan kisahnya tentang salah seorang pengidap HIV/AIDS yang telah berpulang dan namanya diabadikan dalam karya quilt. Orang yang diceritakan bu dokter itu; yang namanya tertera di sebuah karya cantik; yang sudah meninggal karena penyakit yang belum ada obatnya itu; adalah pasiennya. Sebelum bu dokter ini bercerita, beberapa orang lain sudah duluan menuturkan kisahnya tentang orang terkasih yang sudah tak ada. Kisah mereka cukup mengharukan. Tapi ada sesuatu tentang kisah ibu dokter ini yang membuat dada saya sesak…
Seseorang yang saya sayang, sahabat masa remaja saya, seorang ODHA, tinggal cukup jauh dari saya. Ialah Bang Ali (cerita tentang dia bisa dibaca di sini) Mendengar cerita ibu dokter itu, saya membayangkan diri saya pergi ke negeri tetangga tempat Bang Ali tinggal, kemudian mendapati dia sudah nggak ada. Mungkin reaksi saya akan sama seperti ibu dokter; “Saya enggak tahu dia sudah nggak ada. Kenapa nggak ada yang kasih tahu?” Seandainya saya dan Bang Ali nggak memperbaiki cara berinteraksi, mungkin suatu hari apa yang dirasakan bu dokter itu juga mungkin saya rasakan. Atau Bang Ali rasakan.
Saya dan Bang Ali sering sekali ngobrol soal mati. Sejak pertama kali tahu kabar Bang Ali setelah bertahun-tahun hilang kontak dan tahu statusnya sebagai ODHA di tahun 2012, saya selalu punya feeling bahwa dia akan pergi duluan meninggalkan saya. Stupid feeling, I know, karena umur siapa yang tahu kan? Pembahasan soal kematian ini Bang Ali duluan yang memulai. Di salah satu email-nya dia bilang:
"Neng, kamu setelah tahu saya HIV pasti jadi khawatir yah? Takut saya meninggal duluan? Hehe. Kalau mengesampingkan cara meninggal yang sifatnya 'kejutan', kayanya sih emang saya akan meninggal duluan. Kondisi saya sekarang kelihatan baik, tapi nggak juga. Makanya, kita email-emailan aja ya? Hahaha. Bingung ya, apa hubungannya?
Gini neng, saya tau pisan kamu anaknya gampang sedih. Saya masih inget cerita kamu nggak mau pelihara ikan cupang lagi karena takut sedih kalau nanti ikannya mati :) Whatsapp-an tiap hari cuma akan bikin kamu terbiasa lagi sama kehadiran saya. Nanti kalau saya pergi, bakal ada yang hilang dari hari-hari kamu dan kamu bakal sedih. Saya juga nggak mau tersiksa lantaran mikirin kamu yang mengkhawatirkan saya. Bener deh, saya mah mati ya mati aja. Tapi ngebayangin kamu sedih itu yang bikin saya sakit. Jadi kita keep it like this aja, saling kirim email sekali-kali. Biar nggak ada delusi kalau kita bakal kaya dulu lagi. Karena memang nggak akan. Lagian, kita udah bertahun-tahun nggak saling ngobrol dan hidup masing-masing ternyata baik-baik aja, kan?
Pls take a good care of yourself :)"
Karena ketakutan akan attachment dan pengalaman bertahun-tahun tanpa kontak dengan Bang Ali, saya menyetujui kata-katanya. Kami pun hanya saling berkirim email sesekali. Beberapa kali saya liputan konser di negeri tempatnya tinggal pun saya tidak pernah mengunjungi dia. Tapi kecemasan saya akan keadaannya nggak pernah berhenti. Ketika email saya tidak kunjung berbalas berminggu-minggu, pikiran saya ke mana-mana.
Sampai akhirnya di penghujung 2014 saya baca buku “Melampaui Mimpi”, baca kisahnya Kang Ginan, dan menyadari sesuatu... Rasanya cara saya dan Bang Ali berinteraksi selama ini tidak tepat. Di kisah Kang Ginan, orang-orang yang mendukungnya selalu ada. Sementara di kisah Bang Ali, orang yang mendukungnya - alias saya - malah menjaga jarak aman. Setelah mengirim buku itu ke tempatnya dan dia bilang sudah dibaca, saya pun membujuk Bang Ali untuk Skype-an, saya bilang sama dia bahwa ada hal yang harus dibicarakan. Dia pun menyanggupi.
Setelah sesi obrolan Skype semalam suntuk, saya dan Bang Ali memutuskan untuk merevolusi cara kami menghadapi keadaan.
Kami sadar, berbagi cerita tidak akan menambah luka, justru malah memberi warna. Kami sadar, kematian tidak sepatutnya diperlakukan seperti musuh yang keji, justru itulah alasan kenapa hidup ini berarti. Kami sadar, yang kami punya sejak dulu terlalu berharga untuk dilepas begitu saja, apa lagi dengan alasan takut menghadapi sesuatu yang nyata.
Jadilah sejak November 2014 saya dan Bang Ali kembali jadi partner berbagi. Seperti jaman dulu ketika saya masih berseragam putih-biru dan Bang Ali putih-abu. Seperti jaman dulu ketika kami janjian mabal sekolah dan nongkrong di warnet. Seperti jaman dulu ketika kami dianggap gila karena cekikikan berdua di pinggir jalan, padahal kami menertawakan kehidupan. Yah, kalau ternyata nanti salah satu dari kami harus duluan pergi, let it be. Karena semua hal, cuma masalah waktu, akan tiba pada sebuah akhir.
Seperti diteriakkan Henry Rollins di lagu “Forever Time”,
This is the first time, this is the last time. It's my only time, but it's only time. Time, time, time, time.
Di MRAN 2015 kemarin, saya seakan diingatkan kembali bahwa kematian itu begitu nyata, pun harapan dan kasih sayang. Karya-karya quilt yang berhiaskan nama mereka yang telah pergi memang bikin ingat kematian, namun pelukan yang dibagi di antara yang ditinggalkan justru menguatkan.
Di MRAN 2015 kemarin, saya seakan diingatkan kembali untuk mensyukuri waktu yang masih dimiliki. Mati mungkin datang kapan saja, tapi waktu yang tersedia sepatutnya dimanfaatkan sebisanya.
Saya dan Bang Ali terpisah jarak, tapi kami selalu ada untuk satu sama lain. Kebersamaan kami hanya ditopang koneksi internet dan tiket pesawat promo, tapi kami selalu saling berkirim doa. Pertemuan kami terhalang penanggalan di kalender yang minim angka merah, tapi kami selalu berbagi kisah.
Kalau kamu dan ODHA yang kamu kenal masih bersama, bersyukurlah, nikmatilah. Jangan justru menjaga jarak karena takut kelak akan berpisah seperti saya dan Bang Ali dulu. Saya baru sadar, betapa konyol kami berdua waktu itu.
Kalau kamu dan ODHA yang kamu kenal masih bersama, peluk erat dia dan rayakan kehidupan. Iya, kehidupan kita semua! Karena mati datangnya nggak bisa diprediksi, mati juga nggak tebang pilih. Siapa yang tahu saya, dia, atau kamu yang akan pergi duluan? Kalau kata Bang Ali, "ODHA itu most likely mati karena virusnya, sedangkan yang nggak punya HIV/AIDS, kalian mungkin mati dengan cara paling konyol kaya di video Dumb Ways to Die. Hehehe."
Ini, video Dumb Ways to Die favorit kami, sebuah pengingat kematian yang cukup imut-imut:
P.S. di postingan sebelumnya saya nggak mengungkap nama Bang Ali dan statusnya sebagai ODHA karena saya tahu ia nggak nyaman dengan itu. Tapi sekarang, dia mempersilahkan saya menyebut namanya dan membagi cerita tentang kami. Yay!