Takdirmu, tidak akan luput darimu.
Aku ingat, minggu dimana seharusnya sudah menentukan hendak berangkat hari apa ke Malang perihal MTQMN, adalah minggu ujian besar bagi program studi kami. Rombongan akan berangkat hari Rabu. Sedang kan aku masih melewati 3 ujian di minggu itu. Sekali di hari selasa, rabu dan jumat. Singkatnya, aku bersikeras ingjn berangkat jumat siang lepas ujian terakhir, karena lomba bagian kami adl hari sabtu. Hari demi hari, ternyata minggu itu padat sekali bimbingan dengan dosen2 pendamping terbaik. Pulang pukul 9 malam sampai rumah pun, dijalani. Dan saat itu masih harus ujian kuliah, sungguh, bila ada keadaan yang membuat cukup frustasi, saat itu adalah salah satu momennya. Tapi ternyata, memperjuangkan apa yg kita tahu kayak untuk diperjuangkan, menyenangkan. Hari itu, hari Selasa. Bimbingan hingga malam. Akhirnya, setelah bernegosiasi dengan cukup panjang, setelah sempat mengurus izin meninggalkan ujian di hari jumat agar dapat diberi kesempatan ujian susulan dan ternyata tidak bisa, aku mengiklaskannya. Iya, singkat cerita, modul 6.1 yang membahas full tentang obsgyn, adl favorit ku di semester 6 ini. Dan, qadarullahnya, favoritku ternyata adl apa apa yg harus ku perjuangkan lebih banyak, mungkin ujian sabar, juga kali. Nilaiku di minggu ke 6 C. Cukup sedih saat itu, 69 koma sekian. Sedih lantaran modul itu, adl modul dimana jam belajarku sangat teratur. Buku Sarwono merah yg tebel itu jadi kawan setia sepanjang malam siang. Dan nilaiku, ternyata, jika memang mengaku cinta pun, kau akan rela berkorban lebih banyak, meluangkan waktumu lebih banyak untuk melakukan atau memperjuangkan (si)apapun yg sedang kau perjuangkan. Minggu ke 7, akhir dari modu, 6.1, nilaiku hanya berubah dari C menuju B. Dan minggu dimana MTQMN berlangsung, adalah kesempatan terakhir membuktikan bahwa obsgyn adl salah satu matkul yg ku cintai. Ternyata, aku harus melepasnya. Meninggalkan kesempatan terakhir, bertolak ke kota Malang pada Kamis malam. Singkatnya, dengan kakak idealismeku, ku katakan, "aku melepas, untuk sesuatu yg lebih besar." Pulang dari Malang, aku benar benar telah lupa akan modul obsgyn itu, sampai liburan bersisa 4 hari, kawanku berkata via line, "Lil, mau ujian 6.1 susulan ga ? Kata mbak ratna kmrn kamu nyerahin surat. Bisa susulan besok Kamis." Aku tersenyum membacanya, sebuah peluang kembali memperjuangkan yg dicintai. Singkat waktu belajar, hari ini, nilainya keluar. Bahagia, bukan lantaran nilainya berubah huruf saja, melainkan, aku kembali semakin mengimani, apa apa yang menjadi takdir kita tidak akan luput dari kita. Meski memperjuangkan terlihat sulit, terasa meletihkan, dan ujian macam macam datang menghadang, atas (si)apapun yang memang layak bagimu untuk diperjuangkan, setiap langkahnya membawa kebahagiaan tersendiri. Takdirmu, benar-benar tidak akan luput dan berpindah tangan darimu. Hanya saja, ALLAH ingin agar perjuanganmu tetap tulus, tetap maksimal, tetap terbaik. Baik doanya, ikhtiarnya, pasrahnya, hingga tawakalnya. Bukankah, ust Salim bilang, bahwa ketidaktahuan itu indah? Ia mengajarkan kita untuk berharap terbaik, berdoa terbaik, berikhtiar terbaik... Kelas Kuliah, 21 Agust 2017 Di tulis di antara penantian dosen Menulis, meninggalkan jejak, agar esok lusa, dapat kembali mengingatkan diri sendiri .












