Moment To Recharge 02 : Prinsip dalam Perjalanan
THE WORLDVIEW OF ISLAM
Suatu worldview yang hanya dimiliki Islam dan harus dipahami oleh setiap muslim.
Worldview adalah cara pandang manusia terhadap segala sesuatu yang dijumpai dalam kehidupannya. Manusia bisa membicarakan hal yang smaa namun menyikapinya dengan cara berbeda. Worldview-lah yang mengakibatkan perbedaan tersebut.
Contoh, pandangan seseorang tentang bekerja. Saya kerja untuk apa? Untuk menghasilkan uang? Kalau begitu, maka orang-orang tidak akan peduli halal dan haram.
Generasi dulu ditanya, “Udah gede mau jadi apa?” Jawabnya, “Jadi dokter atau guru.” Kenapa? Jawabnya, “Supaya bisa nolong orang. Supaya bisa mendidik orang dengan baik.”
Sedangkan, anak-anak generasi sekarang banyak yang ingin menjadi youtuber atau gamer karena uangnya banyak.
Terlihat jelas ada perbedaan cara berpikir, dan itu dipengaruhi oleh worldview-nya.
Untuk bertukar pikiran, manusia menggunakan bahasa. Karena itu, dibalik kata-kata pasti ada pemikiran yang dibentuk oleh worldview para pengguna bahasa tersebut.
Contoh, seseorang sedang membicarakan gurunya dengan sebutan “dia”. Pilihan kata sesederhana dia atau beliau menunjukkan worldview orang tersebut. Apakah ia menganggap guru itu setara dengannya atau menempatkan guru pada posisi yang lebih tinggi?
Kata worldview sebenarnya kurang sesuai bagi muslim. Oleh karena itu, Prof. M. Naquib al-Attas –seorang cendekiawan muslim asal Malaysia- mengusulkan istilah ru’yat al-islam li al-wujud yang memiliki arti pandangan Islam terhadap segala hal yang ada (zahir atau ghaib).
KONSEP MANUSIA
Ada yang beranggapan manusia itu evolusi dari binatang. Bahkan, dalam taksonomi biologi, manusia itu binatang (kingdom Animalia). Dampaknya apa? Kita akan menganalisis manusia seperti binatang.
Dalam pelajaran di sekolah, kita diberitahu bahwa kebutuhan primer manusia adalah sandang, pangan, papan. Apakah kebutuhan manusia hanya fisik saja? Padahal manusia dan binatang tidak sama. Manusia memiliki ruh, jiwa, akal, hati. Sedang binatang hanya memiliki insting.
QS al-Hijr [15]: 28 – 29. Manusia terdiri atas jasad dan ruh. Jasad terbentuk dari lumpur hitam. Ruh ditiupkan oleh Allah SWT. Malaikat baru diperintahkan bersujud kepada manusia setelah jasad manusia ditiupkan ruh oleh Allah SWT. Jadi, yang mulia dari manusia itu adalah ruhnya. Bahkan, mulia atau hinanya manusia bergantung pada ruhnya.
Dalam Islam, ruh itu lebih penting daripada jasad. Kalau kita menganalisis manusia seperti binatang, maka wajar jika kebutuhannya hanya kebutuhan fisik (jasad) saja.
Contoh kebutuhan ruh: kebahagiaan dan pengetahuan. Manusia tanpa pengetahuan adalah bodoh, dan menjadi manusia bodoh akan membuatnya tidak bahagia. Sebab fitrah manusia adalah belajar, selalu ingin tahu.
PERBEDAAN JASAD DAN RUH
Sifat-sifat jasad:
· Jasad dikendalikan oleh ruh, sedangkan ia sendiri tak pernah kenyang.
selalu ingin cari sensasi baru tanpa pernah merasa puas.
· Pada titik tertentu, kualitas jasad akan menurun dan takkan naik lagi.
kekuatan dan kecantikan/ketampanan begitu sampai klimaks, berikutnya ia akan anti klimaks.
· Ketika ruh dan jasad terpisah, jasad akan mati dan akhirnya membusuk.
Sifat-sifat ruh:
o Ruh adalah pengendali jasad, dan ruh itulah yang mengenali kebahagiaan hakiki.
o Ruh memiliki potensi untuk bertambah baik/bijak seiring waktu.
o Ketika ruh dan jasad terpisah, ruh tetap hidup, bahkan akan semakin sadar.
Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata, “Manusia hidup bagaikan mimpi dan ketika mati ia terbangun.” Tak sedikit manusia hidup yang berkhayal (bermimpi) ingin muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Saat meninggal, barulah ia sadar bahwa itu mustahil.
Maka perbaikilah ruh terlebih dulu, jangan hanya memuliakan jasad.
Ternyata manusia bisa memandang dirinya sendiri dengan cara yang salah. Dan jika begitu, maka ia akan mencari kebahagiaan di tempat yang salah juga.
KONSEP TUHAN SEBAGAI BANGUNAN SENTRAL
Semua konsep bersumber dari konsep Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan menyampaikan apa yang manusia tidak ketahui.
sumber gambar https://slideplayer.info/slide/13964243/
Dalam Islam, manusia berdosa tidak membuatnya jadi hina selagi ia mau bertaubat. Sebanyak dan sebesar apapun dosanya.
Taubat itu artinya kembali. Kenapa kita disuruh kembali kepada Allah? Karena bukan Allah yang pergi tapi kita yang meninggalkan Allah. Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “..Jika ia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari..” Adakah hadits yang berbunyi sebaliknya? “Jika ia meninggalkanKu dengan berjalan, Aku meninggalkannya dengan berlari..” Tidak ada! Allah gak pernah ninggalin kita. Selalu kita yang ninggalin Allah.
Materi di atas disampaikan oleh Ustaz Akmal Sjafril. Beliau seorang aktivis di Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia dan Indonesia Tanpa Jaringan Islam Liberal (ITJ), pendiri Sekolah Pemikiran Islam, dan pembina Halaqah Anak Minangkabau (Hamka). Karya serta kegiatan beliau lainnya dapat dijumpai di situs malakmalakmal.com














