Kenapa ya dulu aku bangga banget pernah milih hutan campuran di Baturaden saat KKL Ekologi, ternyata titik itu bukan apa-apanya jalur pendakian gunung Slamet. Menggemborkan repotnya mahasiswa Biologi KKL, ngga kaya jurasan lain yang banyak haha-hihinya di tempat wisata, padahal esensinya sebegitu nyata. Itupun hanya 3 sks (eh atau 4 ya?) dari 144 sks. Sisanya lebih banyak dalam lab, kelas, atau hutan Biologi.
Mengetahui usia tubuhku tak lagi muda, ditambah hobi rebahan tiap harinya, ku usahakan mengikuti latihan fisik anak-anak di sekolahan. Jika sempat, jam 5 atau setengah 6 ku lakukan peregangan dan jogging 15 menit. Ya walaupun makan gorengan dan kalori berlebih tak terelakkan.
Rupanya sebelum keberangkatan, murid kelas 3 yang tahu menyoal pendakian sangat ingin ikut, tapi selalu ku jawab belum waktunya, padahal aku pun tak ada pengalaman mendaki.
Malamnya sebelum hari H, aku tidur cepat sebelum jam 10, tubuh sudah amat lelah karna kegiatan seharian. Esoknya shubuhshubuh sudah bangun, selepas shalat, dilanjut peregangan dan jogging ringan 5 menit. Segera mandi dan bersiap. Pukul 06.16 sudah pamit dan menjemput Ken.
Anak-anak rupanya banya yang sudah datang lebih dahulu. Setelah menyiapkan pakaian ganti dan perkakas kompor beserta alat masak, kami berfoto bersama.
Rupanya anak pak Rofik dan anak adik iparnya(?) ikut juga. Kelas 4 dan kelas 5 SD katanya. Anak pak Aripin yang kelas 1 juga turut serta. Pukul 07.15 kami bertolak, iring-iringan 3 mobil, sampai di basecamp 2 jam kemudian.
Bu Isti mendampingi anak-anak registrasi mandiri, sepertinya biaya registrasi 15.000 per anak. Sebelum bersiap, pak Aripin mendampingi pemanasan dan peregangan.
Sip, sudah ready, siap mendaki ke pos 1 gunung slamet via gunung Malang! Anak-anak berbaris rapi, tak jauh beda dengan urutan saat latihan, tinggal ditambah 3 anak saja.
Aku tak tahu persisnya bagaimana anak-anak selama perjalanan, tapi di 15 menit pertama mereka sering istirahat. Ngos-ngosan. Jalan menanjak dengan tanaman sayur di kanan-dan kiri menyambut kami. Sejuk sekali disini, udara bersih, ramah memasuki relung alveolusku. Matahari tak seberapa menyengat, suhu juga masih bersahabat. Tapi karna masih beradaptasi, jaket masih ku kenakan agar tidak jetlag.
Sebagai bagian dari tim haha hehe alias hanya mengamati anak-anak dari jauh, aku banyak menghabiskan perjalanan dengan canda dan berfoto ria.
Perjalanan terasa makin berat saat hampir mencapai pos 1, mungkin 15 menit sebelum sampai. Track ngga karuan dan licin. Tanjakan makin sering, nafas makin memburu. Kabut datang disertai rintik, suhu semakin turun, jaket yang sempat ku lepas karna gerah kembali ku kenakan.
Rupanya hujan tak berhenti bahkan saat mencapai pos 1. Badan basah hampir seluruh. Pak Aripin yang sampai lebih dulu, telah sigap merebus air, menyiapkan kopi sevel. Perut keroncongan, ku lahap habis 2 arem-arem. Setelah cukup tenaga, ku bantu anak-anak menggoreng sosis dan nugget.
Omg, aku bahkan ngga tahu cara menyalakan kompor portable. Padahal sesimpel mengatur gas dan me’ceklek’kan kompor!
Ternyata ada 3 orang yang membawa nugget, beh berasa sultan! Haha
Suhu makin dingin, perut meminta jatah lebih. Hanya ken yang membawa bekal nasi, kami akhirnya berbagi dan saling menyuapi. Romantis sekali! Eh atau miris? :v
Rupanya sudah waktu dhuhur sebentar kemudian. Kami berwudhu dengan cara air terbatas dan mengenakan sepatu. Hujan sempat reda, namun deras selepas takbiratul ikram. Hujan menyertai sujud kami pada-Nya, mungkin ini cara air beribadah pada Rabb Pencipta. Pengalaman pertamaku shalat di tengah hujan begini.
Suhu makin turun, asap mengebul tiap kami bicara. Semua berusaha menggerakkan tubuh dan meniup telapak tangan agar tetep hangat. Satu dua anak-anak menggigil. Kami bersegera membereskan sampah pun barang bawaan, berfoto sebentar, dan kembali menuju base camp.
Perjalanan turun rupanya lebih menantang, air yang turun menyebabkan trek makin licin. Sepatu mudah slip jika tidak hati-hati. Karna aku terlalu khawatir terjerembab, ku putuskan turun dengan cara plorotan. Did u get it? Hahaha like this guys!
Sampai di base camp, aku baru sadar baju, celana, dan tasku penuh lumpur! Udah ngga karuan wujudnya!
Pukul 4 lebih kami mengemasi tas ke dalam mobil, melaju ke sekolah. Sepanjang perjalanan, kami bercerita pengalaman masing-masing saat mendaki, dan hal diluar pendakian. Rupanya Ken dan bu Isti sedang sama-sama mual karna mabuk kendaraan, tak henti bercerita supaya lupa yang dirasakan. Vino bersandar di jendela, diterpa angin dan air hujan sembari tidur.
Setelah bu Isti turun di masjid yang di maksudnya, Vino dan Helga tidur bersandar padaku. Serasa ibu mereka. Sebagai sandaran, aku berusaha memikirkan hal menarik, mengabaikan perutku yang begah, terisi angin. Imajinasiku melayang, jauh membayangkan jika aku memiliki anak laki-laki, bisakah menjadi sosok Ibu yang merawat baik-baik pemahaman duniawi maupun surgawi? Ahh! Mungkin terlalu cepat!
Tubuhku tidak terasa lelah sama sekali, masih sempat bercanda dengan wali murid sesampainya di sekolah. Mendekati maghrib, aku dan Ken pamit. Hujan masih mengguyur. Tiba di rumah, segera membasuh kotoran, shalat, dan beristirahah.
Alhamdulillah, pulang dengan selamat.