Merfolk reactions to the Song of the Sea

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Australia
seen from China

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Philippines
seen from China
seen from Netherlands
seen from Malaysia

seen from Malaysia
Merfolk reactions to the Song of the Sea
Catatan Pendakian Slamet
📍Guci Permadi, 28-29 Juni 2025
1. Alhamdulillah trip ke-4 dapat diskon, huehehe
2. Alhamdulillah rasa trip keluarga, haha. Ada yang ber7 persepupuan om ponakan, suami-istri, kakak-adik, bapak-ibu-anak. Banyak orang tua 🤣 berasa pro banget nggak tuh diri ini wkwkwk
3. Tipikal cuaca favorit, nggak panas, nggak hujan, sejuk cenderung dingin dan berkabut sesekali ☺️🫶🏻
4. Dari basecamp ke pos 1 hutan pinus, dari pos 1 ke pos 2 hutan lumut. Ketemu pakis-pakisan dan edelweis jugak! Cintaku 🥳
5. Sampai camp area menurutku masih cenderung aman untuk pemula. Apalagi kalau naik ojek. Tapi summitnya enggak 🙏🏻 kemarin ada temen bilang mau tektokin gunung Jateng, dih, kata gua mah kurang kerjaan kali u.
6. UNO adalah alat bonding dalam pendakian apalagi open trip. Setelah setengah perjalanan, kami baru benar-benar kenalan waktu udah main UNO 2 putaran, wkwk. Bawa deh kalo punya.
7. Nggak kepikiran akan bisa nangis di gunung, but Slamet did! 😭🫵🏻 ada mungkin 15 menit nangisin lautan awan yang entahlah gimana deskripsikan betapa luar biasa indahhhhhnyaaaaa. Aku ke Rinjani yang gunung terindah ituu nggak nangis lhoo, but Slamet 😭🫵🏻
8. Berhasil menemui Bima Sakti dengan mata kepala sendiri! Berhasil menangkapnya lewat lensa kamera yang baru dipelajari seadanya. Girang bukan kepalanggg! Kerinduan yang tertunaikan 🥹😭 alias misi utama pendakian ini
9. Allah Maha Baik! Hampir semua doa dan harapanku dikabulkan-Nya di trip kali ini. Berkali-kali bertanya ini gimana bersyukurnya? Yaa Allah, yaa Allah 😭🙏🏻
Sea of clouds, roofs of Central Java, Indonesia
Psikolog UGM Paparkan Alasan Dukun Pengganda Uang Masih Dipercaya Masyarakat
BALIPORTALNEWS.COM, YOGYAKARTA - Aksi pembunuhan yang dilakukan dukun Slamet yang dikenal sebagai dukun pengganda uang asal Banjarnegara, Jawa Tengah pada 12 pasiennya membuat gempar masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Psikolog Sosial UGM, Prof. Koentjoro angkat bicara soal fenomena dukun Slamet ini. Menurutnya, di tengah era modern saat ini masih banyak orang yang memercayai dukun dengan kemampuan luar biasa dapat mengubah hidup seseorang karena cara berpikir masyarakat Indonesia masih bersifat matrealistis. “Kalau dari perspektif korban, masyarakat kita itu konsep berpikirnya sangat matrealistis,” jelasnya saat dihubungi, Selasa (11/4/2023). Ditambah lagi saat ini di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, orang bisa dengan mudahnya melihat unggahan di dunia maya maupun media sosial yang memamerkan kemewahan hidup atau flexing. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memicu orang memiliki keinginan untuk tampil seperti mereka yang memperlihatkan simbol-simbol kepemilikan material. Untuk mewujudkannya orang akan berusaha dengan berbagai cara, termasuk dengan jalan pintas menemui dukun. Keontjoro menjelaskan bahwa masyarakat tanah air saat ini sudah mengalami perubahan. Apabila dulu menjalin relasi di komunitas yang didorong pada motif berafiliasi, berkumpul, serta bersahabat, tetapi sekarang ini mulai berubah pada motif kekuasaan maupun simbol-simbol status sosial kian menggejala. Memamerkan simbol status sosial agar bisa diakui dan dihormati. “Bagi orang berpengaruh, berbakat, maupun terdidik yang jadi korban itu karena serakah, ingin mendapatkan kekayaan lebih. Mereka ingin diakui dan dihormati lewat memerkan simbol-simbol status sosial,” paparnya. Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menyampaikan, ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat mudah percaya dukun. Pertama, korban terkena hipnotis gendam atau magic. Kedua, ada orang tertentu yang mampu memengaruhi, meyakinkan bahkan memikat para korban untuk memercayai iming-imingan yang disampaikan. Keontjoro menambahkan dari sisi pelaku kriminalitas, pelaku melakukan penipuan berkedok dukun untuk mendapatkan jalan uang dengan jalan pintas. “Biar tidak ditagih terus penggandaan uang yang dijanjikan, korban diajak melakukan ritual yang sebenarnya untuk menghabisi nyawa korban dan mereka percaya kalau itu bagian dari ritual,” tuturnya. Lantas bagaimana cara agar masyarakat tidak terjebak penipuan termasuk berkedok dukun? Koentjoro mengatakan perlunya pendidikan keluarga yang mengajarkan ketentraman dan kesejahteraan hidup bukan dari simbol status sosial. Namun memaknai kebahagiaan dengan selalu bersyukur kepada tuhan. “Sebenarnya agak susah mencegahnya, selama motif ingin diakui masih ada. Perlu belajar sufisme untuk melawan matrealisme sehingga disini pendidikan keluarga menjadi penting dalam mengajarkan kehidupan untuk senantias bersyukur pada tuhan,” pungkasnya.(bpn) Read the full article
#mountaneering @arrua_ Kilas balik dari pos pertama menuju pos berikutnya #slametmountain #slamet #mtslamet Like Follow Tag official account Instagram: @bcpermadiofficial Facebook Page: @bcpermadiofficial Review & share photo/video di google profil kami👇 Google: BASECAMP PERMADI GUCI ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤˢᵃˡᵃᵐ ʰᵃⁿᵍᵃᵗ ᵈᵃʳⁱ ᵏᵃᵐⁱ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ꧁☆ 𝓟𝒆𝒓𝒎𝒂𝒅𝒊 𝓞𝒇𝒇𝒊𝒄𝒊𝒂ℓ ☆꧂ (di Pos 4 Amreta) https://www.instagram.com/p/Ch7PXebpN1T/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Ingat Slamet yang Nikahi Nenek Tua umur 74 tahun? Begini Kabarnya Sekarang
Ingat Slamet yang Nikahi Nenek Tua umur 74 tahun? Begini Kabarnya Sekarang
Bewarajabar.com – Dunia hiburan sempat dihebohkan oleh pernikahan beda usia 55 tahun. Tepatnya 4 tahun silam pada 2017, pernikahan keduanya sempat mengguncang tanah air. Pernikahan itu memang sudah berlangsung selama empat tahun lalu, dan disebut sebagai pernikahan beda usia paling kontroversial di Indonesia. Kehebohan itu tak hanya terjadi di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Adalah situs…
View On WordPress
Wayahe kerjo yo kerjo, wayahe momong yo momong, wayahe ngaji yo ngaji, wayahe mulang yo mulang.