Late report... Minggu yang sibuk seperti biasa nya setelah sepekan penuh menjalani kehidupan perkuliahan. Hari minggu yang biasa saya isi cukup dengan menuntaskan pekerjaan rumah dan memberi waktu istirahat yang kian lama kian di rindu tubuh saya. Pada tanggal 12 Februari 2017 saya putuskan untuk diisi sesuatu yang diluar rutinitas namun telah saya jadwalkan, khusus. Seminar dan peluncuran buku pertama yang saya hadiri di Kota Udang, Cirebon. Sebelum menghadiri acara yang rencana nya akan dimulai pada pukul 10 pagi ini. Pagi-pagi sekali saya sudah bersiap, tak hanya untuk menghadiri acara ini tetapi untuk menyelesaikan kewajiban atas tugas kuliah - tugas kelompok. Yaaa menghadiri acara ini seakan salah satu hak saya sedang setiap hal yang berkaitan dengan tugas perkuliahan adalah kewajiban saya atas tuntutan saya akan hak menuntut ilmu. Alasan mengapa saya cukup terlambat tiba di tempat seminar, Gramedia Cipto Cirebon. Beberapa momen terjadi hingga menimbulkan tanya dalam benak saya. Tentang mengapa seharusnya seorang perempuan berpergian harus dengan mahramnya, tentang mengapa sebaiknya lelaki dan perempuan seharusnya tidak berbaur dengan bebas perlu batasan-batasan, tentang betapa sebenarnya di antara lelaki dan perempuan yang berdua akan ada setan di antaranya. Pertanyaan-pertanyaan yang sekejap terlintas lalu jawabannya ada dalam acara hari ini bagai pedang yang melibas segala. Sedikit lucu mengenangnya. Keterlambatan saya tak terlalu berdampak selain terhadap tempat duduk karena acara yang memang baru dimulai saat seluruh peserta sudah berada didalam ruangan. Dimulai dengan pengakraban antar peserta seminar di pandu oleh MC. Ada rasa malu, canggung, tapi saya tertawa geli menyadari yang hadir kebanyakkan adalah para guru dan orang tua. Walau diakhir acara saya mendapati beberapa mahasiswa. Tetap saja entah saya termuda atau bukan. Dilihat dari cara berpakaian dan ukuran tubuh, saya yang terkecil. Kekanak-kanakkan. Teman temu event saya di acara ini adalah seorang Ibu, Guru yang datang karena agenda Ikatan Guru PAUD dengan nama Taman Kanak-Kanak yang sama dengan TK saya dulu. TK Negeri Pembina tapi saya Sumbawa ini Cirebon. Hanya bertukar informasi pekerjaan saat ini dan asal tanpa bertukar nama sebelum kami dijarak - dipisahi rekannya yang baru datang kemudian. Ibu Guru yang ramah dan terlihat lucu untuk seseorang yang cukup kesepian karena datang sendiri tanpa seorang partner pun. Setelah Sang MC cukup membangunkan suasana dan memfokuskan konsentrasi para peserta. Walau beberapa peserta keluar ruangan ditengah-tengah acara entah karena ada urusan pribadi, mengurusi anaknya yang rewel dan sebagainya. Acara dibuka dalam kemasan yang cukup menarik. Sedikit berbeda sebagai pengalaman seminar pertama saya di Cirebon dibanding seminar-seminar yang telah saya hadiri baik di Sumbawa Besar maupun di Kediri. Awal Pak Munif Chatib mengisi seminar dengan menunjukkan video pernikahan anaknya, Bella. Seakan menunjukkan alasan tentang mengapa buku yang akan diluncurkan hari ini terbit. Buku yang menjadi hadiah pernikahan dari seorang Ayah kepada Anaknya. Buku yang katanya menjadi tanda mata pernikahan anak Sang Penulis. Sekalipun Pak Munif Chatib mengatakan seakan ini adalah hal yang baru. Tetapi diantara para penulis yang belum menikah, menjadikan buku sebagai tanda mata di acara pernikahan mereka menggantikan souvenir-souvenir telah masuk ke dalam daftar harapan mereka. Yang berbeda adalah ini hadiah seorang Ayah kepada Putri nya. Manis. Terlihat bagaimana sebagai seorang Ayah, Pak Munif Chatib begitu bangga kepada Putri nya dan keluarga nya. Sedikit pengenalan akan diri nya, buku-buku yang beliau tulis sebelumnya, dan beberapa hal dalam buku yang diluncurkan hari ini. Hal yang menarik adalah bagaimana buku berisi kalimat-kalimat bijak, quotes ini dikaji bersamaan dengan materi seminar hari ini. "Peran Keluarga dalam Mengenalkan Pendidikan Seks Sejak Dini kepada Anak" Beberapa fakta yang dikutip oleh Pak Munif Chatib dari beberapa sumber yang membuat peserta beristighfar akan fakta yang terjadi. Sedikit menimbulkan kegaduhan diantara para peserta seminar, dari yang saya tanggkap tak ada yang tak mengiyakan, merasa ngeri dan sedih. Saya hanya bisa tersenyum. Sedikit penjelasan tentang betapa bahaya nya pornografi terutama pada otak. Hanya dapat berteriak dalam hati menyatakan argumen saat komik dimasukkan daftar 'pengrusak'. Iya! Tidak akan berguna di forum seperti ini bila saya ingin menjelaskan panjang lebar akan protes saya dan alasan keberatan saya. Argumen yang sedikit redam karena persentase nya tak ada seperempat. Hampir seperempat. 24%. Inti dari pendidikan seks yang disampaikan adalah pola pendidikan seks yang terdiri dari; memberi INFORMASI; menjawab PERTANYAAN; dan PERILAKU keseharian. Dalam tahapan tingkat usia dini, akil balig, remaja, dan dewasa. Disampaikan dengan cukup jelas. Menekankan betapa banyak hal yang sedikit salah selama ini. Hal-hal yang ditekankan lainnya adalah bahwa Seorang Ibu sangat berperan penting, sebagai madrasah awal anak-anaknya. Pembahasan mengenai buku #ParentsLearn2 "Menikah Itu Ibadah" yang menarik untuk saya tentulah hal-hal yang dengannya dapat saya sangkut pautkan secara nyata dengan kejadian yang telah terjadi dalam hidup saya. Beberapa bagian favorit saya: -"Masa Indah Remaja. Masa indah remaja adalah saatnya mengeluarkan semua potensi diri pada puncak kekuatan. Masa belajar, masa berkarya, masa menjadi penjelajah alam raya, masa menjalin persahabatan, dan masa yang belum pernah terpikir oleh manusia. Sangat naif, jika masa indah remaja diidentikkan dengan masa pacaran, sungguh sempit." -"Dimensi Suka Dan Cinta. Rasa suka dan cinta berbeda dalam hal dimensi. Suka itu dimensi nafsu atau naluri hewaniah. Liar, tak ada aturan. Naluri ingin MENDAPATKAN sesuatu dari lawan jenisnya. Sementara cinta itu dimensi Ilahiah atau ketuhanan. Sistem rasa yang humanis. Rasa cinta cenderung ingin MEMBERI dan MENJAGA KESUCIAN lawan jenisnya." Pak Munif Chatib sendiri mengatakan betapa bagian-bagian buku nya alangkah baiknya difoto dan dibagikan ke orang-orang lain juga. Melihat betapa buku ini juga dibalut dengan warna-warna dan ilustrasi menarik. Tidak mengherankan ditambah penambahan alasan dari pihak penerbit nya sendiri, Mizan. Saya cukup tersenyum-senyum saja memerhatikan betapa Pak Munif Chatib baik dalam penyampaian Seminarnya maupun dalam buku nya seakan menggiatkan "NIKAH MUDA". Yaaa! Putri beliau, Bella menikah muda dan beliau sebagai Ayahnya bangga. Sampai di sajikan dalam sebuah video. Poin utama nya saat beliau memperagakan pernikahan dan pendidikan sebagai dua bangunan yang berbeda. Bukan disusun. Pendidikan dulu baru menikah. Tetapi berdampingan. Alasan mengapa beliau merestui Bella menikah muda di usia 20, saat masih Semester V dengan seseorang berkenegaraan Amerika. Hal yang juga mengundang tawa kecil saya adalah komentar Ibu-Ibu yang seakan sedikit mengomel, "Iyalah. Calon suami nya mumpuni... kelihatan berada.". Penyajian yang mengundang sedikit kecemburuan. Keluarga yang terlihat bahagia dan sejahtera. Entah apa gerangan tiap event yang berkaitan dengan buku yang saya hadiri di Cirebon seakan membahas masalah pernikahan. Tapi, saya pribadi memilih mengaitkannya dengan hubungan saya dan orang tua saya. Belum terlalu memikirkan karena belum tahu dengan siapa nanti nya. Materi-materi yang disampaikan lebih bersifat pembelajaran kepada para orang tua sebagai bentuk rangkaian #ParentsLearn. Saat sesi tanya-jawab. Sebagai seorang anak yang timbul banyak tanya bahkan saat saya baru mendaftar saja sedikit membuat saya kesal dan kecewa karena tidak diberi kesempatan. Sesi yang jadi nya diisi oleh para guru dengan masalah pendidikan seks di sekolahnya. Sesi sedikit curhat. Sesi membawa masalah untuk dicari pemecahannya oleh Pak Munif saat saya telah merangkai beberapa pertanyaan yang saya sendiri sibuk memilah-milah sebagai pertanyaan penting sedari sebelum seminar sampai saat seminar berlangsung sambil memerhatikan. Sayangnya, kesempatan itu tak kunjung datang. Jujur! Saat MC menanyakan apakah kami para peserta puas akan acara hari ini? Saat yang lain merasa puas. Saya tidak. Ini pengalaman saya dalam acara peluncuran buku. Suatu kebanggan dan kebahagiaam bagi Kota Cirebon, Kota Wali yang menjadi Kota pertama buku ini diluncurkan secara resmi. Ada saya yang menyaksikan. Namun, kekecewaan saya terus berlangsung hingga ditutupnya acara dengan MC yang mengucapkan permintaan maaf. Saya memaafkan. Kekecewaan yang terobati dengan bertambahnya koleksi buku yang ditanda tangani oleh penulisnya sendiri sedang tanda tangannya saya mintai sendiri... walau kali ini secara tidak langsung karena kami harus menumpuknya terlebih dahulu dan saya tidak mendapatkan kesempatan meminta kata-kata dari penulis yang dikhususkan untul saya. Kekecewaan yang obat nya ditambahi oleh Pak Munif Chatib karena saat berfoto bersama, beliau menyadari saya peserta yang muda. "Waaah~ selfie yaaa~", saya hanya tersenyum. Yaa! Karena saat yang lain datang bersama teman, keluarga, rekan kerja, kelompok, rombongan, dan pasangan masing-masing. Saya sendirian. Anak pintar-mandiri komentar Ibu teman temu event saya tapi saya kesepian, sebenarnya. Seminar parenting yang benar-benar untuk "parents". Rangkaian #ParentsLearn yang seakan melupakan seri awalnya, "#ParentsLearn Biarkan Anak Bertanya". Lalu karena keterbatasan waktu saya tak dibiarkan bertanya. Ahh~ saya lupa saya sudah 20'tahunan. Bukan anak-anak lagi. Seminar dan peluncuran buku pertama saya di Cirebon memberikan kesan tersendiri bagi saya. Mengingatkan saya untuk kian memperbaiki hubungan saya dengan orang tua - keluarga saya. Menyemangati saya untuk kian giat dalam belajar, bukan sebagai robot! Tapi manusia! Pembelajaran-pembelajaran yang akan saya terapkan pada buah hati saya kelak walau tak saya dapatkan dari kedua orang tua saya. Saya tak menyalahkan ketidak tahuan mereka. Justru saya berterima kasih karena selalu mereka menginginkan dan memberikan yang terbaik untuk saya. Buktinya, mereka membuat saya mendapatkan kesempatan menghadiri acara ini. Sebagai seorang perempuan saya menyadari betapa saya perlu belajar banyak hal lagi. Terus belajar tanpa henti sebagai madrasah pertama anak-anak saya kelak. Salah satu alasan apakah mereka kelak bisa lebih baik dari saya atau tidak. Mengikuti saran Pak Munif Chatib untuk menikah muda? Yaa! Sesuatu yang baik memang perlu disegerakan. Tapi saat ini saya masih sendiri. Masih menunggu seseorang yang tepat. Semoga waktu yang tepat untuk mempertemukan saya dengannya dipercepat Tuhan. Hari ini istimewa, Pak Munif Chatib adalah guru sekaligus Ayah saya hari ini. Penghabisan waktu di hari libur yang sangat berharga. Sebagai seseorang yang senang belajar, mengoleksi buku dan ilmu. Saya berharap dapat hadir dalam acara-acara seperti ini lagi. Semoga... Cirebon, 14 Februari 2017













