Berita tentang adanya Covid-19 sudah mulai beredar di mana-mana. Di saluran-saluran TV nasional sudah mulai sering membahas tentang virus yang mulanya muncul di daerah Wuhan, China tersebut.
Bulan Maret awal tahun 2020, menjadi hari terakhirku untuk melihat teman-teman di sekolah sebelum akhirnya diliburkan selama satu tahun lebih. Tentu saja saat itu aku dan teman-teman senang bukan main, karena akhirnya kami bisa beristirahat dari kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun, ternyata libur yang katanya hanya akan berlangsung selama dua minggu tersebut tiba-tiba bertambah menjadi semakin lama —satu tahun lebih lamanya— dan selama libur itupun kami tetap melakukan pembelajaran di rumah secara online —atau orang-orang sering menyebutnya belajar secara daring— karena wabah Covid-19 terus meningkat di Indonesia.
Awal-awal masa pembelajaran secara daring aku merasa biasa saja. Cukup bisa mengatasi masalah pembelajaran yang ada. Namun, setelah beberapa minggu melaksanakan pembelajaran daring seperti ini aku merasa sedikit... errr... sedikit hampa... kesepian, dan juga stres menghadapi banyaknya materi pembelajaran yang diberikan oleh guru. Setelah dipikir-pikir, ternyata pembelajaran di sekolah bersama-sama dan bertemu langsung dengan teman-teman tidaklah buruk juga. Tapi ya sudahlah, keadaan yang memaksa. Mau bagaimana lagi 'kan?
Nah, kawan karena masa pandemi inilah aku bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca-baca buku, selain buku pelajaran tentunya. Sebenarnya, aku memang sudah tertarik dengan buku dan dunia baca-tulis semenjak sekolah dasar —yang entah mulai dari kelas berapa, aku lupa— namun, baru ketika SMA ini —selama pandemi ini terutama— aku bisa lebih leluasa meluangkan waktu untuk hobi membacaku ini.
Selama pandemi ini ada beberapa buku yang aku nikmati dan sekaligus aku ambil valuesnya untuk... yaa sedikit-banyak aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Juga tak sedikit yang kujadikan sebagai inspirasi, motivasi, dan semangat dalam belajar.
Oh iya! Buku-buku terbitan dari Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang aku baca saat pandemi ini antaranya:
1. Tokyo dan Perayaan Kesedihan
Buku karya dari Ruth Priscilia Angelina tersebut sangat cocok dijadikan bacaan saat di rumah saja di masa pandemi seperti ini. Cerita yang mengisahkan tentang Shira Hidajat Nagano yang melarikan diri ke Tokyo untuk menemukan penyelesaian paling terencana dalam hidupnya. Namun, di perjalanan dalam menemukan penyelesaian tersebut Shira dipertemukan dengan Joshua dan membawa mereka dalam sebuah perjalanan yang berharga bagi hidup mereka berdua.
Buku ini mengajarkanku betapa berharganya setiap pertemuan antara manusia satu dengan manusia lainnya. Shira yang keras kepala dan berpegang teguh pada pendiriannya serta Joshua yang mampu memvalidasi keputusasaan Shira. Akan membawa kita ke dalam jawaban-jawaban yang tidak pernah kita kira sebelumnya.
Buku kedua adalah buku karya Ilana Tan —Pengarang Mega Bestseller— yang mengisahkan tentang Tara Dupont yang menyukai Paris dan musim gugur. Dia bertemu dengan Tatsuya Fujisawa yang membenci Paris dan musim gugur. Lalu, perjalanan mereka berdua pun dimulai, tanpa menyadari adanya benang yang menghubungkan mereka berdua dengan kisah masa lalu, yang akan membawa mereka —Tatsuya khususnya— pada sebuah keputusan yang berat.
Di buku yang berkisah tentang Tara dan Tatsuya ini benar-benar membuat perasaanku menjadi campur aduk. Takdir yang tidak mereka sangka ternyata malah membuat salah satunya kehilangan salah satu dari mereka untuk selama-lamanya. Sebuah pengorbanan perasaan agar salah satu dari mereka tetap bisa menjalankan kehidupan yang normal. Sungguh membuat hati teriris. Tapi buku ini benar-benar hebat. Dan plotnya pun juga tidak terduga, sehingga pembacanya akan mendapatkan sensasi yang berbeda ketika membaca buku ini.
Buku selanjutnya adalah You Really Got Me karya dari Dewie Sekar. Buku ini bercerita tentang Trisna yang sudah jatuh hati pada Mas Putra, sepupu temannya semasa kuliah dulu. Trisna jatuh hati pada Mas Putra sejak awal berkenalan. Namun, perasaan Trisna selalu mendua soal lelaki tersebut. Satu sisi Trisna ingin Mas Putra tahu tentang perasaannya, di sisi lain dia juga takut lelaki tersebut tahu. Terlebih lagi Trisna menyadari sebuah pertanyaan yang sangat pelik yang membuatnya semakin takut Mas Putra akan menjauhinya nantinya.
Buku yang sedikit complicated tentang perasaan-perasaan yang dirasakan oleh Trisna. Dan mengajarkan arti penting sebuah keluarga bagi kita. Buatku realized bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan, tidak dapat ditolak ataupun dicegah. Namun, cinta juga yang akan membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Menjadi seseorang yang mampu bertahan dalam situasi apapun. Mengajarkan bahwa cinta terkadang tidak harus saling memiliki. Mengajarkan bahwa cinta adalah sebuah pengorbanan dan keikhlasan.
Buku keempat. Sebuah teenlit, yang mengisahkan tentang kisah cinta segitiga antara Anaya, Dipta, dan Abi. Yang berakhir pada penyesalan Dipta karena tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Anaya. Karya dari Trissella ini mengingatkanku tentang mantan crushku di sekolah yang berakhir tidak jelas karena dia tidak mengatakan apapun tentang perasaannya padaku. Padahal aku sudah berusaha mengungkapkan perasaanku padanya!? Tapi ya sudahlah, jika benar-benar berjodoh dia tidak akan hilang kemana-mana bukan? (Astaga padahal aku masih SMA!). Sepanjang membaca kisah tiga manusia itu, aku merasa ikut andil di dalamnya. Aku merasa kesal dengan Dipta tapi juga merasa kasihan sekaligus. But overall, buku ini cukup recommended bagi teman-teman yang ingin merasakan sensasi cinta segitiga yang sedikit-banyak rumit di antara tiga manusia tersebut.
Empat buku itu bisa dikatakan yang paling related sebagai penghibur dan sekaligus temanku di kala aku merasa stres akan tugas-tugas yang aku dapat dari sekolah, juga penghibur di kala aku mengingat mantan crushku yang aku tidak tau kabarnya bagaimana sekarang ini. Tapi semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja dalam hal apapun itu.
Ah! Sebenarnya masih ada banyak sekali buku, terutama yang merupakan terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang ingin aku tuliskan. Tapi kurasa cukup empat buku itu saja yang mewakili perasaanku. Terutama perasaan sayang dan cinta yang pernah hadir untuk seseorang yang.. yaa.. bisa dibilang berharga dalam hidupku walaupun kehadirannya —lebih tepatnya interaksinya bersamaku— harus berakhir dengan tidak cukup baik.
Aku ingat waktu itu, sekitar pertengahan tahun 2020. Di akhir bulan Juli, kisahku dan dia harus berakhir dengan meninggalkan kenangan yang cukup berharga bagiku. Bahkan selama enam bulan pertama aku rasa hidupku benar-benar berantakan. Dan hatiku tidak tertata rapi. Namun, dalam enam bulan dan setelah enam bulan tersebut dengan buku-buku sebagai temanku, aku merasa lebih baik lagi secara perlahan-lahan. Dan mulai mengikhlaskan berakhirnya hubunganku dan dia. Serta membuatku semakin bersemangat pula dalam meraih mimpi-mimpiku. Agar nantinya aku tidak perlu merasa malu jika bertemu lagi dengannya. Biar dia saja yang menyesal karena telah memutuskan hubungan yang sebenarnya masih abu-abu ini. Dan semoga pula mimpi-mimpiku dapat terwujud dengan baik. Amin.
Di akhir tulisan ini pula, aku memiliki harapan besar suatu saat nanti karyaku dapat diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Menjadi karya yang akan diingat banyak orang, dijadikan inspirasi, motivasi, dan semangat bagi mereka. Seperti aku yang juga mendapatkan inspirasi, motivasi, dan semangat dari buku-buku yang pernah kubaca.