Perjalananan Gila 2023 (part 3)
The Dreamland
Finallyyy Belitong!!
Ternyata buanyak banget yaa yang mau nyebraang dari Bangka ke Belitong. Kebanyakan mereka adalah ASN yang habis dinas pelatihan di Bangka. Bahkan, ku sempat nguping di bandara (wkwk), ada mahasiswa asal Belitong yang bolak-balik Bangka setiap Jumat untuk kuliah di Bangka. Karena setelah kulihat-lihatpun, infrastruktur Bangka lebih maju dan sudah banyak kampus juga disana.
Sebelum terbang, aku dapat info dari rental motor/mobil semalam, kalau tak ada driver yang mau kalau naik motor ke daerah sana. Alhasil, dengan segala pertimbangan, ku sewa mobil dan drivernya. Memang sebetulnya agak gadi-ngadi kalau naik motor ke Belitong Timor, mengingat jalanannya masih banyak hutan apalagi ke daerah Replika Sekolah Laskar Pelangi (RSLP), 45-60 menit sendiri dari bandara.
Di bandara, ada semacam tour guide yang bisa kita tanyakan terkait objek wisata yang ada di sana. Oks, dengan modal SKSD langsung tanya rute perjalanan hari itu. Akhirnya, menemukan ruteku, yakni bandara - RSLP (Manggar) - Museum Kata - Pantai Tanjong Tinggi (tempat syuting Laskar Pelangi) - Homestay. Selanjutnya, bertemu driver. Tak sulit menemukan driverku, ku manggilnya ‘Bang Dika’. Abangnya orang Belitong asli. Tipikal yang kalau ditanya baru jawab, okesip. Karena tau aku travel sendiri, baik juga lho abang ini mau direpotin ambil fotoku selama di objek wisata. wkwk. Makasih, Bang!
Btw karena hanya bawa 1 koper ukuran small dan 1 ransel, jadi paslah tak usah ke homestay dulu. Jadi, aku bawa semua barang di mobil. Perjalanan menuju Manggar kira-kira 1 jam. Di jalan, cuacanya panas-mendung-panas. “Tau rasa ko Hilma kalau maksa naik motor gimana jadinya tadi :/ “, batinku. Tak lupa ku memesan homestay dekat bandara dalam perjalanan ini.
Setelah sampai di RSLP, ku membayar tiket masuk seharga 10.000/orang. Gak nyangka ya Allah, bisa kesini.. secepat ini :’) Bangunan sekolah yang hanya kubisa lihat di layar sekarang aku bisa masuki dan duduk-duduk di dalamnya. Ke ruangan kepsek pak Harfan, ke pohon tempat manjat Mahar, lihat kayu penyangga sekolah, papan sekolah bertulisan SD Muhammadiyah Gantong.. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadzziban..
Lama ku duduk di dalam kelas, hawanya panas, namun banyak semilir angin. Kebetulan hanya aku dan 1-2 pengunjung disana. Jadi, terasa lebih leluasa memerhatikan sekolah dan sekitarnya.
Nun jauh disana, grup chat asramaku agak heboh. Karena awalnya yang tahu aksi gilaku ini ya cuma Khonsa. Tiba-tiba ini anak udah nyebrang ke Belitong! Ada yang request video-call di sekolah, tapi akhirnya nyambungnya ke Khonsa wkw. Kuajak kelilling sekolah dan nostalgia scene film LP..
Setelah puas menghabiskan waktu di sana, aku beranjak ke destinasi berikutnya. Tapi, di sebrang replika, ternyata ada Rumah Keong Belitong. Okelah, gaskeun aja!
Rumah Keong ini semacam tempat wisata yang sedang direnovasi, tapi masih bisa dimasuki dengan membayar tiket 5.000/orang. Duduk-duduk dan mencoba selfie. Seru dan panazzz. Disini aku baru sadar, kalau bareng keluarga atau teman-teman.. pasti akan lebih seru. Lebih tepatnya akan ada yang motoin haha.
Kami lanjutkan perjalanan ke Museum Kata, Museum Literasi Pertama di Indonesia, 15-20 menit dari RSLP. Karena sampai sana pas zuhur, jadi solat dulu di mushola dekat sana. Alhamdulillah, ramai mushola tu. Setelah solat, kumasuk museumnya. Feeling soooo excited semenjak dari luar museum. Catnya warna warni dan banyak bertuliskan kata-kata indah khas Andrea Hirata. Menggambarkan seni yang natural.. tiketnya seharga 50.000/orang, tetapi sudah termasuk guidebook tentang LP.
Aku suka banget dalamnya. Ada foto scene film LP, Sang Pemimpi, dsb. Feels like home. Buku-buku yang berjajar, tv-tv kuno yang disususun, suara drama musical LP, bangku-bangku kayu yang menambah kesan natural, dan lainnya.
Bagian tengah, ada kafe kopi yang saat itu sedang tutup. Kafe kopi tradisional yang masih menggunakan bara api. Di sebrang bangunan utama, ada hall yang banyak bertuliskan kalimat-kalimat dalam karya Andrea.
Bagian belakang, aku juga suka. Ada semacam aula baca buku. Banyak foto scene film, spanduk launching buku baru beliau, dsb. Kalau saja tak diburu waktu melancong dalam sehari, aku mau lebih lama lagi duduk menyimak karya beliau di aula itu.
Selanjutnya, aku melanjutkan perjananan ke pantai. Namun, di tengah jalan, driver menghentikan mobilnya...






