Harusnya kita hidup dalam kebenaran, tanpa pernah merasa bahwa diri kitalah yang paling benar. ~ Harusnya kita hidup menjadi orang yang pintar, tanpa merasa bahwa diri kita yang paling pintar, namun sebaliknya kita menjadi pribadi yg pintar merasa. ~ Harusnya kita hidup dalam kebermanfaatan. Bicara yg baik atau diam. Banyak berhusnuzon pada orang lain atau sibuk bermuhasabah diri. Lebih banyak membantu atau justru tidak mengganggu apalagi menyakiti orang lain. ~ Harusnya kita bijaksana dalam berpikir, tegas dalam bersikap, tapi tetap santun dalam berbuat, juga lembut dlm bertutur kata. ~ Harusnya kita tetap tegar dalam mengarungi badai ujian. Tetap jadikan sabar sebagai sayap kanan. Lalu syukur sebagai sayap kirinya. Biarkan kedua sayap mengepak perlahan membawa hati kita terbang. Jauh. Tapi dekat dengan Rabb-nya. ~ Harusnya kita bahagia. Pada sekecil apapun nikmat yg diberi. Pada seberat apapun masalah yg diuji. Tetap tersenyum, seraya menguatkan hati dan berkata, 'bukankah semua romantika? Layaknya picisan romantis dari Sang Maha cinta. Ah, selalu ada hikmah indah dibalik semuanya.' ~ Harusnya kita sedih, manakala tau ternyata kita mendapati diri seakan tak pernah berbuat dosa. Tak pernah dekat dengan maksiat. Padahal kita lalai mengoreksi diri, karena terlalu sibuk mengurus aib orang lain, hingga merasa diri sebagai ahli surga. ~ Harusnya kita menangis, manakala kita paling tau di tiap waktu diri ini selalu berbuat dosa, tapi nikmat Alloh selalu tercurah tanpa celah. ~ Harusnya kita merenung, karena bisa saja semua nilai ibadah kita cacat, tapi kita lupa berdoa kepada Alloh agar kiranya malaikat sudi mencatat. ~ Harusnya kita banyak melihat ke dalam diri kita, jangan-jangan hati kita selama ini berpenyakit, tapi lupa dibersihkan, lupa diobati. Hingga berkarat. Lupa hakikat. Lebih nyaman mengkritik hati orang lain, daripada sibuk menilai kelemahan pribadi. Dinyana lalai menasihati diri sendiri. ~ Oleh: @wenievasari Follow yuk @muslim_moveon #muslimmoveon #merelakan #bukukece #yukorder #repost

















