Mendekatlah pada Quran, Maka Allah Akan Menolongmu
diterjemahkan dari tulisan Maryam Amirebrahimi: Hook Up with the Quran, Allah Will Hook You Up
Terhijab dari pandangan, seorang perempuan muda menyusuri jalan di kota Kairo, sambil membaca Quran dan berpikir tentang cita-citanya. Dia mencintai Al Quran dan bersemangat untuk mempelajari dan mengajarkannya. Dia ingin pindah ke Arab Saudi, tempat ulama Quran yang ia ingin belajar darinya. Dia sangat terpesona dengan Mekah dan Madinah; dan dia selalu menyempatkan waktu untuk berdoa agar bisa mengunjungi Rumah Tuhannya di bulan Ramadhan, untuk bisa melakukan perjalanan Haji, untuk berjalan di bumi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Menempuh studi Master dan bepergian berjam-jam dalam kemacetan ke rumah murid-muridnya tidak pernah membuatnya mengeluh; dia selalu konsisten mengulang-ulang hafalan Qurannya; dia telah menghafal seluruhnya dari beberapa tahun lalu dan dia terus mengulangnya untuk memastikan Quran tidak pernah meninggalkan hatinya.
Tiba-tiba, seorang wanita asing menghentikannya di jalan. “Permisi”, kata wanita itu, mengintip mata perempuan yang hatinya membara dengan ukiran kalam Allah, yang wajahnya tertutupi dengan niqabnya (penutup wajah), yang tangannya terbungkus sarung tangan dan tubuhnya terlindung oleh pakaian luar yang panjang dan longgar. “Apakah kamu sudah menikah atau bertunangan?” tanya wanita itu. Sambil menatap sang penanya, perempuan muda itu menjawab dengan ragu, curiga, namun penasaran dengan pertanyaan yang diajukan oleh orang lewat yang tak dikenal. Perempuan muda itu memakai gamis panjang, jadi si wanita tidak mungkin bertanya karena melihat perempuan muda itu cantik sekali. Dia mungkin tidak tahu sama sekali bagaimana rupa perempuan muda itu. “Saya punya seorang saudara laki-laki”, wanita itu menjelaskan, “Dia orang Mesir, tapi tinggal di Arab Saudi. Dia telah menghafalkan seluruh Al Quran. Dia memenuhi syarat untuk mengajarkannya. Dia ingin menikah. Apakah kamu mungkin tertarik?”
Setelah percakapan lebih lanjut, perempuan muda itu bertukar informasi dengan wanita asing di jalan. Segera, keluarga mereka menginisiasi kontak dan dalam beberapa minggu, saudara laki-laki wanita itu mengunjungi perempuan muda dan keluarganya. Seiring waktu, doa, dan banyak konsultasi, sang perempuan muda akhirnya setuju; dia akan menikah dengan lelaki muda yang dengannya dia akan tinggal di Arab Saudi, lelaki muda yang membantu mewujudkan rencananya menunaikan ibadah Haji tahun itu, lelaki muda yang sudah menghafal Al Quran dan mendedikasikan hatinya untuk kitab Allah, lelaki muda -yang sekarang jadi suaminya- yang dikenalkan padanya oleh seorang wanita asing di jalan.
Cerita ini mungkin terlihat aneh, berbahaya, langka, dan tidak masuk akal. Jika saya membacanya atau jika orang lain memberitahukannya pada saya, saya akan menanggapinya dengan skeptis dan bahkan khawatir dengan perempuan yang didekati orang asing di jalan. Tapi ini adalah cerita dari guru Quran saya. Saya mengenalnya sebelum beliau menikah dan sejak hari pertama kami bertemu untuk belajar, dia berkata pada saya “Tolong doakan aku! Aku ingin pindah ke Arab Saudi supaya aku bisa belajar dengan ulama Quran di sana!” Ini terjadi setelah dia mendapatkan ijazah (sertifikasi) dalam hafalan Quran dan sedang berjuang untuk sertifikasi lainnya. Kejadian dia bertemu orang asing di jalan terjadi beberapa tahun setelah pertemuan pertama kami, setelah beberapa tahun dia berdoa pada Tuhan untuk membukakan pintu untuknya. Dia menceritakan sendiri kisah ini padaku dan dia sekarang sudah bahagia dalam pernikahannya selama bertahun-tahun, dikaruniai dua orang anak (semoga Allah mencintai keduanya!) dan tinggal di lokasi impiannya.
Dia mencurahkan hidupnya untuk Al Quran dan untuk belajar. Dia fokus pada tujuannya untuk menjadi hamba Allah dan kitabNya dan menjaga fokus itu dalam setiap aspek hidupnya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa dia akan menikah dengan seseorang yang merupakan bagian yang hilang atas segala impiannya, dan terlebih lagi, saya harusnya menyadari bahwa imajinasi kecil saya tidak ada apa-apanya dibandingkan Kekuasaan dan Takdir Tuhan. Tuhan menjodohkan guru Quran saya secara luar biasa dan bisa dengan mudah dikatakan bahwa itu adalah karena dia mendekat dengan Kitab Tuhan.
Terhubung dengan Kitab Allah bisa berarti ditolong dengan cara terbaik dalam setiap aspek kehidupan. Pernikahan, lulus sekolah, belajar ke luar negeri, hubungan dengan orang tua, mendapatkan pekerjaan, lulus SAT dengan nilai tinggi… kau memimpikannya, mengucapkannya, mendambakannya, menginginkannya.. Siapa yang bisa benar-benar memberikannya padamu? Teman Facebookmu? Atau Tuhan dan Penguasa Seluruh Alam?
Allah SWT telah memberitahu kita dalam sebuah hadits, “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”
Dan pahamilah ini -Tuhan mungkin tidak memberimu tepat seperti apa yang kau minta saat kau memohon padaNya dalam doa- tapi karena Dia mencintaimu, Dia selalu memberimu sesuatu yang lebih baik. Nabi shallallahu ‘alai wasallam telah mengajari kita, “Tidaklah seorang muslim yang berdoa, dan doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan: (1) Allah kabulkan doanya, (2) Allah hindarkan dirinya dari musibah yang senilai dengan isi doanya, dan (3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuknya di akhirat”. Para sahabat berkata, “Kami akan meminta lebih banyak”. Ia menjawab, “Allah itu lebih (murah hati)”. (HR Ahmad)
Mungkin pernikahan tidak terlalu baik untukmu, mungkin pekerjaan tertentu itu tidak akan menjadi segala yang kau impikan, tapi ketika kita terhubung dengan Allah, apapun hasilnya, kita bisa yakin bahwa Dia akan selalu memberi apapun yang pasti akan membuat kita bahagia selamanya, jika kita ikhlas dan bertekad untuk mengusahakannya juga.
Jadi, bagaimana kita memulai hubungan ini? Bagaimana kita bisa menjadi bagian dari mereka yang melakukan yang terbaik dalam ibadah wajib kemudian berlari menuju Tuhan kita melalui ibadah sunnah, sebagaimana yang Dia katakan dalam hadits yang telah disebutkan di atas?
Mari ambil contoh dari guru Quran saya-mari mendekat pada Al Quran! Mari berniat menjadi ahlul Quran! Mari mulai dengan keyakinan sepenuhnya bahwa kita ingin membangun hubungan dengan Kalam Allah dan kita ingin ia punya peran penting dalam hidup kita. Setelah kita membuat komitmen itu, inilah beberapa rencana aksi yang dapat dilakukan:
Jika kita bersekolah, bekerja, berkeluarga atau punya kewajiban-kewajiban yang membuat kita kehabisan waktu, mari membuat komitmen untuk mulai dengan membaca Quran setiap hari dan dalam bahasa yang kita pahami karena intinya adalah untuk memahaminya dan membuat hubungan yang sangat kuat dengannya.
Jika kita sudah bisa membaca Arabnya namun tidak mengerti kenapa kita membacanya: mulai dengan menetapkan sejumlah ayat Quran yang akan kita baca setiap hari dalam bahasa Arabnya dan juga terjemahannya. Contohnya, jika saya tahu bahwa saya sangat sibuk atau sangat malas, saya akan berkomitmen untuk memulai hanya dengan 5 ayat sehari, dalam bahasa Inggris dan Arab (jika memungkinkan) dan saya akan memastikan bahwa saya tidak akan tidur sebelum membaca target Quran saya pada hari itu. Saran: untuk mereka yang tidak bisa lepas dari laptop dan selalu menyesali lebih banyak waktu yang terbuang dibanding yang diharapkan, buatlah sticky note untuk ditempel di suatu bagian di laptopmu yang bunyinya seperti, “Sudahkah kamu terhubung dengan Kitab Allah hari ini?”
Jika kamu bisa berkomitmen mulai sekarang untuk menghafal Al Quran, mulailah cari guru yang dapat membantumu dalam tajwid (membaca Al Quran dengan benar) dan jika kau sudah siap, mulai menghafal. Jika kau tidak bisa menemukan guru di daerahmu, temukan teman Quran di dekatmu yang bisa membantumu membaca dan belajar dasar-dasarnya sampai kau menemukan seseorang yang bisa mengajarmu. Jika kau tinggal di tengah Kentucky dan tidak ada orang sama sekali di sekitarmu, carilah program online yang mengajarkan tajwid, yang bisa kau jalani melalui Skype atau sarana lain dari rumahmu sendiri (contohnya Studio Arabiya). Untuk pembaca: tolong tuliskan program online yang kau rekomendasikan di bagian komentar. Tetapkan target untuk dirimu sendiri, tuliskan dan berusaha tingkatkan setiap minggunya. Sehingga, dalam sebulan, alih-alih tidak pernah membuka Quran, insya Allah kau mungkin telah bisa menghafalkan satu juz baru!
Jika kau belum bisa membaca bahasa Arab, teruskan membaca terjemahan dan jika kau bisa, cobalah untuk mulai belajar bahasa Al Quran. Ada banyak program online untuk ini. Bagaimanapun, jangan biarkan bahasa mengehentikanmu dari berusaha mendekat dengan Quran. Baca terjamahannya dalam bahasa apapun yang paling memudahkanmu, dan seiring berjalannya waktu, insya Allah kau akan terkejut dengan banyaknya perspektif pribadimu berubah sesuai narasi Al Quran.
Terakhir, jika sewaktu-waktu kau merasa apatis, merasa dirimu tergelincir, menyadari hatimu merasa bosan dengan usaha untuk mendekat dengan Quran, ubahlah pola pikirmu. Berdirilah, ucapkanlah basmalah dan mintalah perlindungan Allah dari setan yang terkutuk, loncatlah dan teriakkan dengan bersemangat dan dengan senyum lebar di wajahmu, “AL QURAN ADALAH SAHABATKU!!!” Mungkin itu belum sepenuhnya benar, tapi insya Allah dengan meyakinkan otakmu dan menggerakkan badanmu dengan gembira, respon fisikmu terhadap Quran, ditambah dengan interaksi harian barumu dengan Kitab Allah, akan membantu neuronmu membuat koneksi positif yang akan segera mereka butuhkan melebihi paru-parumu membutuhkan udara.
Mari jadikan Al Quran sahabat kita. Ketika kita sedih, kesepian, depresi, dan frustasi, katakanlah, “Aku perlu mencurahkannya pada Kitab Allah”, kemudian bacalah, kita terhubung dengan Kalam Allah, kita akan terpesona dengan betapa sangat relevannya KitabNya dengan cobaan yang kita alami. Ketika kita merasa gembira, katakanlah, “Aku tak sabar untuk menceritakan ini pada sahabatku!!!” kemudian larilah pada Quran, bersemangat (atau pura-puralah bersemangat-berpura-puralah sampai kau bisa meyakinkanmu untuk itu, insya Allah) untuk membaca kata-kata apa yang akan Allah buat nyata untuk kita selanjutnya; kaget pada kenyataan bahwa meskipun kita sudah membaca surat yang sama ratusan kali, kita tidak ingat pernah membaca kata-kata yang begitu dinamis itu sebelumnya.
Dan jika kita terlalu sibuk, mari sadari bagaimana bersemangatnya kita jika ada orang terkenal yang kita anggap hebat kemudian menelepon kita; bukankah kita akan menyempatkan diri bicara dengannya, bukankah adrenalin kita tiba-tiba bergejolak ketika kita melihat siapa sebenarnya yang menghubungi kita?
Maka kemudian, mari bergegas dengan semangat yang sama untuk meninggalkan hal lain dan menyempatkan diri untuk Yang Paling Penting- Rabbal ‘alamiin, Tuhan Semesta Allah, dan untuk memiliki hubungan yang kuat dengan kata-kata yang Dia turunkan untuk membawa kita dari kegelapan hidup menuju satu cahaya dan untuk membantu kita menjadi jalan perubahan dalam masyarakat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita, “Ahlul Quran adalah ahlullah dan orang-orang pilihannya” (HR An Nasa'i). Mari menjadi orang-orang pilihan Allah-mereka yang berusaha membaca Al Quran siang dan malam, berusaha untuk menghafal, memahami, mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai sahabat.
Apapun yang sedang kita cari, baik di dunia ini maupun di akhirat, mari mendekat pada Kitab Allah dan milikilah keyakinan dengan keikhlaskan dalam usaha kita itu, Allah akan menolong kita dengan cara apapun yang terbaik.