Sampul Buku Tulis
Suatu hari hujan turun dengan derasnya. Sambil mengerjakan PR sekolah ditemani gorengan pisang yang masih panas ala ibuku di ruang tamu.
Aku lupa tepatnya kenapa bukumu bisa terbawa olehku. Yang aku ingat saat itu, sampul buku tulismu yang warna coklat muda itu compang camping dan tak karuan. Pojokan bukumu pun sama tak rapinya. Menggulung sana sini.
Tanpa pikir panjang, aku merapikan pojokan buku itu. Meluruskan satu per satu halaman yang menggulung, menekan nekan, membalik gulungan sampai rapi kembali. Lalu mengambil lem kertas dari tempat pensil dan menggunakannya untuk menempelkan sampul ke langsung ke cover bukunya. Huh, sudah tidak bisa diselamatkan lagi kalo hanya merapikan sampul atau merekatkan lipatan pojok pojok sampul itu kembali ke belakang cover, pikirku.
Setelah selesai, aku memandangi buku itu dengan mata berbinar. Bagus juga hasil kerjaku. Buku yang tadinya lusuh dengan sampul yang kena angin pun akan lepan, kini rapi bagai baru.
Akankah besok sang empunya buku akan menyadari perbedaannya? Ku pikir sekalipun dia menyadari buku ini paling rapi diantara bukunya yang lain, dia tak akan peduli. Begitu kah? Tak ingin banyak berharap. Paling tidak, dengan ini, aku menyelamatkan sebuah buku dari makin rusaknya dia. Sehingga manfaatnya bisa lebih panjang.














