Aku ingat hari itu minggu, 15 Februari 2009. Kami pulang dari lomba salah satu SMA di kota kami. Harusnya perjalanan dari SMP sampai rumah aku bisa menggunakan angkot, seperti biasa. Tapi aku ingin mencoba menebeng temanku yang saat itu bawa sepeda kayuh. Dan dia mengijinkan. Yay!
Dibonceng hanya menggunakan sepeda kayuh, memang bukan hal yang luar biasa. Tapi beda cerita kalau yang memboncengmu adalah orang yang kamu kagumi. Orang yang kamu inginkan untuk bisa lebih dekat dengannya. Dan saat aku bisa sedekat ini dengannya, senang sekali rasanyaa
Kami melewati jembatan kayu yang saat itu digunakan untuk menyeberang sungai besar samping sekolah. Selama perjalanan, aku terus memandangi punggungnya, tanpa berani pegangan. Bukan punggung lebar dan indah. Hanya punggung anak SMP biasa, yang kecil namun tidak terlalu kurus, tapi istimewa hehe. Aku mencoba menikmati waktu itu yang kemungkinan akan jarang atau tidak lagi bisa kunikmati.
Dia tidak terlalu banyak bicara, tapi masih menanggapi ajakanku untuk ngobrol sesekali. Tidak terlalu lama sampai akhirnya kami sampai di pasar, tempat aku bilang ingin diturunkan di mana. Karena ini juga persimpangan jalan tempat kami berpisah. Dia akan melanjutkan perjalanan pulang ke selatan, sedangkan aku ke timur. Aku akan melanjutkan dengan naik angkot sampai rumah.
Setelah turun dari boncengannya dan saling berpamitan, dia perlahan mengayuh sepedanya menjauh. Sambil masih saja kupandangi punggung itu dari belakang sampai mengecil dan hilang di belokan. Saat itu, sambil tersenyum, aku menyadari satu hal. Bahwa sejak detik itu juga, aku tidak lagi hanya mengaguminya. Tapi sudah jatuh hati padanya:)
Aku tidak tahu ini hanya cinta monyet anak SMP, euforia karena dibonceng pulang, atau perasaan sesaat yang sebentar lagi hilang. Tapi aku ingin menikmati perasaan senang itu, benar-benar ingin terus memikirkan dan mengisi hari-hariku dengannya.