Ruang di Sudut Pikiran (12)
Halo? Lama tidak mampir ke RDSP dan menuliskan perasaanku, mungkin karena itu kepalaku jadi lebih berisik akhir-akhir ini.
Aku kembali dengan bahasan sesuatu yang berkaitan dengan salah satu track album D-Day (Trilogi AgustD), yaitu: AMYGDALA.
Um, aku cuma mau bercerita experience mendengarkan lagu AMYGDALA dan menyampaikan apa yang aku tangkap dari salah satu masterpiece dari seorang Min Yoongi ini.
Lagu ini mungkin jadi salah satu comfort song bagi banyak ARMY, kemungkinan juga menjadi salah satu lagu yang mungkin dihindari karena memancing semua hal kurang mengenakan dari masa lalu.
Aku pribadi menjadikan lagu AMYGDALA sebagai comfort song yang bisa membuat aku merasa kalau aku gak sendirian mengalami hal sulit di muka bumi.
Sulit sekali mendapatkan teman bercerita ketika usia kita semakin dewasa. Seakan kesepian akan menjadi teman setia di usia 20 tahun ke atas. Banyak hal baik dan buruk yang aku lewati di masa lalu, tetapi memori buruk bersemayam lebih lekat dibandingkan memori-memori baik.
Amigdala merupakan salah satu bagian dari sistem limbik yang berbentuk seperti kacang almond, yang berada di sebelah hippocampus dan memiliki fungsi utama mengatur respons emosional, seperti perasaan bahagia, takut, marah, dan cemas. Selain itu, Amigdala juga berperan mengaitkan emosional dengan ingatan—menentukan seberapa kuat ingatan itu untuk disimpan. [Pusat Jurnal Ilmiah UMA, (Sistem Limbik yang Berperan Penting dalam Fungsi Otak), https://pji.uma.ac.id/index.php/2021/12/16/sistem-limbik-yang-berperan-penting-dalam-fungsi-otak/, (diakses: 29 Mei 2023 pukul 23:10 WIB)]
Dalam lagunya, Yoongi (Aka SUGA BTS, aka AGUSTD) menceritakan berbagai rentetan memori buruknya di masa lalu. Bagaimana ia merasakan cemas dan ketakukan, lalu mencoba melawannya hingga ia bisa bertahan sampai saat ini.
Musik menyampaikan pesan tersirat, dan aku menangkap bahwa Yoongi ingin orang-orang yang mendengarkan AMYGDALA menyadari bahwa mereka tidak sendirian di dunia ini, bahwa mereka hebat karena dapat bertahan sejauh ini dari segala rasa sakit pada masa lalu.
Aku biasa mendengarkan lagu AMYGDALA ketika di malam hari aku merasa kesulitan untuk tertidur. Waktu tersebut cukup pas untuk aku memulai sesi berbincang dengan diriku sendiri, meluapkan segala perasaan sedih dan ketakutan yang tak pernah bisa aku ungkapkan pada siapapun.
Sambil melakukan butterfly hug, terkadang aku tidak sadar kalau aku sudah menangis tanpa suara hanya beberapa detik dari setelah aku mendengarkan lagu AMYGDALA.
Aku terlalu tidak percaya pada orang-orang yang kutemui, setiap hari ada kekhawatiran mengenai apakah aku bisa percaya dengan orang ini? Ataukah tidak? Dan lagu AMYGDALA seolah hadir menjadi teman berbincangku bersama diriku sendiri di malam hari.
Aku bisa melakukan pengeratan hubungan dengan diriku sendiri, memahami 'anak kecil' dalam diriku yang mungkin masih belum menerima segala luka masa lalu, juga bersyukur—sebab aku bertahan, sebab aku mampu mengendalikan segala ketakutanku dan berdiri kokoh hingga saat ini.
Kadang aku berpikir, apakah aku bisa menghilangkan segala rasa sakit hatiku? Segala memori buruk yang tertanam di otakku, apakah aku bisa menghapusnya? Tetapi, akhirnya aku mencoba memahami bahwa satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah mencoba untuk berdamai dengan masa lalu.
Memang sulit sekali, buktinya aku masih sering menangis jika mengingatnya. Masih sering menyalahi beberapa keadaan yang tidak bisa diubah, dan menjadi khawatir tak berujung. Tetapi, kita juga tidak bisa selamanya tenggelam di dalamnya.
Ada banyak hal yang dapat menjadi alasan mengapa kita harus bertahan lebih lama lagi. Di mulai dari hal sekecil ingin menikmati berbagai macam jajanan kaki lima, ingin berkeliling tempat wisata, melukis, melihat matahari terbit dan terbenam, dll.
Seberat apapun memori buruk masa kecil menghantui, sesakit apapun luka masa kecil yang tertoreh, kita harus tetap memiliki welas asih pada diri kita sendiri, menghargai hadirnya diri sendiri, dan menyadari bahwa kehidupan kita sangat berarti.
Hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi di masa lalu, hal-hal yang berada di luar kendali kita, tidak pernah kita minta dan diharapkan terjadi. Tetapi pilihan terbaik adalah bertahan.
Karena suatu saat kita akan menemukan rasa haru, sebab kita tidak memilih untuk menyudahi kehidupan, sebelum waktunya selesai.
-gds_monoton.












