Ruang di Sudut Pikiran (9)
•• Aku dan Trik Sulap Hebat Di Sebuah Buku ••
Bagaimana aku harus mengendalikan setiap perasaanku? Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup jika aku terlalu takut dengan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi di kemudian hari? Tidak ada satupun yang tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan didapatkan. Tidak ada satupun selain Tuhan.
Aku pergi ke toko buku untuk pertama kalinya setelah pandemi di awal Juli kemarin. Pada akhirnya aku melihat rak-rak buku berjajar dengan buku-buku yang terbungkus plastik bening, juga beberapa buku yang sudah terbuka sebagai display dan harumnya begitu menenangkan hati serta pikiran.
Aku menghitung berapa buah buku yang aku habiskan sejak awal tahun, dan ternyata aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk membaca buku fiksi awal tahun ini. Jadi aku berpikir untuk melihat bagian non-fiksi dan mengambil beberapa buku yang menarik perhatianku.
Dari rumah aku sudah mematri dalam pikiranku perihal buku apa yang akan kubeli dan buku apa yang akan kusempatkan baca di sana sebentar—nyatanya semua hanya rencana.
Aku tidak menemukan buku yang sudah lama berdiri di daftar teratas keinginanku. Pegawai toko buku berkata kalau bukunya sudah habis stok, jadi aku berkeliling untuk mencari buku lainnya dengan instingku.
Kalian harus tahu, aku tidak pernah menyesal membeli buku hanya dengan mempercayai instingku.
Aku berhasil membawa dua buah buku, dan salah satunya adalah Into the Magic Shop.
Kembali ke pertanyaan yang sering sekali muncul di pikiranku yang sudah aku tuliskan di awal tulisan ini, tentang Bagaimana aku harus mengendalikan setiap perasaanku? Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup jika aku terlalu takut dengan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi di kemudian hari?
Pada buku yang kubaca, aku mendapatkan trik-trik yang cukup berarti bagiku. Aku terharu, bahkan aku berterima kasih pada salah satu grup idolaku yang membuatku mengenal buku Into the Magic Shop.
1. Bagaimana aku harus mengendalikan setiap perasaanku?
Aku mendapatkan empat trik yang entah mengapa sebenarnya sangat sederhana, tetapi tidak pernah terbayang pada pikiranku sebelumnya.
Pertama, agar aku bisa menyikapi perasaan yang muncul tanpa bisa aku cegah seperti panik, khawatir, ketakutan, dan lain-lain adalah dengan melemaskan tubuh—napas dan relaksasi adalah langkah awal untuk dapat menaklukan pikiran. (Itu yang tertulis dalam buku Into the Magic Shop pada trik pertama yang Ruth berikan kepada Jim).
Aku pernah tidak sih, menulis kalau perasaan yang muncul selalu berhubungan dengan bagaimana cara kita berpikir? Sepertinya belum, jadi aku tuliskan sekarang.
Aku bukan ahli yang mengerti perihal fungsi tubuh yang memengaruhi mental manusia sepenuhnya, tetapi menurutku masuk logika jika pikiran kita mempengaruhi perasaan apa saja yang akan muncul dan menguasai tubuh kita. Bagaimana menurut kalian?
Jadi, mari kita lanjut ke trik kedua yang sudah aku coba untuk terapkan dan juga cukup bisa memberikan efek menenangkan. Yaitu, menjinakkan pikiran.
Seperti yang sudah kutulis di atas, jika kita bisa mengendalikan dan menjinakkan pikiran, maka akan sangat berpengaruh terhadap perasaan yang akan muncul dan kita rasakan.
Ngomong-ngomong soal menjinakkan pikiran, aku pernah mendapat satu teknik pernapasan untuk bisa membuat kondisi diri lebih tenang dari salah satu teman bicaraku dari forum ARMY Help Center.
Namanya adalah teknik pernapasan 478. Aku harus menarik napas selama 4 detik, kemudian aku tahan selama 7 detik, dan kubuang perlahan selama 8 detik. Kuulang teknik tersebut sampai aku merasa pikiranku mulai tenang dan kembali menghasilkan pemikiran yang jernih.
Kalian juga bisa menggunakannya, meski tidak semua langsung berhasil saat itu juga.
2. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup jika aku terlalu takut dengan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi di kemudian hari?
Masih berasal dari buku yang sama—tepatnya pada trik ke-3, tertulis kalimat membuka hati. Ada sekitar belasan cara atau tahapan dalam latihan membuka hati pada buku itu (kalian bisa membacanya sendiri agar lebih jelas pada buku Into the Magic Shop).
Aku terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Sering mengkhawatirkan hal-hal kecil yang aku tidak ketahui jawaban jelasnya atau hubungan sebab–akibatnya. Itu melelahkan, jadi agar semua itu tidak terjadi, maka aku harus menghilangkan rasa takut dan khawatir berlebihan, kan?
Tetapi hal itu tidak mungkin. Aku manusia, dan rasa takut juga khawatir itu lumrah adanya. Aku memutuskan untuk menerapkan trik Ruth kepada Jim—membuka hati.
Di akhir trik tertulis; "Hati yang terbuka terhubung baik dengan orang lain, dan itu mengubah segalanya."
Pendapatku, jika aku bisa lebih membuka hatiku, aku akan lebih mudah menerima masukan membangun dari orang-orang sekitarku. Di sini, aku perlu bekerja sama dengan otakku untuk mengendalikan juga rasa overthinkingku untuk memilih mana yang perlu kudengar dan mana yang harus kubuang dan kulupakan. Kalian mengerti maksudku? :')
Dengan aku lebih membuka hati, aku bisa lebih lapang menyikapi segala sesuatu yang muncul di hidupku—masalah kecil misalnya, juga penilaian orang-orang kepadaku. Dan aku yakin, lambat laun rasa takutku dan khawatirku pada sesuatu yang belum tentu terjadi akan berkurang dan tidak lagi mengganggu atau menjadi penghambat untukku.
Kemudian trik terakhir yang menurutku cukup cocok dengan pertanyaan keduaku tadi. Yaitu, menetapkan niat.
Aku terbiasa sejak kecil menyusun apa-apa saja yang akan aku lakukan di hari-hari selanjutnya. Kapan aku harus membagi waktu untuk menyelesaikan PR-ku, pukul berapa aku harus makan malam dan lanjut belajar sebelum tidur, apa saja yang harus aku siapkan sebelum ujian berlangsung, dll.
Sama seperti menyusun masa depan. Aku berkali-kali menulis rencana di selembar kertas A4 dan menyimpannya di balik binder sajak tulisanku agar tidak menghilang dan sewaktu-waktu dapat aku buka kembali.
Aku juga selalu memperhatikan apa-apa saja yang aku sukai, dan aku akan berusaha mengembanginya menjadi lebih baik lagi semampuku. Agar aku tidak menyesal dan mengetahui diriku sebaik mungkin.
Seperti saat pertama kali aku menyukai buku fiksi, aku mulai menuliskan niat kalau aku harus membaca buku minimal satu dalam sebulan. Berlanjut saat aku mulai gemar menulis, aku menuliskan niat kalau aku harus menciptakan minimal satu cerpen setiap sebulan sekali.
Lalu aku yang mulai tertarik belajar bahasa asing selain bahasa Inggris, kemudian saat aku memahami kalau parenting itu sangat penting dan berniat mempelajarinya sejak usia belasan. Aku menyusul segalanya dengan apik.
Aku yang ingin menjadi seorang penulis, aku yang ingin menjadi seorang guru dan memiliki yayasan Taman Kanak-Kanak sendiri, aku yang ingin nonton konser BTS minimal sekali seumur hidup, aku yang ingin pergi ke pulau Jeju, dan lain sebagainya.
Mungkin itu semua baru sebuah rencana. Aku dahulu sering sekali ketakutan dengan apa yang sudah aku rencanakan. Aku takut menemui kesulitan, aku takut gagal.
Tetapi ketakutanku justru terjadi dan seperti yang kemarin-kemarin aku tuliskan, aku sering kali merasa sulit dan lelah hanya karena ujian-ujian kecil yang Tuhan berikan kepadaku. Padahal itu bisa jadi sebagai batu loncatan dan sebagai sebuah pemanasan apakah aku siap menjadi orang sukses, atau tidak.
Aku gak mau seperti itu lagi, jadi aku mulai menerapkan trik Ruth pada Jim yang ke-4 perihal menetapkan niat. Tertulis di dalam buku Into the Magic Shop sebuah kalimat; "Dengan niat yang jelas, bayangan itu akan menjadi kenyataan."
Aku meyakinkan diri dengan segala yang aku impikan, kemudian aku berusaha yang terbaik. Di saat aku lelah, aku beristirahat, tetapi di saat aku ingin menyerah, aku kembali mengingatkan diriku sendiri terhadap segala niat dan rencana yang sudah kutulis sebelumnya.
Aku tidak lagi mau memikirkan hal-hal kecil berhari-hari, tidak mau lagi berpikiran buruk dan tenggelam dalam ketakutanku sendiri. Aku hanya perlu memantapkan niatku, berusaha sebaik mungkin yang aku mampu, berdoa, dan memasrahkan hasilnya pada Tuhan.
Kurasa setelah aku membaca dan menerapkan apa saja trik sederhana di dalam buku yang kubaca, aku bisa lebih merasa tenang dan lebih bisa menikmati segala proses juga lika-liku dalam kehidupanku.
Ah iya, sahabatku juga menyarankan diriku untuk lebih memperbanyak dzikir dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhanku agar hati jauh lebih tenang dan jarang diselimuti perasaan-perasaan yang buruk.
Begitulah buku berisi trik sulap bermanfaat yang aku baca dan sedikit bisa mengubah cara pandangku dalam menghadapi hal-hal dalam hidup.
(Tidak berniat mempromosikan, aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan setelah membaca buku tersebut).