Tiga Cangkir Lalu Giliranmu
Ada baiknya jika kita membicarakan hal ini di warung kopi pinggir jalan itu, karena setelah menghirup dan merasa kopinya yang hitam pekat, kurasa kau baru akan paham apa yang akan aku sampaikan.
Hei, apa kau ingat saat kemarin aku suruh kau menengadah, memandang langit? Iya, kita memandang langit yang sama, bulan yang satu, dan matahari yang panasnya menghitamkan kulit kau dan aku. Makin tampak lokal saja kita ini. Kau tahu, saat menengadah pun kita berpijak di atas negeri yang sama. Tetapi apakah pandanganku terhadap negeri ini sapa seperti pandanganmu? Apakah pandanganmu sama seperti pandangan pria bertato yang duduk di pojokan itu?
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini manusianya dianggap terbelakang oleh mereka di belahan benua lain hanya karena berpakaian sesuai adat masing-masing.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini memelihara tikus-tikus koruptor yang lebih kotor daripada tikus got dan makanan kesukaannya adalah uang rakyat.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini sistem birokrasinya bertele-tele, sehingga orang yang sekarat bisa mati karena menunggu.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini tertinggal dari negara-negara di sekitarnya, yang padahal dulu berguru padanya.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini masih dendam pada masa lalunya, sehingga anak sendiri di negeri orang pun tak dibolehkan pulang.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini membalikan badan dari para veteran pejuang yang dahulu bersedia pasang badan tanpa pikir dua kali meski satu peluru sudah di dada.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini adalah negeri teroris yang siap menyalakan bom seperti menyalakan petasan tahun baru, lalu kemudian motif aslinya ditutupi dengan isu SARA.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini tidak mengayomi ujung-ujung tombak perbatasan negaranya dimana mereka yang harus pertama kali siaga jika diancam negara seberang.
Ada yang bilang negeri yang tanahnya kuinjak ini pemerintahnya membiarkan anak-anak kecil menyebrang sungai dengan jembatan ala kadarnya demi ilmu seperti menyerahkan nyawanya pada Tuhan.
Ada yang bilang, iya memang terlalu banyak berkata orang-orang di negeri ini, tapi sudahkah mereka bertindak atas nama perubahan yang selama ini mereka teriakkan di telinga para petinggi negara?
Soe Hok Gie adalah seorang Tionghoa, tapi darah yang mengalir di jiwanya itu menurutku darah Indonesia. Rela dia dika-katai padahal ia hanya ingin menyampaikan kebusukan pemerintahan yang tak pernah berani dihadapi oleh elit-elit politik. Cerdasnya dia mengirimkan gincu agar para pemerintah malu; jadi kalau tidak bisa mengatur negara, lebih baik mereka berdandan saja. Mungkin pikirnya begitu. Bahkan ketika ia harus meninggalkan nama tepat sehari sebelum ulang tahunnya, ia menghabiskan waktunya di sini, di tanah air yang alamnya selalu ia kagumi dalam hati.
Kurasa kau sudah mulai menyerapnya, maka tak ada salahnya kita pesan cangkir kedua, karena aku ingin apa yang aku sampaikan padamu selanjutnya mengendap di kepalamu seperti ampas kopimu itu.
Dibalik semua kekurangan itu, adakah yang sadar bahwa musik keroncongnya tak kalah enak dengan musik k-pop dari negeri ginseng? Rakyatnya pun memperingati perjuangan Raden Ajeng-nya karena beliau telah membuktikan bahwa kaum adam dan kaum bisa sederajat sehingga tidak perlu lagi ada wanita yang wani ditata, tetapi perempuan yang bisa terus berkarya. Belum selesai kita membicarakan wanitanya dengan warna kulit mereka yang kecoklatan sehingga digilai para bule, kau dan aku sama-sama bisa melihat para pelancong yang rajin berkunjung demi menikmati keeksotisan alamnya sama seperti eksotisnya keharuman pala, ketumbar, cengkih, dan bumbu masak lainnya yang rela dicari ribuan mil oleh para penjajah namun bisa kita temukan dengan mudah di sudut dapur milik istri kita. Belum lagi pantainya yang sebening kaca, yang birunya sebiru langit, membuat kita kesulitan mencari garis tipis yang memisahkan keduanya.
Aku bisa menceritakan negeri ini terus-menerus kepadamu, sampai habis empat cangkir kopi hitam pun bagiku tak masalah, tetapi berpuluh-puluh tahun aku hidup di Indonesia, aku hanya tau kulit luarnya saja, setipis kulit jeruk medan yang menjadi buah kesukaan ibuku.
Jika aku mati dan hidup lagi kemudian disuruh memilih, maka aku akan tetap memilih untuk lahir di negeri ini; dengan tanahnya yang kaya sampai para perlente-perlente itu rela jauh-jauh kemari untuk menancapkan palu di atasnya dan mengklaim tanah serta mineralnya itu menjadi miliknya, dengan tanahnya yang warna coklat legam selegam kulit pekerja yang membangun lalu mati demi Anyer-Panarukan, dengan tanahnya yang merah berdarah akibat tumpahan semangat revolusi dari mereka yang berdemo atas nama rakyat. Ternyata Koes Plus benar, apa yang kita tanam akan tumbuh subur, meski hanya tongkat kayu yang mungkin dulu kita pakai sebagai pedang melawan tetangga sebelah rumah dalam permainan sederhana, permainan yang tak familiar di telinga anak-anak jaman modern ini.
Nah, aku temukan lagi alasan untuk menambah satu cangkir lagi. Masih ingat kau film Nagabonar? Dedi Mizwar yang main. Sekarang sudah ada yang kedua ternyata! Aku diajak nonton sama anakku. Ada adegan yang membuat nadiku seperti diiris, kawan. Adegannya seperti ini: Nagabonar Senior berteriak pada patung Jendral Sudirman yang ditengah-tengah jalan itu, memberi hormat pada mereka yang sibuk berlalu-lalang di tengah jalan. Dia bilang, untuk apa Jendral Sudirman memberi hormat pada orang seperti kita? Hal itu membuatku berpikir kawan, sebegitu menyedihkannya kah kita dan jaman kita ini di mata seorang veteran perang seperti beliau?
Aku ingin kau seperti para investor yang melihat negeri ini layaknya gundukan-gundukan berlian berbentuk pulau, yang menunggu untuk digali lalu dibentuk potensi-potensinya. Aku ingin semangatmu pembaharuanmu seperti negeri ini yang cincin apinya meletup-letup di kepulauan-kepulauannya.
Satu batang lidi belum tentu bisa bertahan membersihkan halaman rumah yang kotor, tapi jika batang lidi itu disatukan dengan batangan lidi yang lain lalu diikat dengan kuat, membersihkan apapun, menjadi lebih mudah.
Aku yakin kau tau negeri yang kubicarakan itu namanya apa, namun bukan itu yang ingin kutanyakan. Pertanyaanku adalah, apakah kita akan membicarakannya terus sambil lanjut memesan cangkir kopi keempat atau kau mau keluar dari warung kopi ini lalu berkomitmen membuat perubahan dimulai dari dirimu sendiri?