Bukan untuk Satu atau Dua, tapi untuk Indonesia.
Tulisan ini untuk mereka yang percaya bahwa Indonesia lebih dari sekedar negara kepulauan yang merdeka 68 tahun yang lalu.
Lebih dari sekedar angka 1 atau 2.
Tulisan ini untuk anda yang percaya bahwa Indonesia sedang dalam krisis perubahan, untuk anda yang percaya bahwa kita harus bertindak.
Kita mengaku sebagai Warga Negara Indonesia, tapi kita tidak punya andil untuk membuat negara ini agar menjadi lebih maju, lalu sekedar memberikan jari telunjuk sendiri pada pemerintah sambil memaki-maki.
Ada sebuah potongan pembicaraan yang membuat saya terkagum-kagum. Potongan pembicaraan ini adalah adegan pertama dalam serial televisi berjudul The Newsroom.
Saya tidak meminta anda untuk paham dan mengikuti serial televisi tersebut. Saya hanya meminta anda untuk melungangkan waktu sejenak dan membaca kutipan di bawah ini:
Jennifer Johnson: Can you say why America is the greatest country in the world?
Will McAvoy: [Looks at Jennifer Johnson] And, yeah, you... sorority girl. Just in case you accidentally wander into a voting booth one day, there are some things you should know. One of them is: There is absolutely no evidence to support the statement that we're the greatest country in the world. We're 7th in literacy, 27th in math, 22nd in science, 49th in life expectancy, 178th in infant mortality, 3rd in median household income, number 4 in labor force and number 4 in exports. We lead the world in only three categories: number of incarcerated citizens per capita, number of adults who believe angels are real and defense spending - where we spend more than the next 26 countries combined, 25 of whom are allies. Now, none of this is the fault of a 20-year-old college student, but you, nonetheless, are without a doubt a member of the worst period generation period ever period, so when you ask what makes us the greatest country in the world, I don't know what the FUCK you're talking about!... Yosemite?
Will McAvoy: ... It sure used to be. We stood up for what was right. We fought for moral reasons. We passed laws, struck down laws - for moral reasons. We waged wars on poverty, not on poor people. We sacrificed, we cared about our neighbors, we put our money where our mouths were and we never beat our chest. We built great, big things, made ungodly technological advanced, explored the universe, cured diseases and we cultivated the world's greatest artists AND the world's greatest economy. We reached for the stars, acted like men. We aspired to intelligence, we didn't belittle it. It didn't make us feel inferior. We didn't identify ourselves by who we voted for in the last election and we didn't scare so easy. We were able to be all these things and do all these things because we were informed... by great men, men who were revered. First step in solving any problem is recognizing there is one. America is not the greatest country in the world anymore.
Ini adalah link video bagi anda yang ingin melihat secara utuh:
Bagi anda yang sudah melihat video di atas, saya yakin bahwa anda mulai memahami. Kita memang tidak bisa menyamakan Indonesia dengan Amerika. Amerika sudah jauh lebih dulu merdeka dibandingkan dengan Indonesia.
Bagi saya pribadi Indonesia sebenarnya "merdeka" dua kali.
Pertama, tanggal 17 Agustus 1945.
Kedua saat reformasi terjadi tahun 1998. Saya tidak tahu banyak soal sejarah. Lahir di tahun 90-an, saya masih kecil dan tidak tahu bahwa pada saat yang sama banyak orang ditembak, dilucuti, diperkosa, dan dibakar sebagai sebuah harga mahal yang harus dibayar untuk sebuah turning point yang dinamakan reformasi itu.
Saya tidak tahu apa alasan rasional anda untuk memilih nomor 1 atau nomor 2 atau bahkan tidak memilih, tapi ini yang saya tahu: Saya punya kesempatan memilih dan saya akan menggunakannya sebaik mungkin, karena saya percaya bahwa Indonesia suatu saat nanti benar-benar bisa jadi bangsa yang besar, bukan sekedar "Indonesia adalah bangsa yang besar" seperti dalam teks pidato.
Kita sedang di saat-saat kritis untuk menuju ke sana. Saat inilah Indonesia diuji, apakah Indonesia akan kembali ke masa-masa sebelum 16 tahun lalu atau justru belajar dari 16 tahun lalu dan berubah menjadi lebih baik?
Saya percaya bahwa memilih presiden dan wakilnya lebih dari sekedar menilai visi-misi, gaya berbicara, dan perkataan mereka. Memilih presiden haruslah menilai ke depan juga.
Seberapa yakin kita bahwa orang yang kita pilih tidak hanya sekedar hitam di atas putih?
Seberapa yakin kita bahwa orang yang kita pilih nantinya sanggup memerintah negara ini dengan rakyatnya sebagai tonggaknya?
Seberapa yakin kita bahwa orang yang kita pilih akan tetap membiarkan kita untuk bebas berpendapat?
Anda adalah salah satu diantara 252.741.898 juta manusia lainnya yang memiliki kemampuan untuk menentukan nasib negeri ini. Pertanyaannya adalah:
Apakah anda yakin dengan pilihan anda?
Apakah anda yakin pilihan anda dapat membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik?
Apakah anda berdiri di pihak yang benar?
Atau apakah keputusan anda yang nantinya membawa Indonesia pada masa lalunya yang kelam?
Semuanya ada di tangan anda.
Semoga anda tidak salah memilih dan menyesal nantinya.