DIALOG NABI IBRAHIM A.S. MEMBUNGKAM MULUT RAJA NAMRUD YANG TAKABUR
Kisah Nabi Ibrahim a.s. &
Sebenarnya menurut urutan waktu, setelah kaum Nabi Nuh a.s. adalah kaum ‘Ad atau kaum Nabi Shalih a.s. dan kaum Nabi Hud a.s. namun dalam Surah Ash-Shāffāt kisah atau sejarah kenabian yang selanjutnya dikemukakan Allah Swt. adalah kaum Nabi Ibrahim a.s., tentu dalam hal ini ada hikmah tersendiri.
Ciri khas Nabi Ibrahim a.s. dalam berdakwah kepada kaumnya beliau a.s. menggunakan cara-cara “sindiran” (menyindir) – Allah Swt. menyebut “cara khas” Nabi Ibrahim a.s. “rusydahū – petunjuknya (QS.21:52) -- misalnya mengenai kesia-siaan menyembah patung-patung berhala kaumnya atau mengenai kemusyrikan (QS.21:52-74), firman-Nya:
وَ اِنَّ مِنۡ شِیۡعَتِہٖ لَاِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۘ﴾ اِذۡ جَآءَ رَبَّہٗ بِقَلۡبٍ سَلِیۡمٍ ﴿﴾ اِذۡ قَالَ لِاَبِیۡہِ وَ قَوۡمِہٖ مَاذَا تَعۡبُدُوۡنَ ﴿ۚ﴾ اَئِفۡکًا اٰلِہَۃً دُوۡنَ اللّٰہِ تُرِیۡدُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَمَا ظَنُّکُمۡ بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ فَنَظَرَ نَظۡرَۃً فِی النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾ فَقَالَ اِنِّیۡ سَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya. Ketika ia datang menghadap Tuhan-nya dengan hati yang suci. Ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: “Apa yang kamu sembah? Apakah kamu menghendaki kebohongan sembahan-sembahan selain Allah? Maka bagaimanakah pendapat kamu mengenai Rabb (Tuhan) seluruh alam?” Kemudian ia mengarahkan pandangan ke bintang-bintang, lalu berkata: “Sesungguhnya aku merasa sakit.” (Ash-Shāffāt [37]:84-90).
Dalam ayat tersebut bahwa Nabi Ibrahim a.s. termasuk ke dalam golongan atau keturunan Nabi Nuh a.s., terutama sekali dari segi ruhani karena keduanya adalah Rasul Allah pada zamannya masing-masing. Manusia cenderung menyembah tuhan-tuhan palsu dalam wujud:
(1) manusia-manusia yang kepada mereka dinisbahkan kekuatan-kekuatan ketuhanan,
2) mempertuhankan benda-benda alam seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, atau (3) benda-benda tidak berjiwa, seperti berhala-berhala pahatan dari kayu dan batu,
(6) purbasangka-purbasangka dan ketakhayulan-ketakhayulannya sendiri yang sudah lama bercokol,
(7) keinginan-keinginannya,
(8) nafsu-nafsunya dan sebagainya.
Kata mā (apa) pada kalimat “Apa yang kamu sembah?” bukan sekedar menanyakan sesuatu yang ingin Nabi Ibrahim a.s. ketahui, melainkan merupakan “sindiran” yang maknanya “kemampuan-kemampuan apa yang dimiliki oleh sembahan-sembahan kalian itu?” atau “apa kemampuan yang dimiliki sembahan-sembahan kalian itu?”
Demikian pulakalimat “Kemudian ia mengarahkan pandangan ke bintang-bintang, lalu berkata: “Sesungguhnya aku merasa sakit” agaknya perbantahan antara Nabi Ibrahim a.s. dan kaumnya mengenai sifat-sifat Ilahi itu berlarut-larut sampai jauh malam, dan setelah melihat bahwa percakapan itu tidak ada manfaatnya, maka Nabi Ibrahim a.s. berniat mempersingkatnya. Oleh karena itu beliau melayangkan pandangan ke bintang-bintang, yang dengan perbuatan itu memberi isyarat (sugesti) bahwa pembicaraan telah berlarut-larut sampai jauh malam dan lebih baik diakhiri.
Mengingat akan kesia-siaan percakapan itu, Nabi Ibrahim a.s. memberitahukan kepada kaumnya bahwa sebaiknya mereka meninggalkan beliau seorang diri, karena beliau merasa tidak enak badan. Atau, kata-kata inni saqīm dapat berarti “Aku sakit melihat kamu menyembah berhala-berhala” atau “Aku benci akan persembahan kamu kepada tuhan-tuhan palsu itu” itulah makna ucapan beliau, “Sesungguhnya aku merasa sakit.”
Dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan Azar
Perbincangan Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya mengenai kesia-siaan kaumnya menyembah benda-benda langit tersebut dikemukakan dalam firman-Nya berikut:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہِیۡمُ لِاَبِیۡہِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصۡنَامًا اٰلِہَۃً ۚ اِنِّیۡۤ اَرٰىکَ وَ قَوۡمَکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُرِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ مَلَکُوۡتَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لِیَکُوۡنَ مِنَ الۡمُوۡقِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: “Apakah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai sembahan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata.” Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan seluruh langit dan bumi dan supaya ia menjadi di antara orang-orang yang berkeyakinan. (Al-An’ām [6]:75-76).
Dalam Kitab Wasiat Lama nama ayah Nabi Ibrahim a.s. disebut Terah (Kejadian 11:26) dan di dalam Wasiat Baru (Lukas 3:34) disebut Tarah. Nama dalam Talmud hampir sesuai dengan yang tercantum dalam Lukas. Eusebius, bapak sejarah gereja gereja, menyebut Athar sebagai nama ayah Nabi Ibrahim a.s.. (Sale). Ini menunjukkan bahwa di antara orang-orang Yahudi pun tidak ada kesepakatan pendapat mengenai nama ayah Nabi Ibrahim a.s.. Eusebius niscaya mempunyai alasan yang kuat untuk mempunyai pendapat yang bertentangan dengan Kitab Kejadian dan Lukas.
Bentuk yang benar nampaknya Athar yang kemudian berubah menjadi Tarah atau Terah. Athar mempunyai persamaan yang erat dengan nama yang diberikan dalam Al-Quran (Azar), hanya ada perbedaan kecil dalam lafal, kedua bentuk itu hampir sama. Oleh karena itu para penulis Kristen tidak punya alasan untuk menentang Al-Quran karena menyebut ayah Nabi Ibrahim a.s. dengan nama Azar itu. Lebih-lebih, ayah Nabi Ibrahim a.s. disebut juga Zarah dalam Talmud (Sale), dan Zarah kira-kira sama dengan Azar.
Hal itu menunjukkan bahwa pendapat Al-Quran sangat lebih dapat dipercaya. Di samping itu, Azar telah disebut Ab Nabi Ibrahim a.s. (QS.26:87), sebuah kata yang dipergunakan untuk bapak, paman, uwa, kakek, dan sebagainya. Dalam QS.2:133 Nabi Isma’il a.s., uwa Nabi Ya’qub a.s., telah disebut Ab-nya.
Akan tetapi dari Al-Quran nampak bahwa Azar sungguhpun disebut Ab Nabi Ibrahim a.s., sebenarnya bukan ayah kandung beliau. Nabi Ibrahim a.s. telah membuat janji kepada Azar, Ab-nya, untuk berdoa kepada Allah Swt. agar mengampuninya, tetapi tatkala beliau mengetahui bahwa ia musuh Allah, beliau tidak mau mendoa baginya, bahkan beliau telah benar-benar dilarang berbuat demikian (QS.9:114).
Akan tetapi dalam QS.14:42 Nabi Ibrahim a.s. berdoa untuk walid beliau, kata itu digunakan hanya untuk ayah. Ini menunjukkan bahwa Azar yang telah disebut ab Nabi Ibrahim a.s. orang itu lain dari walid (ayah kandung) beliau. Sangat mungkin ia paman Nabi Ibrahim a.s. atau ayah mertua beliau a.s..
Beberapa ayat dari Bible juga mendukung kesimpulan itu. Nabi Ibrahim a.s. menikahi Sarah, anak Terah (Kejadian 20:12) yang menunjukkan bahwa Terah bukan ayah beliau, sebab beliau tidak dapat menikahi saudara perempuannya sendiri. Rupa-rupanya karena ayah (walid) Nabi Ibrahim a.s. sudah wafat, Nabi Ibrahim a.s. dibesarkan oleh paman beliau, Azar atau Athar, yang memberikan putrinya, Sarah, kepada beliau untuk dipersunting.
Dialog Nabi Ibrahim a.s. dan Raja Namrud
Karena Azar mengurus Nabi Ibrahim a.s. dan berlaku terhadap beliau seperti seorang ayah, beliau rupanya disebut anak, dan ini membawa kepada kekeliruan, yaitu Azar atau Athar disangka sebagai ayah kandung Ibrahim a.s.. Nampak pula dari Talmud bahwa Azar memperkarakan Nabi Ibrahim as. dan membawa ke hadapan raja (Namrud – QS.2:259) untuk perkara pelanggaran memecah-mecah berhala-berhala.
Seandainya Azar benar-benar ayah Nabi Ibrahim a.s. niscaya ia tidak akan meng-ambil langkah yang begitu keras terhadap putranya sendiri, sampai membiarkan beliau dilemparkan ke dalam kobaran api (QS.21:52-74). Berikut dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan Raja Namrud yang membuat raja takabur tersebut selanjutnya bungkam, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡ حَآجَّ اِبۡرٰہٖمَ فِیۡ رَبِّہٖۤ اَنۡ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ ۘ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّیَ الَّذِیۡ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۙ قَالَ اَنَا اُحۡیٖ وَ اُمِیۡتُ ؕ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ فَاِنَّ اللّٰہَ یَاۡتِیۡ بِالشَّمۡسِ مِنَ الۡمَشۡرِقِ فَاۡتِ بِہَا مِنَ الۡمَغۡرِبِ فَبُہِتَ الَّذِیۡ کَفَرَ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Apakah engkau tidak memperhatikan orang yang membantah Ibrahim mengenai Tuhan-nya karena Allah telah memberi kerajaan kepadanya? Ketika Ibrahim berkata: ”Tuhan-ku-lah Yang menghidupkan dan mematikan.” Ia yakni Namrud menjawab: “Aku pun berkuasa menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat!” Lalu terdiam kebingungan orang yang kafir itu, dan Allāh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Baqarah [2]:259).
Nabi Ibrahim a.s. itu seorang pemberantas-berhala besar. Kaumnya menyembah matahari dan bintang-bintang, dewa utama mereka ialah Madruk yang asalnya dewa pagi dan matahari musim semi (Encyclopaedia Biblica dan Encyclopaedia Religions & Ethics II. 296).
Mereka percaya bahwa semua kehidupan bergantung pada matahari. Nabi Ibrahim a.s. dengan bijaksana meminta orang musyrik itu, seandainya ia mengaku dapat mengatur hidup dan mati, agar mengubah jalan tempuhan matahari yang padanya bergantung segala kehidupan itu.
Orang kafir itu pun kebingungan. Ia tidak dapat mengatakan tak dapat menerima tantangan Nabi Ibrahim a.s. untuk menyuruh matahari beredar dari barat ke timur; sebab, hal demikian akan membatalkan pengakuannya sendiri sebagai pengatur hidup dan mati, dan bila ia mengatakan dapat berbuat demikian maka itu berarti ia menguasai matahari tetapi niscaya merupakan suatu penghinaan besar pada pandangan kaumnya, penyembah matahari. Dengan demikian ia (raja Namrud) sama sekali menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya.
Melakukan Tindak Kekerasan
Sudah menjadi karakter umumnya orang-orang yang kalah dalam berdebat, mereka akan melakukan tindak kekerasan -- termasuk di Akhir Zaman ini -- demikian juga halnya dengan raja Namrud ketika dibuat bungkam oleh dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim a.s. di hadapan orang banyak ketika melakukan “penghakiman” terhadap Nabi Ibrahim a.s. untuk mempermalukan Nabi Ibrahim a.s.:
قَالُوۡا حَرِّقُوۡہُ وَ انۡصُرُوۡۤا اٰلِہَتَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ فٰعِلِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡنَا یٰنَارُ کُوۡنِیۡ بَرۡدًا وَّ سَلٰمًا عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۙ﴾ وَ اَرَادُوۡا بِہٖ کَیۡدًا فَجَعَلۡنٰہُمُ الۡاَخۡسَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu mau melakukan sesuatu!” Kami berfirman: “Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan atas Ibrahim!” Dan mereka bermaksud akan melakukan tipu-daya terhadap dia, tetapi Kami jadikan mereka orang-orang yang paling merugi. (Al-Anbiyā [21]:69). Lihat pula QS.29:24-25 dan QS.37:98-99.
Bagaimana caranya api itu menjadi dingin kepada kita tidak diterangkan. Boleh jadi hujan yang turun tepat pada waktu itu atau angin badai telah memadamkan api itu. Bagaimana pun Allah Swt. memang menimbulkan keadaan yang membawa kepada lolosnya Nabi Ibrahim a.s. dari bahaya.
Dalam mukjizat-mukjizat Ilahi selamanya terdapat unsur gaib, dan cara Ibrahim a.s. diselamatkan dari api itu sungguh merupakan mukjizat besar. Bahwa Nabi Ibrahim a.s. telah dilemparkan ke dalam api diakui bukan saja orang-orang Yahudi, tetapi oleh orang-orang Kristen juga dari Timur, buktinya ialah bahwa tanggal 25 bulan Kanun ke-II atau Januari dikhususkan dalam penanggalan bangsa Siria untuk memperingati peristiwa tersebut (Hyde, De Rel. Vet Pers. p. 73). Lihat pula Mdr. Rabbah on Gen. Per. 17; Schalacheleth Hakabala, 2; Maimon de Idol, Ch. I; dan Jad Hachazakah Vet, 6).
Dengan demikian benarlah bahwa kepiawaian Nabi Ibrahim a.s. membungkam mulut orang-orang musyrik tersebut karena Allah Swt. telah berfirman: “Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan seluruh langit dan bumi dan supaya ia menjadi di antara orang-orang yang berkeyakinan”, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہِیۡمُ لِاَبِیۡہِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصۡنَامًا اٰلِہَۃً ۚ اِنِّیۡۤ اَرٰىکَ وَ قَوۡمَکَ فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُرِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ مَلَکُوۡتَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لِیَکُوۡنَ مِنَ الۡمُوۡقِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: “Apakah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai sembahan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata.” Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kerajaan seluruh langit dan bumi dan supaya ia menjadi di antara orang-orang yang berkeyakinan. (Al-An’ām [6]:75-76).