Sejak mulai bermain catur, aku punya gaya pandang baru dalam membaca realitas, salah satunya saat meng-capture dinamika Nabi Ibrahim. Untuk pengetahuan umum, di catur tuh ada yang disebut taktik dan strategi.
Strategy is the long-term, high-level plan designed to achieve a specific, overarching goal (the "what" and "why"), while tactics are the concrete, short-term actions and steps taken to execute that plan (the "how"). Strategy focuses on direction and positioning, whereas tactics focus on day-to-day execution and immediate wins.
Dari yang aku berhasil capture, Nabi Ibrahim tampaknya adalah pribadi yang strategis, end-to-end (hulu ke hilir), dan idealism-oriented. Sejalan kan ya, dengan perannya membangun sebuah pondasi dan kerangka peradaban yang terarah.
Untuk perbandingan, Nabi Musa mengalami dinamika yang berbeda. Pendekatan beliau lebih taktikal, task based, dan present-oriented, kelihatan dari cara beliau merespons perintah-perintah Allah secara real-time di situasi yang dinamis dan penuh pressure. Perbedaan ini juga bisa kita lihat kok dari doa-doa mereka.
Disclaimer: Aku menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang "strategis" dan Musa sebagai sosok yang "taktikal" bukan berarti meniadakan dimensi lain dari keduanya ya. Ibrahim tentu aja punya ketajaman taktis dalam bertindak, sebagaimana Musa juga punya kerangka strategi dalam misinya. Klasifikasi ini semata-mata pendekatan analitis untuk menyorot kecenderungan dominan dalam kisah masing-masing, supaya kontrasnya lebih terlihat dan mudah dipahami.
Nah tadinya kupikir ujian terberat seorang strategis adalah jika harus menghadapi worst scenario. Namun aku salah gengs wkwkwk.
Soalnya sebagai orang yang cukup relate secara kognitif dengan Ibrahim, menurutku ketakutan akan worst scenario itu bisa direduksi dengan memperbaiki pertimbangan dan pengambilan keputusan, melakukan persiapan, atau merencanakan alternatif. Mirip-mirip di catur lah, takut melakukan blunder/bad moves atau takut moves-nya lawan ternyata brilliant/good bisa diatasi dengan deep calculation. Dan aku yakin, Ibrahim adalah seorang deep calculator yang bisa handle worst scenario yang datang dari luar.
"Sacrifice the queen!" mungkin itulah perintah Allah pada Ibrahim, dalam metafora catur.
Di catur, queen sacrifice baru bisa disebut brilliant/best/good moves kalau bisa ngasih keuntungan yang lebih besar daripada nilai queen itu sendiri. Biasanya ada 4 kondisi, entah itu menuju skakmat lawan, menang materi, menang posisi, atau seenggaknya itu satu-satunya langkah yang menyelamatkan posisi. Pemain catur profesional manapun nggak akan mau melakukan queen sacrifice tanpa kalkulasi 4 kondisi tadi. Yang ada malah blunder entar.
Ibrahim 2x mengalami ini. Pertama, saat meninggalkan Hajar dan Ismail ke lembah Bakkah (Mekkah sekarang). Kedua, saat diperintah menyembelih Ismail.
Back to Ibrahim as strategist, dengan beliau menikahi Hajar pun artinya Hajar sudah menjadi his most important piece (Sarah dan Luth juga sih btw). Ketambahan lagi dengan lahirnya Ismail, di catur mah ini bisa diibaratin jadi pion promosi. Jadi kebayang yah betapa Ibrahim hampir all-in seluruh grand design-nya ke situ.
Sekarang di peristiwa pertama, Allah suruh Ibrahim sacrifice his queen, and also his promoting pawn. Jujurly, menurutku ini tuh nggak masuk akal dalam kalkulasi Ibrahim.
Bentar tiba-tiba nangis wkwkwk. Kenapa ya mendalami cerita ini tuh selalu menggetarkan akal budi, kek setiap movement-nya tuh obvious. Aku yakin Ibrahim nangis waktu itu, mungkin di momen after ninggalinnya. Ekstrem banget situasinya, baik secara kognitif maupun emosional.
Secara kognitif, "jika Ismail adalah awal penggenapan janji, bagaimana mungkin jalurnya justru diarahkan ke tempat yang tampak tidak menopang kehidupan? Bagaimana aku bisa menilai movement ini relevan ketika bidak-bidak andalanku justru dipisahkan dari pusat permainan?"
Secara emosional, "Ya Allah tempat ini tidak ramah kehidupan. Aku tidak melihat sebab yang cukup untuk menjaga mereka. Bagaimana aku bisa memastikan keselamatan orang yang aku sayangi, ketika aku tahu bahkan variabel-variabel di lembah ini mostly mengarahkan mereka pada kematian?"
Nah aku ingat salah satu komentar coach caturku waktu aku masih awal-awal main. Kata beliau, "aku lihat-lihat game Giza, pelajaran hari ini adalah jangan takut korbanin." Yah namanya juga pemain amatir wkwkwk masih sayang sama semua pionku. Di bayanganku, Ibrahim saat itu, diperjalankan Allah dari fase "gimana caranya mempertahankan semua pionku?" menuju fase, "kalau Sang Pemilik papan meminta pengorbanan ini, berarti ada jalur kemenangan yang belum saya lihat."
Maka beliau percayakan kalkulasi ini kepada Allah. Ditinjau dari doa beliau di QS 2 : 126 dan QS 14 : 35-38 mah sih, beliau masih bisa bayangin, "oh mungkin ada kompensasi posisi" alias masih ada harapan di situ. Walaupun dipikir-pikir secara duniawi lembah itu nggak menguntungkan, Ibrahim masih belum kehilangan orientasi strategisnya.
Di sini posisinya Ismail had already been promoted to a queen. Blueprint peradaban semakin jelas dan lengkap, dari opening, midgame, sampai endgame. Udah kebayang gitu si idealisme tersebut kek apa dan gimana mencapainya.
Dan untuk kedua kalinya, Allah perintahkan lagi, "sacrifice the queen!"
Dua peristiwa itu mirip bentuknya, tapi menurutku beda kedalaman ujiannya.
Masalahnya, di catur, pengorbanan menteri itu hampir pasti dilakukan oleh pemain yang udah kebayang step selanjutnya bakal apa. Atau minimal ada feeling, "ini bakal worth it".
Sedangkan Ibrahim saat itu disuruh korban menteri (lagi), sambil harus tetap punya cita-cita untuk menang, sambil nggak tau gimana merekonstruksi rencana yang variabel utamanya tiba-tiba nggak ada. Gap antara realitas - idealitas yang sebelumnya udah dikalkulasi, malah disuruh dikosongin. Terputus aja gitu. Gimana coba fill the blank-nya? Apa nggak blunder?
Rupanya ujian terberat seorang strategis adalah saat diminta untuk menghapus rencana terbaik yang dia udah invest banyak di situ, tanpa tau alasannya.
Oke lah, di perintah pengorbanan yang pertama, blank-nya belum total kosong. Masih ada harapan/ekspektasi. Masih diam-diam bergantung ke hasil akhirnya.
Sedangkan di perintah pengorbanan yang kedua, Ibrahim literally nggak dikasih akses ke langkah berikutnya. Buat orang yang strategis dan terbiasa kalkulasi langkah, nggak dikasih variabel untuk deep calculating lagi tuh menyebalkan. Lalu dengan apa kita dapat mendebat keputusan itu ketika kita bahkan nggak bisa pretelin proses decision making-nya Allah? Di titik itu, Ibrahim bener-bener dipaksa melepas kebutuhan untuk memahami mekanisme kemenangan tersebut.
Ini penting karena langkah-langkah yang sebelumnya diperintahkan Allah dan dilakukan Ibrahim seolah sedang mengonstruksi masa depan melalui Ismail. Kalau Ismail mati sebelum punya keturunan, apalagi matinya di tangan Ibrahim sendiri, jadinya kontradiktif kan? Soalnya perintah penyembelihan itu sama aja dong kayak membongkar bangunan yang sedang disusun-Nya sendiri. Kalau Ibrahim nggak sopan, mungkin bakal mikir, "Allah mah aneh." Tapi kan enggak gitu ya?
Jadi situasinya, ada 2 identitas Ibrahim yang diuji di sini. Masing-masing identitas diuji melalui logika internalnya sendiri sampai batas ekstrem.
Pertama, identitas sebagai nabi, yang bahkan diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, nabi yang harus menaati perintah Allah ini adalah nabi yang sama yang harus bercita-cita tinggi. Lantas bagaimana ketika ketaatan itu tampak mengancam kesinambungan proyek kenabian yang sedang beliau bangun?
Kedua, identitas sebagai ayah, yang juga diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, ayah yang pengen anaknya selamat dengan menaati perintah Allah, adalah ayah yang sama juga yang pengen sang anak tetap hidup, atau setidaknya nggak mati di tangannya sendiri.
Bayangin pergolakan kognitif-emosional-spiritual Ibrahim di rentang waktu mimpi pertama, kedua, dan ketiga. Like.. peristiwa itu sebagai "mimpi" aja pun rasanya nggak mau deh keulang.
Terus Ibrahim ngapain? Ya udah, tetap laksanakan perintah sambil percaya bahwa janji Allah tetap benar (bahwa akan ada kelanjutan, peradaban, dsb.) dan cara terjadinya janji itu sepenuhnya bukan urusan dia.
Menariknya, nggak ada doa dengan pengharapan spesifik saat melaksanakan perintah menyembelih Ismail.
Kan waktu ninggalin Hajar dan Ismail di Bakkah, kita masih mendengar doa-doa yang spesifik ya, kayak minta keamanan, minta rezeki, minta hati manusia condong kepada mereka, dan minta dijauhkan dari penyembahan berhala. Artinya di sana Ibrahim masih mengartikulasikan harapan supaya Allah menjaga mereka dengan cara ini, ini, dan ini.
Tapi di kisah penyembelihan, Qur’an nggak mencantumkan monolog emosional kayak gitu. Ibrahim nggak lagi meminta skenario alternatif, nggak lagi menyebut outcome yang diharapkan, maupun mencoba merumuskan bentuk penyelamatan. Beliau bahkan nggak tahu lagi harus meminta bagaimana. Zero expectation. Beliau bener-bener berlepas diri dari ketergantungan terhadap makna yang dibangun dari objek itu. Penyerahan total. That's so crazy, man! 🤯
(aduh kenapa yah agak familiar dengan perasaan ini, dengan scalability yang lebih kecil sih wkwk that's why kayaknya aku bisa menulis ini dengan cukup baik.. karena bisa eskalasi konteksku kalo ditarik ke scope konteks Ibrahim yang lebih megah dan luhur)
Dan justru malah Ismail yang berdoa, "mudah-mudahan kau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Ah, betapa indahnya kalimat itu. Bayangin betapa nangis bangganya Ibrahim. Bangga pada Hajar yang telah mendidiknya dengan sangat baik hingga Ismail punya rasa hormat sedalam itu kepada ayahnya dan kepada Allah. Bangga pada Ismail bahwa risalah itu benar-benar sudah hidup di dalam diri anak ini.
TAPI JUGA JADI MAKIN SEDIH DAN NYESEK. Kek.. serius nih Ya Allah.. anak sesholeh ini, anak se-"udah jadi" ini justru harus dieliminasi dari rencana semegah itu, (apalahh aku nangis lagi), dan kalau ngedidik anak baru yang lain pun belum tentu nyampe kualitasnya segini, apalagi usia Ibrahim semakin tua juga (dan ingat ya, belum ada Ishaq juga saat itu).
Qur'an merangkum dinamika ini melalui dua pernyataan Ibrahim yang sangat mirip. Di surat Al-An'am : 78 (إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ) dan di surat Az-Zukhruf : 26 (إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ). Tapi kedua ayat itu pakai mufrodat yang berbeda untuk frasa "berlepas diri".
Ust. Nouman Ali Khan bilang, barii’ (بَرِىٓء) adalah kata sifat. Seseorang yang 'tidak terkait' disebut barii’ (بَرِىٓء). Sedangkan kata yang digunakan dalam Surat Az-Zukhruf adalah baraa' (بَرَآء). Dan baraa' (بَرَآء) dalam bahasa Arab bukan 'seseorang yang tidak terkait', tetapi gagasan 'ketidakterkaitan' itu sendiri. Levelnya udah berbeda. Mudahnya, di film Cars, alih-alih mengatakan, "I am really fast," Lightning McQueen justru mengatakan, "I am the speed itself."
Dalam satu kasus, Ibrahim berkata, "aku tidak terkait dengan itu". Di kesempatan lain, dia berkata, "aku adalah konsep 'ketidakterkaitan'/detachment/disassosiation itu sendiri." Nah kalau lihat timeline, barii' vs baraa' ini adalah before vs after beliau menjadi nabi.
Jadi setelah kenabian, seakan dirinya menjadi manifestasi dari "berlepas diri" itu sendiri. Maka, sejak itulah hidup Ibrahim sendiri dibentuk menjadi proses pelepasan terus-menerus. Cocok ya, dengan benang merah kisah beliau dalam Qur’an, mulai dari syirik (udah jelas lah ya harus berlepas diri dari itu mah), ayahnya, kaumnya, negerinya, istrinya, anaknya, kontrol atas rencananya, bahkan logika dan perasaannya sendiri. Setiap ujiannya adalah pendalaman makna baraa’ itu sendiri.
Di kemudian hari kita mengenal istilah al-wala wal-bara. Pada Ibrahim, dua-duanya berjalan beriringan. Semakin dalam bara'-nya, semakin total pula wala'-nya. Artinya kita nggak akan bisa berserah total untuk sesuatu, kalau kita belum bisa berlepas total dari sesuatu yang lain. Pantesan aja beliau disebut khalilullah karena hatinya telah dikosongkan dari tandingan-tandingan loyalitas itu.
Grandmaster Ginger di chess(dot)com mengatakan,
"A queen sacrifice means we have to bravely give up our most important piece in order to create some magic on the board."
Queen sacrifice sebagai brilliant move memang sangat sulit ditemukan. Wajar aja kalau di momen penyembelihan, Ibrahim pun nggak nemu kalkulasi sejauh itu dengan variabel-variabel yang juga masih se-hidden itu.
Namun magic on the board itu datang kemudian. Ismail diganti dengan sembelihan lain, Ishaq lahir, Ka'bah pun dibangun. Dan rangkaian al-wala' wal-bara' satu keluarga itu akhirnya diabadikan dalam satu rukun Islam yakni ibadah haji.
Siapa sangka, ribuan tahun kemudian, jutaan manusia masih berlari kecil mengikuti jejak Hajar, masih menyembelih hewan kurban untuk mengenang kepatuhan Ibrahim dan Ismail, dan masih menghadap Ka'bah yang berdiri di lembah yang dulunya tak bisa ditaruh ekspektasi apa-apa. Satu keluarga ini pun selalu disebut oleh milyaran manusia dalam sholat.
Masih sangat banyak yang bisa diperas dari cerita ini. Belum kubahas bagaimana perspektif Hajar dan Ismail sebagai subjek sekaligus objek ujian. Belum pula kubahas Ismail dan Ishaq sebagai dua operator dengan spesifikasi berbeda yang menjalani misi spesifik berbeda pula. Tapi ini dulu aja. Kekeliruan datangnya dari Giza, kesempurnaan dan kemegahan datangnya dari Allah.
— Giza, overwhelmed banget sama kemegahan kisah-kisah ini, gokil juga udah lama nggak processing sesuatu sekenceng ini. Thanks to seseorang yang menginspirasinya bermain catur. Also thanks to Hikaru Nakamura, streamer catur yang menyenangkan untuk ditonton.