MALANGTODAY.NET – Pemilihan Wali Kota atau Pilwali Kota Malang tahun 2018 sudah di depan mata. Tiga pasangan bakal calon (bacalon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang pun sudah mendaftarkan diri ke Kantor Pemilihan Umum atau KPU Kota Malang pada Rabu (10/1). Namun dibandingkan dengan pemilihan lima tahun sebelumnya, tepatnya di tahun 2013, memang ada beragam perbedaan. Mulai dari jumlah pasangan bakal calon sampai dengan sederet drama yang dialami oleh beberapa partai politik. Berikut sederet perbedaan nuansa Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada Kota Malang tahun 2013 dan 2018 yang dirangkum MalangTODAY.net! 1. Jumlah pasangan calon Berbeda dengan Pilkada sebelumnya, Pilkada Kota Malang tahun ini hanya diramaikan oleh tiga pasangan bacalon saja. Sampai dengan batas akhir pendaftaran di KPU, total ada tiga bacalon yang mengikuti serangkaian proses pendaftaran sampai dengan hari ini. Ke tiga bacalon tersebut adalah pasangan Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko, M. Anton dan Syamsul Mahmud, serta pasangan Yaqud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi. Setelah mendaftarkan diri pada Rabu (10/1), ke tiganya pun mengikuti serangkaian tes. Diantaranya tes psikologis yang dilakukan pada Kamis (11/1) dan tes kesehatan yang dilakukan pada Jumat (12/1) hari ini. Sementara dalam Pilkada tahun 2013, total ada enam kandidat sebagai pasangan bacalon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang. [caption id="attachment_154490" align="aligncenter" width="1068"] Tiga pasangan calon Pilwali Kota Malang 2018 @ MalangTODAY.net[/caption] Ke enamnya adalah pasangan Dwi Cahyono dan Muhammad Nuruddin, serta pasangan Ahmad Mujais dan Yunar Mulya. Dua pasangan tersebut maju secara independen. Sementara di tahun ini, tak ada satu pun pasangan yang maju secara independen. Pasangan selanjutnya adalah Sri Rahayu dan Priyatmoko Oetomo yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kemudian pasangan Heri Pudji Utami dan Sofyan Edy Jarwoko yang diusung Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai RepublikaN dan 14 partai lainnya. Berikutnya adalah pasangan Agus Dono dan Arif HS yang didukung Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hanura, Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Terakhir adalah pasangan Moch. Anton dan Sutiaji yang diusung Partai Kebagkitan Bangsa (PKB) dan Partai Gerindra. Pasangan terakhir ini merupakan pemenang dan menjabat sebagai pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang sejak tahun 2013. 2. Kemunculan Figur Lama dan Baru Dari tiga kandidat yang telah mendaftarkan diri ke KPU, mereka memang bukan merupakan tokoh yang asing lagi. Namun, beberapa merupakan figur lama yang juga sudah mengikuti pertarungan lima tahun sebelumnya. Total, ada tiga nama yang sudah bertarung pada Pilkada 2013 dan kini kembali maju. Ke tiganya adalah M. Anton, Sutiaji, dan Sofyan Edi Jarwoko. Seperti kita ketahui, Anton dan Sutiaji lima tahun lalu merupakan pasangan yang berhasil memenangkan pesta demokrasi di tahun 2013. Tahun ini, ke duanya akan kembali dipertemukan. Namun bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai rival untuk memperebutkan kursi Wali Kota Malang. Sedangkan Sofyan Edi Jarwoko sendiri, sebelumnya digandeng oleh politisi cantik sekaligus isteri dari Wali Kota Malang periode 2003 sampai 2013, Heri Pudji Utami dalam Pilwali 2013. Saat ini, politisi Golkar itu dipilih untuk mendampingi Sutiaji. Sementara tiga nama lain, yaitu Yaqud Ananda Gudban, Ahmad Wanedi, dan Syamsul Mahmud memang sudah tak asing dalam kancah politik Kota Malang. Ke tiganya merupakan kader dari partai Hanura, PDIP, dan PKS. Mereka pun memang baru pertama kalinya tercatat sebagai kontestan dalam pertarungan sengit Pilkada Kota Malang. 3. Dulu Berkoalisi, Sekarang Pecah Kongsi Selain jumlah kontestan yang mengerucut, jumlah dukungan yang diberikan kepada para pasangan calon pun mengalami perbedaan yang cukup jauh. Karena perubahan terlihat sangat jelas dalam Pilkada tahun ini. Partai yang sebelumnya berkoalisi, saat ini ditemui telah pecah kongsi. Di 2013, PDIP melenggang dengan percaya diri tanpa berkoalisi dengan partai lain. Namun di tahun ini, PDIP memilih bergabung dengan koalisi besar untuk mendukung pasangan Yaqud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi. Dalam koalisi besar tersebut juga diisi oleh Hanura, PAN, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai partai pengusung. Sementara Nasional Demokrat (NasDem) yang awalnya sebagai partai pengusung telah dicoret dan hanya dijadikan sebagai partai pendukung. [caption id="attachment_153095" align="aligncenter" width="1068"] Jumlah kursi parlemen di DPRD Kota Malang dalam rangka Pilwali Malang 2018 @ MalangTODAY.net[/caption] Berbeda dengan lima tahun sebelumnya, Golkar juga pecah kongsi dengan PAN. Tahun ini, Golkar memilih bergandeng tangan dengan Demokrat untuk mengusung Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko. Sedangkan PAN sendiri memilih bersatu dengan koalisi besar. Begitu juga dengan Demokrat yang sebelumnya satu kapal dengan Hanura dan PKS, tahun ini tak lagi bersama. Sementara PKB dan Gerindra, tahun ini tetap memilih bergandengan seperti yang dilakukan di lima tahun sebelumnya. Koalisi yang mengusung M. Anton dan Syamsul Mahmud ini juga mendapat suntikan dari PKS.