Teaching Journey
Perjalanan mengajar menurutku membutuhkan nafas yang panjang. Apalagi jika subjeknya adalah anak sekolah dasar. Kenapa? Karena setiap hari akan ada tingkah lucu nan menggemaskan yang mereka lakukan. Berkali-kali mengulang nasihat yang sama sudah seperti kaset rusak. Berkali-kali harus mengelus dada dan beristigfar karena tindakan berbahaya yang mereka lakukan.
Jujur saja, dulu aku pernah berpikir kalau salah jurusan. Kalian juga pasti pernah ngerasa dititik itu bukan? Nah, aku saat itu memilih melanjutkan hidup, berdoa agar dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantuku recreate my own journey. Menemukan tujuan hidup kembali setelah apa yang di lewati.
Maha baik Allah mempertemukan aku dengan mentor-mentor kehidupan yang membantuku untuk terus tumbuh. Hari ini aku mendapati kebahagian tidak harus selalu tentang pencapaian juara ini itu, di kenal banyak orang. Ternyata aku mendapati kedamaian dengan panggilan "selamat pagi ibu; ibu Umi; terimakasih ibu; ini buat ibu; ibu ternyata cara hormat yang benar seperti ini yaa?; ibuk mau cerita; ibu ini dan itu semacamnya."
Ternyata aku mendapati perjalanan mengajar ini adalah bagian dari mengisi dan berbagi energi. Murid-muridku yang membawa bekal dari rumah seperti luka, marah, kecewa, sedih, senang, bangga, dengan semua tas ransel perasaan, kesiapan belajar juga kondisi keluarga yang berbeda-beda membuatku belajar banyak hal.
Dalam perjalanannya memang tidak selalu mudah. Berkali kali menangis karena berbagai hal. Namun disatu kali waktu juga mereka memberikan penawarnya. Melihat gigi ompong mereka tertawa, pelukan anak perempuan yang butuh di dukung, hi-five anak laki laki yang di beri kepercayaan, kata semangat dan afirmasi positif agar mereka merasa di dukung.
Walaupun di lain kesempatan, anak-anak ngga selalu bisa ditanggapi dengan gentle parenting, belum lagi jika energiku sedang tidak fit. Melihat mereka me-roasting aku sebagai gurunya pun kadang bikin sebagian dari diriku tantrum. Tapi ya gitu, sebagai guru memang kita harus punya regulasi emosi yang baik. Anak-anak tidak butuh guru yang sempurna, mereka juga belajar bahwa guru bisa salah dan minta maaf. Bahwa guru juga membantu mereka untuk ikut serta dalam kebersihan sekolah, memberikan keteladanan berkata baik dan bersikap yang sopan. Dan yang paling penting tidak malu buat berkata "ibu belum tahu, kita cari sama sama jawabannya ya."
Pada akhirnya, aku menemukan kedamaian hidup dalam perjalanan mengajar. Aku sudah merasa cukup ketika bisa membantu anak-anak untuk tumbuh, menemani mereka belajar dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. Aku sudah cukup dengan membagikan api lilin yang ku punya untuk menghidupkan lilin-lilin mereka.
Pada akhirnya semuanya terjadi atas izin Allah. Doaku untuk mereka "yaa Allah, engkalau pemilik segala ilmu. Yaa Allah, mohon izinkan aku menjadi perpanjangan tanganmu untuk mengenlakan engkau kepada murid-muridku. Ya Allah, mohon berikanlah keberkahan ilmu, keberkahan hidup untuk kami. Bimbinglah anak-anakku menjadi anak shaleh-shaleha yang mengenalmu, menjalankan syariatmu dan menjadi rahmatan lil 'alamin. Yaa Allah, lancarkan lisanku untuk menyampaikan ilmu-Mu."
Terimakasih ya Allah, sudah mengajarkan aku rasa cukup. Barakallahu fiik.













