Cirebon Satu Malam, Oh Indahnya :Keraton Kanoman, Kasepuhan, Pantai Kejawanan, Alun-alun Cirebon
Trip ke Cirebon ini sebenarnya sudah hampir setahun yang lalu tepatnya 16 Agustus 2014. Ini bukan kali pertama sih ke Cirebon karena biasanya setiap mudik ke Semarang, saya dan keluarga yang hobinya menyisir Jalur Pantura, selalu jadiin Cirebon jadi tempat istirahat.
Saya dan Nimas, si teman kecil yang bersama menjelajah Bangkok-Thailand adalah oknum tersangat bersemangat mencari tempat-tempat mana yang akan kami plus dua teman lagi (Dinda & Reta) kunjungi. Sampai akhirnya Nimas menemukan referensi itinerary ini yang melancarkan segala perjalanan kami. Jauh-jauh hari, Nimas dan Dinda yang akan berangkat dari Jakarta, serta Saya dan Reta dari Bandung sudah pesan kereta PP dan juga hotel (sengaja pesan hotel karena besoknya kami semua akan ke nikahan Ixora).
Pada hari H, karena jadwal berangkat Jakarta-Cirebon dan Bandung-Cirebon yang berbeda, saya & Reta ga sempat ikut Nimas & Dinda berjalan-jalan ke Gua Sunyaragi (yang nampaknya keren dari foto-foto Nimas) dan ke Batik Trusmi. Sedih? IYA! Tapi apa boleh buat.
Nah, perjalanan saya dan Reta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Kejaksaan Cirebon super nyenengin karena naik ekretea eksekutif (-__-) dan karena naik kereta memang selalu membuat saya senang~~.
Kelas Eksekutif Ciremai Ekspress beybeh~
Perjalanan yang ditempuh adalah 4 jam 10 menit. Sesampainya di Kejaksaan, sekitar jam 2 siang, kami langsung menyerbu warung Nasi Kucing yang nampak di pelupuk mata dan saya sendiri lupa namanya. Lapar berat!
Ini, tambah lauk sate kentang dan usus plus teh manis kalau ga salah Rp 12 ribu.
Setelah kenyang, kami pun berjalan ke Hotel Slamet, si hotel murah, bersih, dengan pelayanan super oke yang cuma tinggal ngesot dari Stasiun Kejaksaan.
Tugu Kereta Stasiun Kejaksaan
Hotel Slamet yang ga sempat saya foto ini jaraknya super deket, mungkin 100 meter lah dari Gerbang Stasiun Kejaksaan. Saya sebelumnya sudah reservasi lewat telpon. Harganya terhitung murah dengan fasilitas dan kepuasan yang saya pribadi dapat. Kalau ga salah, kamar kami itu harganya Rp 140 ribu semalam, twin bed, kamar mandi air biasa, TV, AC, dan sarapan. Bisa lihat reviewnya di sini dan sini. Resepsionisnya juga siap siaga ngejelasin cara naik angkot ke tempat yang kami ingin tuju, Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan, plus ngebekelin kami selembar peta penunjuk arah. SUPER SEKALI!.
Cuma ini foto dari Slamet
Tujuan utama kami adalah Keraton Kanoman yang ke sananya saya pun lupa naik angkot apa. Pokoknya naik sekali saja dari depan Slamet, berhenti di sebuah pasar, kemudian kita jalan menyusuri pasar. Sebelum ke Kanoman, kami berjumpa dengan Vihara Pemancar Keselamatan.
Ga jauh dari sana, ada belokan ke kanan, nah itu dia jalan ke Kanoman. Awalnya kami ragu, kok ini harus lewatin pasar-pasar gini. Eh tapi ternyata benar, ga jauh dari pasar itu kelihatan bangunan khas keraton dengan dominasi warna putih.
Tampak depan Keraton Kanoman
Di sana ada satu ruangan yang ga terlalu besar yang menyimpan berbagai macam barang berharga dan bersejarah Keraton Kanoman. Masuk ke sana harus bayar kalau ga salah Rp 5000. Sayangnya ruangan dan barang-barangnya ga terawat.
Sultan Keraton Kanoman yang kini masih menjabat. Kirain sudah almarhum, ternyata kemarin acara dengan mantan tempat kerja dia eksis, ternyata!
Reunited. Saya, Nimas, Adinda, Reta.
Setelah dari ‘museum’ ini, kami disambut seorang bapak yang ternyata kuncen dari Keraton Kanoman. Kami pun diajak berkeliling dan diceritakan beberapa cerita seputar Kanoman.
Pendopo ini kata bapaknya masih sering digunakan untuk pertemuan
tampak dalam ruangan pendopo
Pak, ini apa? Oh ini biasanya digunakan untuk membaringkan jenazah (katanya dengan intonasi datar). Kami pun tercengang. Dikirain buat santai sekoynya sultan.
Ornamen keramik khas Belanda yang masih terjaga di beberapa tiang keraton.
Bapak, ayo kita wefie dulu! dan muka bapaknya flat -_-
Antusias mau dibawa ke sumur jodoh
Itu di pojok sana, kata bapaknya sumur jodoh, siapa yang cuci muka di sana katanya bisa enteng jodoh. Katanya. Hahahah
mmmh.. namanya juga usaha~
Berakhirlah petualangan kami di Kanoman.
Kalau sudah liat masjid warna merah, jalan sedikit lagi pasti nemu deh Keraton Kasepuhan. Kami memutuskan berjalan dari Kanoman untuk mencapai Kasepuhan. Lumayan jauh, sekitar 1-2 Km lah.
Karena sudah terlalu sore, sesampainya kami di Keraton Kasepuhan, ternyata sudah tutup. Tapi tetep aja ada pemandu wisata yang mau diajak nemenin kami ‘belajar’ sejarah di Kasepuhan.
Bale-bale di depan gerbang Keraton Kasepuhan
Bersama pemandu baik hati
Ini museum yang ada di dalam daerah Kasepuhan, tapi sudah tutup karena sudah sore banget. :(
Tampak depan setelah melewati gerbang
Aula Keraton Kasepuhan yang tidak boleh dimasuki pengunjung
kata pak pemandu, di balik pintu itu adalah kediaman para keluarga keraton
Bagian belakang Kasepuhan. Cocok buat syuting sinetron naga-naga adegan romantis antara kakang prabu dan kekasih nih!
Kenapa banyak batu karang? karena dulu Cirebon adalah laut yang kemudian airnya menyusut. Begitulah kata Pak Pemandu.
Selesai tur Keraton Kesepuhan, difotoin Pak Pemandu tapi miring
Ke Cirebon, yang notabene daerah pesisir laut, kayaknya belum gaol kalau kami ga berkunjung ke pantainya. Akhirnya berbekal tanya penduduk, kami pun berangkat naik angkot kalau ga salah M5 ke Pantai Kejawan. Tapi, eh tapi, ZONK! Hahahhahaha.. matahari hampir terbenam pas nyampai sana. Padahal kami jalan cukup jauh dari gerbang sampai menemukan daerah wisata pantai yang sudah mau ditutup karena sudah gelap dan air pasang. HAH! Gagal jadi anak pantai nih. Tapi ga apa, karena kami tetap bisa nikmati sunset.
Perahu-perahu nelayan yang lagi sandar, jumlahnya cukup banyak.
Semburat sunset yang apa adanya. Dari pada ga ada sama sekali.
Gadis-gadis yang ga mengeluh diajak jalan jauh walau hasilnya ZONK, malah ketawa-ketawa aja. Saking udah pasarahnya.
Pantai Kejawan airnya kotor dan pemandangannya begitu aja, ga paham deh orang ke sana buat apa. Saya yang ngidam pengen makan sari laut pun harus kecewa karena tidak ada warung atau jongko seafood di sana. HAHAHAHA.
Baiklah, cukup tau saja lah saya sama kamu, Pantai Kejawan, bye~~
Capek fisik dan capek hati di Kejawan, kami pun pulang ke Slamet. Eh tapi di Alun-alun lagi ada latihan buat acara 17 Agustusan besok. Kami pun memutuskan untuk jadi anak nongkron Alun-alun sambil ngecengin akang-akang seragam TNI yang main drum band dengan gagahnya. Ouwh~
Biar blur yang penting eksis
Setelah itu kami memutuskan untuk makan malam, sekalian menutup perjalanan kami seharian di Cirebon dengan Empal Gentong dan Nasi Lengko di dekat Stasiun.