Memasak: Sajikan Rasa yang Acak
Subuh, pasar, dapur, nasi, lauk, teh hangat, dan ibu. Selintas ingatku ‘bermain’ ke masa kecil, masih tentang perempuan dan ibu. Entah mengapa tak ada habisnya, menelisik mengenai itu. Dalam tubuh ibu nyatanya, masih saja ada benih-benih penyemangat untuk hidupku.
Mengabadikannya melalui apa yang aku tulis, kelak anakku akan bertanya “Nenek seperti apa, Bun? Apa seperti Bunda?” Kelak jika itu terlontar dari mulut kecilnya. Aku bisa menceritakan ibu, melalui apa yang aku tulis hari ini, besok, dan hari yang akan datang.
Sosok ibu lekat sekali dengan perkara memasak, baginya mengasihi keluarga dengan menghidang apa-apa yang ia racik. Ketika masih bersatatus siswa, aku selalu mendapati meja cokelat dan kursi panjang di dapur rumah. Penuh dengan kebisingan, antara aku yang harus sarapan, mbakyuku yang harus berangkat pagi-pagi, dan ayah segera bertani. Pagi selalu menawarkan aku sarapan, bahkan jika tak sempat aku hanya minum segelas susu atau teh buatan ayah. Kami tidak punya meja makan yang indah dan besar. Lebih dari itu, kami mempunyai pagi yang hangat dengan pembicaraan ringan. Namun, itu dulu kini ketika aku berstatus mahasiswa, hanya ada sarapan dari warung dekat kampus, kini mbakyuku memasak untuk keluarga kecilnya. Ayah dan ibu tetap tinggal di rumah dan sarapan berdua. Rindu.
Aku dan mbakyuku sama-sama bertumbuh, menjadi pribadi dewasa. Sedang ibu dan ayah kian menua, ketika aku pulang ibu tak selihai memasak seperti kala itu. Masaknya lebih sederhana. Cintanya kepada kami masih tetap, kebiasaan minum teh di pagi hari masih ada.
Memasak bagi perempuan, bukalah salah satu syarat untuk dinikahi oleh lelakainya. Rasullah SAW pun, tak meriwayatkan seperti itu. Namun, perempuan seharusnya bisa memasak, bisa bukan berarti mahir. Racikan bumbu, potongan sayur, dan kaldu bentuk cintanya terhadap keluarga. Ada rasa-rasa yang tak bisa diungkapan oleh tulisan dan lisan. Maka, cinta perempuan bisa berwujud masakan. Dalam masakan juga ada rapalan doa yang dipersembahkan untuk keluarga.
Suatu ketika temanku berujar “Setiap perempuan tidak diwajibkan bisa memasak, tetapi setiap perempuan harus bisa memberi yang terbaik bagi lelakinya. Jika lelakinya bahagia dengan istrinya bisa memasak maka, perempuan harus belajar memasak”
Ya, mencintai sesuatu harus secara utuh dan meluruh. Sama seperti dalam film Athira garapan Riri Reza, yang menceritakan ibunda Jusuf Kalla. Sajian masakan selalu dihadirkan di ruang makan bermeja bundar dan kursi cokelat. Sama seperti ibuku, Athira menghadirkan masakan rumah yang sederhana dan kehangatan. Sekalipun, penghinatan dalam rumah tangga dialaminya, dapur rumah Athira tetap mengepul, tetap memberikan cinta secara utuh. Tetap makan bersama anak-anak dan suaminya, yang nyata-nyatanya memilih berpindah rumah dan menikah lagi. Cinta perempuan nyatanya dapat sepelik itu. Memasak bukan perkara menghilangkan lapar di perut saja. Lebih dari itu, ada rasa yang acak dihadirkan dari sepiring masakan terhidang doa, rindu, dan cinta.
Fitria R Zain | 10 Februari 2019