É isso. Está na hora de fazer deste mundo um lugar mais bacana, não? E das nossas vidas, uma viagem emocionante. A vocês todos que nos acompanham, obrigada pela força e pelo estímulo. Com carinho,
Adriana Franca
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Hong Kong SAR China
seen from China

seen from Türkiye

seen from Sri Lanka
seen from China
seen from Türkiye
seen from Singapore
seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from China

seen from Canada
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from China

seen from China
É isso. Está na hora de fazer deste mundo um lugar mais bacana, não? E das nossas vidas, uma viagem emocionante. A vocês todos que nos acompanham, obrigada pela força e pelo estímulo. Com carinho,
Adriana Franca
Natalan yang Teduh diantara Buddha dan Islam di Lereng Merbabu
UNGARAN (JATENG) - Di bawah guyuran hujan yang lembut, puluhan warga Dusun Thekelan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang bergerak menuruni tangga Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI) yang terletak di sebuah tebing. Ini adalah kebaktian Natal yang kedua, karena sebelum tanggal 25 Desember 2011, Natal telah dirayakan di salah satu rumah jemaat. Di persimpangan jalan, Lestari (35) melambaikan tangan kepada jemaat lain menandakan ia harus berbelok ke arah yang tidak sama dengan rombongan jemaat. “Sebenarnya sore ini hanya ibadah biasa, meskipun masih dalam suasana Natal, karena kemarin sudah dirayakan di rumah Pak Wuwuh sekaligus sebagai syukuran atas kelahiran anaknya,” kata Lestari. Lestari lalu menggambarkan suasana perayaan Natal yang meriah, dan tidak hanya dihadiri jemaat GPDI, namun juga seluruh warga dusun. “Warga di sini sudah biasa saling tolong dan menghormati, meski berbeda keyakinan, karena dari dulu sudah seperti itu dan tidak ada yang harus dipermasalahkan,” ia melanjutkan. Perayaan Natal di rumah Pak Wuwuh lebih menyerupai sebuah perhelatan desa, karena nyaris seluruh warga mengambil bagian untuk membantu. Mulai dari menyiapkan tenda, memasak makanan, hingga menjadi petugas penyambut tamu dilakukan para tetangga yang tidak semuanya beragama Kristen. “Kalau ibadah ya tetap dilakukan umat Kristen, tapi saat ibadah selesai perayaan Natal itu juga dinikmati bersama-sama seluruh warga dusun,” kata Pendeta Petrus Sukirman (56). Di tengah keberagaman keyakinan yang ada, Pendeta Petrus Sukirman mengaku bahwa pertumbuhan jemaat semata-mata karena kasih karunia Tuhan. “Saya melayani di sini sejak 1975 dan selama ini tidak pernah ada pertikaian atau permusuhan apa pun dengan tema agama karena bagi kami karakter Kristus-lah yang harus nyata dalam kehidupan,” katanya. Dusun Thekelan berada di lereng utara Gunung Merbabu dengan ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Dengan 175 keluarga, warga dusun ini terbagi dalam tiga keyakinan yang berbeda, yakni Buddha, Islam, dan Kristen. Mayoritas penduduknya adalah buddhis, selebihnya umat muslim dan kristiani. Tiga tempat ibadah juga berdiri di dusun ini dan semuanya dibangun secara gotong royong tanpa membedakan kepentingan agama masing-masing. “Saya ingat dulu saat saya masih remaja, seluruh warga membangun fondasi masjid dengan cara manual. Karena kondisi desa yang terjal, sebagian warga mengaduk pasir dan semen di ujung jalan, lalu ember adukan itu dikirim estafet. Semuanya bekerja, lelaki maupun perempuan, Islam maupun tidak Islam,” kata Parlan (36), Kepala Dusun Thekelan. Perlakuan yang sama berlaku saat Wihara Buddha Bhumika membutuhkan perbaikan gedung. Demikian juga saat jemaat GPDI membutuhkan bantuan dana untuk melengkapi peralatan ibadah. “Tahun 2006 jemaat gereja ingin membeli keyboard untuk mengiringi ibadahnya. Karena jemaat di sini semuanya bermata pencaharian sebagai petani yang sederhana maka harga keyboard itu terasa mahal,” kata Parlan. Lewat inisiatif jemaat, mereka berusaha mengumpulkan tambahan uang dengan cara ngareng atau membuat arang secara tradisional. Hal ini pun melibatkan seluruh warga dusun karena proses ngareng dilakukan di dalam hutan Gunung Merbabu yang mereka tempuh sepanjang 3 kilometer atau dua jam berjalan kaki. “Dari pra sampai pascaproduksi arang, kami lakukan bersama. Termasuk menjaga nyala api dan memadamkannya dengan tertib agar tidak sampai membakar hutan dilakukan dengan cermat oleh seluruh warga dusun,” tutur Parlan. Tatanan sosial yang harmonis ini dipelihara secara turun-temurun, sehingga perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang dalam interaksi seluruh penduduknya. “Saat ada warga yang berganti agama, kami juga tidak pernah menganggap sebagai ancaman yang serius, karena itu hak paling hakiki dalam kehidupan manusia,” ujar Parlan. Ketenteraman dusun menjadi prioritas utama dalam komunitas ini, pasalnya tradisi yang dibangun para leluhur mengajarkan penduduknya untuk saling menghormati sesama manusia. Nilai-nilai kebersamaan dibangun di atas rasa kemanusiaan tertinggi yakni toleransi dan bukan penajaman perbedaan yang menghancurkan persaudaraan. (Sinar Harapan)
dari www.kabargereja.tk
Tiga Jemaat Huria Kristen Indonesia Protestan (HKIP) di Siantar Rayakan Natal Bersama
PEMATANGSIANTAR (SUMUT) - Tiga jemaat dari Huria Kristen Indonesia Protestan (HKIP) Resor Siantar Dua, yaitu HKIP Sion Simpang Dua, Pardamean Silakidir Tanah Jawa, dan HKIP Jetun Muara Mulia merayakan Natal bersama. Tema natal ”Maka Anak-anakku, Tinggalah di dalam Kristus” 1 Johanes 2:28 yang diterjemahkan juga dalam bahasa Batak. Pendeta Resort Siantar Dua, Pdt PM Simangunsong mengatakan, perayaan Natal bersama ini diharapkan menjadikan jemaat semakin mengenal lebih dekat satu dengan yang lain. “Perayaan Natal se Resort Siantar Dua bertujuan mempererat kekeluargaan sesama jemaat. Dengan perayaan Natal ini jemaat akan semangkin dikuatkan dalam iman,” kata Pdt PM Simangunsong Senin (26/12/2011) Gereja HKIP Sion Simpang Dua Jalan sisingamangaraja Siantar. Dalam kotbahnya Pdt PM Simangunsong mengatakan, “Umat Allah di dalam Kristus tetaplah hidup dengan sukacita, dan berbagi kasih untuk merayakan kelahirannya. Dengan berbagi pada saat Natal Tuhan akan senantiasa diantara kita. Kita harus ingat tidak ada yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui kristus, Kristus adalah wujud anak Allah sesungguhnya. Karenanya untuk memberikan kasihnya yang nyata kita harus berbagi bersama yang lain. Demikian perayaan Natal bersama ini kita lakukan, agar sesame jemaat HKIP dapat saling berbagi sukacita saat ini,” kata Pdt Simagunsong berbahasa Batak. (Metro Siantar)
dari www.kabargereja.tk
Perayaan Natal di Sendang Waringin Ala Petani di Lereng Gunung Merapi
MAGELANG (JATENG) - besar umat Kristiani biasanya merayakan Hari Raya Natal di gereja. Namun para petani di lereng Gunung Merapi merayakan Natal secara berbeda. Mereka 'natalan' di Sendang Waringin, di dekat Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Prosesi natalan juga tidak seperti lazimnya. Anggota jemaat Gereja Paroki Santa Maria Lourdes, Desa Sumber, Kecamatan Dukun itu menggelar upacara dengan menggunakan bahasa Jawa. Pun demikian dengan pakaian yang mereka kenakan. Para petani ini memakai caping bambu dengan baju lurik untuk pria dan kebaya untuk wanita. Tak hanya jemaat, romo, dan para mudika juga menggunakan pakaian khas petani. Dekorasi panggung memanfaatkan rerumputan yang banyak tumbuh di lereng gunung. Sementara untuk penghias digunakan batang pohon padi kering. Alat-alat pertanian seperti cangkul, angkong, garu, dan hewan ternak bahkan ikut dibawa dalam prosesi natal ala desa ini. Prosesi natal diawali di Sendang Waringin yang dikenal warga sebagai tempat yang wingit atau sakral. Kepala Paroki St Maria Lourdes, Romo Alusius Gonzaga Luhur Pribadi dan Romo Yohanes Maryono memberkati mata air jernih tersebut. Prosesi natal berlangsung hikmad. Hujan deras tidak sedikit pun mengganggu perayaan natal. Selanjutnya, air yang sudah diberkati itu dimasukkan gentong tanah liat dan dibawa ke lokasi pelaksanaan Misa Natal. Air tersebut digunakan untuk memberkati alat-alat pertanian yang biasa digunakan warga untuk mengolah lahan pertanian. Mayoritas warga Merapi memang berprofesi sebagai petani. Setelah itu, Romo Alusius Gonzaga Luhur Pribadi dan Romo Yohanes Maryono memberkati hewan-hewan ternak. Lewat pemberkatan ini diharapkan, produksi pertanian seperti sayur mayur akan meningkat dan hewan ternak akan beranak pinak. Sejumlah jamaat juga mendapatkan percikan air berkah dari sendang yang ditemukan pada tahun 1970-an itu. ”Manusia diberi air oleh Allah untuk kehidupan, maka sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjaga kelesatarian air ini. Kita tahu sendang ini memberikan kehidupan bagi semua makhluk hidup,” ujar Romo Alusius Gonzaga Luhur Pribadi. Menurut Romo Alusius Gonzaga Luhur Prihadi air adalah sumber kehidupan terpenting bagi seorang petani dan bahkan alam semesta. Tanpa adanya air, petani tidak akan bisa menggarap lahannya sehingga mereka akan hidup sengsara. Karena itu, kata dia, perayaan natal 2011 ini memilih tema "Suket Godong, Kayu, Kruma Dadi Bolo." Tema ini mengandung arti rumput, daun, kayu dan segala penyakit yang ada di dalamnya bisa menjadi teman. (Suara Merdeka)
dari www.kabargereja.tk
53 Gereja se-Kota Singkawang Rayakan Natal Oikumene
SINGKAWANG (KALBAR) - Pengurus 53 gereja se-Kota Singkawang menghadiri Natal Oikumene yang diselenggarakan Badan Pelayanan Natal Oikumene Singkawang (BPOS) diGedung Sun Moon, Jalan Kalimantan, kemarin malam (28/12/2011). Perayaan Natal Oikumene tersebut mengambil tema “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar (Yesaya 9:1A),”. Pembacaan Alkitab secara bergantian dibacakan oleh Pastor Amandus Ambot, Evangelis Edi Tadius, ST GA. Purba, Pendeta Vina, dan PendetaGI Otniel. Renungan Natal disampaikan oleh Pendeta Sangkot Sibarani. Walikota Singkawang, Hasan Karman dalam kesempatan itu mengatakan, makna Natal yang diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus datang ke dunia sebagai juru selamat, patut diteladani umat kristiani. “Dua sisi dari makna perayaan Natal, sebagai seorang kristiani, mempercayai tri tunggal. Kedatangan Yesus sebagai juru selamat untuk menebus dosa manusia, dan memaknai Natal, dari sisi social kemasyarakatan, umat kristiani menjadi saksi kehadiran yang membawa cinta damai,” kata Hasan Karman. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Singkawang, Jawani dalam kesempatan yang sama, mengajak umat kristiani untuk bebuat baik kepada sesama. Saling menjaga Kerukunan demi keharmonisan mayarakat Kota Singkawang dan Kalimantan Barat. Hadir juga dalam kegiatan tersebut, Ketua LPPD, Ahyadi, Ketua PIKI, Martinus Missa, Wakil Ketua FKUB, Matheus Mao, Tokoh Masyarakat, Aloysius Kilin dan Sumberanto Tjitra. (Pontianak Post)
dari www.kabargereja.tk
Perayaan Natal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Balikpapan
BALIKPAPAN (KALTIM) - Perayaan Natal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Balikpapan pada Sabtu (24/12/2011), berlangsung secara sederhana namun penuh hikmad. Tidak seperti hari hari biasanya, ribuan jemaat yang penuh sukacita memadati gedung gereja tersebut hingga jemaat yang tidak tertampung mengikuti jalannya ibadah melalui TV Monitor yang disediakan di tenda-tenda yang sudah dibuat sebelumnya. Ibadah Natal yang mengambil tema "Bangsa yang Berjalan di Dalam Kegelapan Telah Melihat Terang yang Besar" (Yesaya 9:1a) ini dipimpin oleh Pdt Midian KH Sirait, MTh. Pada khotbahnya Pdt Midan menegaskan, Tuhan kita yang hadir sebagai Immanuel adalah Tuhan yang hidup yang memberkati dan mengampuni manusia. "Dengan nama itu Tuhan tidak pernah berhenti memperhatikan, memberkati setiap insan manusia walau sering melakukan dosa, namun Tuhan mau mengampuni" ujar Pdt Midian. Sebagai Pimpinan Jemaat HKBP Balikpapan yang juga sebagai Ketua Badan Kerjasama Gereja Balikpapan (BKSGB), Pdt Midian Sirait menyampaikan terima kasih kepada Walikota Balikpapan H Rizal Effendi,SE beserta unsur jajaran Muspida yang turut hadir disambut meriah oleh warga jemaat. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama sejak HKBP Balikpapan berdiri sejak 35 tahun yang lalu. Ini prestasi luar biasa karena jemaat HKBP yang memiliki lebih dari 3000 warga jemaat, tetap menjaga kondusif Kota Balikpapan dan senantiasa memberi perhatiannya kepada perkembangan kota. Wujudkan Natal dalam kerukunan beragama Dihadapan Muspida, Pdt Midan menyatakan gaung Jubileum 150 Tahun HKBP di Regio Kalimantan Borneo, haruslah membuat warga HKBP semakin giat berkontribusi dalam berbagai hal, termasuk dalam kerukunan hidup beragama. "Hingga jati diri HKBP di bumi minyak itu harus benar-benar menjadi warga yang bekerja keras, rajin dan tekun berdoa." kata Pendeta Midian yang disambut tepuk tangan meriah dari jemaat. "Natal dalam merayakan kasih Yesus dalam mewujudkan kepedulian dengan orang lain. Kita ingin berbagi dengan sesama. Kita harus mewujudkan kasih, Hidup bertetangga dengan rukun harus diciptakan di mana kita berada sebagai warga masyarakat". Dan lanjutnya, "Sebagai warga beriman, harus saling mengasihi dan memberi uluran tangan kepada yang kurang mampu. Itulah makna Natal dan kasih yang disampaikan lewat kelahiran Yesus," tandas Pdt Midian Sirait. (Tim PPGI)
dari www.kabargereja.tk
Warga Desa di Bavaria, Jerman Bangun Gedung Gereja dari Salju
MITTERFIRMIANSREUT (JERMAN) - Sebuah gereja yang seluruhnya terbuat dari es dan salju dibuka di Bavaria, satu abad setelah warga desa itu pertama kali membangun sebuah gereja salju dalam sebuah aksi protes. Gereja yang terletak di Mitterfirmiansreut, Jerman Selatan di dekat perbatasan Ceko itu memiliki panjang 20 meter dan memiliki sebuah candi. Gereja itu terbuat dari 1.400 kubik meter salju. Gereja itu dibalut sinar biru ketika dibuka pada Rabu (28/12/2011) sore dan diberkat Kajetan Steinbeisser. Sementara para nenek moyang warga desa yang sekarang ini membangun gereja salju untuk pertama kali pada 1911, mereka tidak hanya berpikir soal capaian arsitektur. Steinbeisser mengatakan, "Apa yang mereka lakukan ketika itu adalah sebuah aksi provokasi, umat dari desa ini bersatu padu dan membangun sebuah gereja salju karena mereka tidak memiliki gereja di sini." (Suara Pembaruan)
dari www.kabargereja.tk
Berbagai Tradisi Semarakkan Natal di Penjuru Nusantara
JAKARTA - Berbagai kegiatan disiapkan menyambut Natal. Hal itu tampak di sejumlah daerah. Mulai dari Santa Claus berjalan dan lomba menghias gunung di Papua hingga menyiapkan pakaian adat Betawi lengkap dengan peci hitam serta pakai sarung yang dilakukan jemaat Gereja Kristen Pasundan di Kampung Sawah, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondokmelati Kota Bekasi. Suasana di Jayapura mulai “mengental” memasuki Desember 2011. Ibu Kota Provinsi Papua itu kian semarak memasuki 5 Desember. Tanggal itu dipercaya sebagai hari Santa Claus. Para remaja yang berperan sebagai Santa Claus dan Mr Piet Hitam mulai menyambangi rumah dengan membawa kado Natal dan makanan kecil. Mereka berkonvoi di jalan raya dengan pengawalan polisi lalu lintas. Dalam sehari bisa lima mobil Santa Claus hilir mudik di jalan. Namun, sebenarnya suasana Natal sudah terlihat sejak memasuki pekan terakhir November 2011 dengan munculnya ornamen Natal di mal-mal dan lagu-lagu bernuansa Natal ramai diputar. Tidak hanya itu, sepanjang jalan muncul para pedagang musiman yang menjual pohon dan lampu natal plus kembang api dan petasan. Hampir tiap malam Kota Jayapura dibisingi bunyi ledakan petasan, meriam bambu, dan nyala kembang api. Walau bunyi ini terasa mengganggu, tidak ada warga protes bahkan ada yang nyeletuk “Ah trapapa tho (tidak apa-apa, red) setahun sekali hari Natal dan mau sambut tahun baru,” kata seorang warga. Tradisi unik lainnya dan yang membuat suasana Natal sangat terasa di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini yakni lomba menghias gunung dan kandang natal yang rutin digelar setiap tahun. Sepanjang jalan dan pegunungan mulai dari Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, kandang natal dengan sentuhan khas rumah adat Papua yang beratap rumbia. Bila malam tiba gunung-gunung diwarnai dengan hiasan lampu Natal disertai lagu-lagu natal dari kandang natal, mulai dari bertema Getsemani, Bethlehem, dan Yerikho. Di dalam kandang natal ukuran besar ini para pemuda gereja selalu bergantian mendapat tugas jaga. Bila di daerah Jawa ada tradisi mudik dengan lewat jalur darat, di Papua tradisi mudik lewat jalur laut dan udara. Tradisi mudik ini sering dilakukan oleh mahasiswa dari Biak, Serui, Manokwari, Sorong, Merauke, Nabire dan Timika, yang mengambil studi di Jayapura. Momen Natal ini juga dimanfaatkan oleh para pejabat Papua untuk pulang ke kampung halaman. Pakai Peci dan Sarung Lain di Papua, lain pula di Bekasi. Jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Kampung Sawah, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi menyambut Natal dengan menyiapkan pakaian adat Betawi lengkap dengan peci hitam serta sarung. Mereka akan mengenakan pakaian adat Betawi itu untuk menghadiri perayaan Natal pada Minggu (25/12/2011). Maklum saja, jemaat GKP sebagian besar adalah warga Betawi yang memang memeluk agama Kristen. Ketika SH menyambangi GKP, tidak ada hiasan atau dekorasi yang luar biasa dilakukan menyambut Natal tahun ini. Mereka hanya membuat kandang natal, pertanda kesederhanaan lahirnya Sang Juru Selamat Manusia, Yesus Kristus. Lainnya pohon natal yang dihiasi lampu-lampu gemerlap. Panitia juga menyulap pos yang ada di depan gereja menjadi sebuah palungan besar. GKP berdampingan dengan Masjid Fisabilliah, sebuah masjid terbesar dan tertua di Kampung Sawah dan tidak jauh dari Gereja Katolik Santo Servetius. Reddy Modo, koordinator panitia Natal GKP, mengakui pihaknya juga akan menyajikan drama natal seperti dilakukan setiap tahun. Tetapi, semuanya dalam kesederhanaan. Sementara itu, di Gereja Katolik Santo Servetius, yang lokasinya berada di tengah perkampungan masyarakat tersebut, saat itu juga belum terlihat banyak persiapan menyambut Natal. Tetapi, salah seorang panitia Natal, Aloysius Eko Praptono yang dihubungi mengatakan, di gereja terbesar di Kampung Sawah itu, pihaknya juga sedang mempersiapkan acara misa pada malam Natal. Di Ibu Kota Jakarta, kesederhanaan perayaan Natal mulai terlihat. Sebut saja di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Resort Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ketua Panitia Natal Pemuda GKPS Resort Cempaka Putih, Jaya Sumbayak mengatakan, pihaknya hanya menyelenggarakan perayaan Natal pada Senin (26/12/2011). "Perayaan Natal kami sederhana, tidak ada perayaan besar yang terlalu mewah dan merepotkan. Dekorasi ruangan, panggung, dan sebagainya masih sederhana saja. Perbedaannya hanya terdapat pada susunan acara ibadahnya," ucap Jaya. Baginya, esensi Natal yang terpenting memang terletak pada kesederhanaan dan bukan pesta yang berlebihan. Karena itu ia mengaku persiapan yang mereka lakukan cukup sederhana. Para perantau di Jakarta pun tidak mau ketinggalan untuk merayakan Natal. Salah satunya dilakukan komunitas Parnados, komunitas masyarakat perantau dari Dolok Sanggul dan sekitarnya yang bermukim di Jabodetabek. Mereka tidak berkesempatan merayakan Natal di kampung halaman. Karena itu, komunitas Parnados menjadi wadah bersama untuk merayakan hari lahir Sang Juru Selamat. Menurut Ketua Parnados, Andris Simanullang, Natal tahun ini akan disemarakkan dengan penampilan Kor Ama HKBP Sileang dari Kabupaten Humbang Hasundutan yang berhasil menjadi finalis festival kor tingkat nasional Perayaan Jubileum 150 tahun HKBP. (Sinar Harapan)
dari www.kabargereja.tk