Second Weekend Escape: Croatia
It’s been years since my first post of Europe Trip 😂. However, I still want to share all the experiences here. Sebenernya aku udah nulis semuanya dalam bentuk file word. Takut keburu lupa juga kan. Kalau udah jadi baru aku posting di sini. Gitu 😀. And here it is 😃
Waktu itu sudah menginjak weekend kedua di hari magang di Slovenia 😃. Kali ini kami pilih Kroasia untuk dikunjungi. Selain karena dekat dengan Slovenia, kami punya teman SEP yang asalnya dari Zagreb, Kroasia. Jadi sebelum kami memutuskan ke Kroasia, kami menghubungi teman SEP kami bernama Mateja Mervic bahwa kami berencana ke Zagreb pada weekend ini dan ya kami juga bermaksud untuk menginap 1 malam di tempat Mateja. Tentu saja jika dia tidak keberatan. Ternyata dia malah sangat welcome 😊. Sebenarnya kami belum pernah bertemu sebelumnya. Selama ini kami cuna komunikasi lewat facebook di mana seluruh peserta SEP dikumpulkan dalam 1 grup facebook untuk mempermudah koordinasi. Walaupun belum kenal, kami cukup percaya dengannya karena bagaimanapun dia juga peserta SEP yang nantinya kami akan bertemu juga saat pergantian kloter SEP Slovenia.
Di Croatia, kami mengunjungi 3 kota: Zagreb, Zadar, dan Pula. Dari Ljubljana ke ibukota Kroasia: Zagreb bisa ditempuh dengan bis selama kurang lebih 2,5 jam. Biayanya juga tidak terlalu mahal: 12 €/orang sekali jalan. Hari Jumat sepulang dari lab masing-masing, sekitar jam 18.45 kami berangkat. Sebelum berangkat ke Zagreb dengan bus kami menukar uang dulu. Mata uang yang dipakai di Kroasia adalah Kuna Kroasia (kn). Kami masing-masing menukarkan $100 dan mendapat 500 kn. Hampir memasuki kota Zagreb kami melewati pemeriksaan di perbatasan antara Slovenia dan Kroasia. Beberapa hari sebelumnya sewaktu ketemu dengan sesama orang Indonesia di Ljubljana dia bercerita sewaktu masuk perbatasan akan agak sulit untuk orang-orang Asia. Tetap bisa masuk sih, cuma bakal ditanya-tanya lebih banyak aja, dicurigai macam-macam. Ternyata sewaktu di perbatasan kemarin nggak ada pertanyaan apa-apa, cuma pengecekan paspor tapi tanpa cap paspor. Padahal rencananya mau menuhin paspor pakai cap. Ahahaha. Sewaktu pengecekan paspor pun sebelumnya dikumpulkan seluruh paspor milik penumpang oleh driver busnya. Jadi saat turun dari bus satu persatu dipanggil sambil mengambil paspornya. Setelah mengambil paspor kami menunggu di sisi Kroasia ((sisi Kroasia)) sambil menunggu yang lain kemudian bus akan membawa kami lagi sampai masuk ke kota Zagreb. Bus berhenti di terminal bus di Zagreb bernama Autobusni Kolodvor Zagreb sekitar pukul 21.00.
Perbatasan Slovenia – Kroasia dengan jalur bus
Sampai Zagreb hari sudah gelap, tapi Mateja juga sudah siap untuk menyambut kami. Setelah turun dari bus dan janjian bertemu di salah satu shelter bus, akhirnya kami bertemu Mateja. Yeaay. Mateja orangnya sangat ramah, baik dan welcome. Dan yang penting, bahasa Inggris nya lancar banget. Aku kalah, jauh. Selama 2 jam ke depan sekitar sampai jam 23.00 kami diajak keliling kota Zagreb di malam hari sambil di-guide-in sama Mateja, dengan lancarnya dia menjelaskan tempat-tempat yang kami kunjungi dengan sedikit sejarahnya. Mateja keliatan sekali sangat mengenal kota tempat dia tinggal ini. Mulai dari city center sampai ke museum-museumnya. Sayangnya hari sudah malam jadi museumnya sudah tutup dan kita udah engga bisa masuk untuk lihat-lihat. Cukup lihat dari luar saja dulu. Hehe.
Mateja, Lia and me were in city centre of Zagreb
One of the museum in Zagreb. It’s already closed 🙁
It’s The Zagreb Cathedral. We will visit it again in the morning 😃
Tidak berlama-lama karena hari sudah larut waktunya untuk beristirahat. Malam itu aku dan Lia tidur di apartemen Mateja. Mateja tinggal bersama ibunya di satu apartemen. Tidak jauh dari situ ada apartemen lain miliknya juga, di situlah kami akan istirahat malam itu. Sebelumnya kami diajak dulu ke apartemen tempat tinggalnya untuk bertemu dengan ibu Mateja dan makan malam bersama. Kemudian kami diantar ke apartemen lainnya oleh Mateja dengan berjalan kaki karena memang tidak jauh dari situ.
Besok paginya kami dijemput Mateja di apartemen kemudian diajak jalan-jalan di kota Zagreb dengan naik tram. Kota Zagreb kota yang tidak terlalu besar. Tapi bersih dan nyaman. Ada mobil tapi sedikit, orang-orang biasanya jalan kaki atau kalau menggunakan transportasi naiknya bus atau tram. Seperti di Ljubljana yah, kota kecil jadi untuk keliling kota cukup dengan jalan kaki, naik city bus atau tram. Pagi itu kami pergi gereja-gereja. Ada St. Mark’s Church dan Zagreb Cathedral. Kemudian main ke city center lagi untuk membeli beberapa souvenir. Sampai di city center ini kami berpisah dengan Mateja karena kami mau melanjutkan trip ke Plitvička Jezera 😃.
At St. Mark’s Church with Mateja
In front of Zagreb Cathedral with Mateja and Lia
Dari Zagreb ke Plitvička Jezera kami menggunakan bus. Harga tiket nya 93 kn/orang. Perjalanan dari Zagreb ke Plitvicka Jazera memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Sampai di Plitvička Jezera kami membeli tiket untuk masuk ke area wisatanya. Plitvička Jezera ini merupakan taman nasional sehingga dapat disebut juga Plitvice Lake National Park. Tiket masuk ke area wisata 110 kn/orang untuk satu hari. Umumnya untuk keliling di area wisata membutuhkan waktu 4-5 jam. Daya Tarik utama dari Plitvička Jezera adalah air terjunnya dan suasana alam yang hijau dengan air berwarna toska kebiruan yang jernihhh sekali J. Setelah membeli tiket kami masih harus naik kapal untuk menyeberang danau hingga sampai ke tujuan wisata yang sebenarnya.
Saat menyeberang danau untuk ke Plitvička Jezera. Terlihat orang-orang pada antri untuk naik kapal. Hari itu pengunjung memang cukup ramai.
Jalan di Plitvička Jezera sudah disusun dengan jembatan kayu seperti ini. Jadi pengunjung bisa menikmati pemandangan dengan aman dan nyaman.
Airnya jernih dan banyak ikan-ikan di sepanjang jembatan kayunya
Salah satu air terjun di Plitvička Jezera. Pardon my face 😂
Kalo gini tuh bawaannya pingin nyebur. Hahaha
Next, the second city we’ll visit in Croatia is Zadar. Dari ketiga kota yang kami kunjungi, aku paling penasaran sama Zadar ini. Kota Zadar terletak di pinggir pantai dengan bangunan-bangunan khas Roma berwarna putih. Udah kebayang suasananya kaya gimana. Selain itu, some people says, “Sunset in Zadar must be the most beautiful sunset in the world!" Well, let’s go there and see then 😃. Sebelumnya kami sudah membeli tiket bus ke Zadar dari Plitvice Lake saat membeli tiket wisata Plitvice Lake karena takutnya tiket bus habis kalau kami membelinya setelah selesai dari Plitvice Lake. Harga tiket bus dari Plitvice Lake ke Zadar 100 kn/orang dengan lama perjalanan sekitar 1 jam 45 menit.
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, sampai juga kami di Zadar. Kira-kira sudah pukul 7 p.m. waktu setempat. Walaupun sudah jam 7 malam tapi di Zadar masih terang. Sama seperti umumnya negara di Eropa, hari mulai gelap sekitar jam 9 p.m. Jadi kami masih belum terlewat sunsetnya. Yeay! Perjalanan di Zadar kami awali dengan keliling dan menikmati suasana kotanya. Zadar in kota yang kecil. Seperti yang udah sedikit kuceritain tadi bangunan-bangunan kota banyak dari bebatuan berwarna putih-krem terang. Jalan-jalan antar bangunan terbuat dari susunan batu-batu yang mengkilat dan tidak terlalu lebar. Tidak ada mobil, orang-orang biasa berjalan kaki atau naik sepeda. Oh ya, dari tadi sepertinya aku melewatkan cerita tentang makan ya. Hahaha. Beberapa waktu berjalan-jalan, rasanya mulai lapar juga. Kami membeli masing-masing sepotong pizza untuk kami bawa dan makan sambil melanjutkan menikmati kota. Berjalan semakin mendekati pantai, bangunan-bangunan mulai tidak terlalu tinggi dan jarang. Ada St. Donatus church di sana. Gereja cukup unik karena bangunannya khas daerah Zadar sini.
Hari mulai redup, kami semakin mendekati pantai. Makin sedikit bangunannya dan mulai banyak orang berjualan souvenir. Ah iya, karena Zadar ini letaknya di pinggir pantai banyak juga kapal-kapal berlalu lalang dan berlabuh. Jadi bikin suasananya makin syahdu. Ehehe. Sekitar jam 8.30 p.m. corak warna jingga mulai nampak di batas garis laut dan langit. Sunset of Zadar has come. 🙂
Menunggu sunset di pinggiran pantai di Zadar dari matahari masih di atas
Banyak yang nonton sunset sama pasangannya di sana. Romantis yaa. Hahaha 😃
Well, di pinggiran pantai di Zadar ini ada beberapa daya tarik yang lain selain sunsetnya. Antara lain Sea Organ dan Monument to the Sun. Kenapa Sea Organ? Jadi di pinggir pantai yang anginnya tentu cukup kencang ini suka ada suara-suara seperti melodi. Seolah-olah laut sedang bermain organ. It’s like a beautiful music with the help of Mother Nature. Tsaaah. Hehehe. Tapi ini beneran. Waktu ada angin bertiup memang bunyi-bunyian itu muncul. Kok bisa ya ada suara melodi begitu di pinggir pantai kalau angin sedang kencang? Pinggir pantai di Zadar ini (Sea Organ) tersusun seperti tangga yang lama-lama menjorok ke lautan. Nah, di tangga-tangga ini terdapat lubang-lubang kecil di mana angin bisa melewati lubang-lubang itu dan terbentuklah bunyi-bunyian seperti melodi. 🙂
Coba lihat anak tangga yang paling atas ada lubang-lubangnya. Dari situlah bisa muncul bunyi-bunyian seperti melodi sehingga tempat ini disebut Sea Organ.
Monument of the Sun. Sayang lampunya lagi engga nyala. 🙁
Next, kota ketiga yang kami kunjungi adalah Pula. Dari Zadar kami naik bus malam menuju Pula dengan tiket 300 kn / orang. Jadi kami bermalam lagi di bus menuju Pula (irit biaya hotel – hahaha). Di Pula kami “cuma” mau lihat Pula Arena sih sebenernya. Pula Arena atau Amphitheatre itu bangunan Roma yang biasanya untuk gladiator jaman dulu bertanding itu. Seperti yang di Italia. Berhubung kami engga ada planning ke Italia, boleh lah lihat versi kecilnya di Pula ini. Hehehe.
At Pula Amphitheatre, Croatia
So that was our last destination during in Croatia this weekend 😃 Next week we’ll have another trip of course, so see ya on the next post 😆